KEBERADAAN Masjid Baiturrahman Menduran ini merupakan cikal bakal lahirnya permukiman Desa Menduran.
Bahkan, di sana terdapat satu kepercayaan turun temurun terkait warga Menduran yang tidak diperbolehkan memainkan musik gamelan.
"Memang dari dulu di sini tidak boleh main gamelan di Menduran. Berlaku bagi seluruh warga yang masih memiliki darah Menduran. Meskipun mainnya tidak di sini, misal di daerah lain. Masih akan kena. Seperti itu ada sabdanya," ujar Gus Taufiq Ridlo.
Tak hanya terjadi hujan dan angin, sejumlah warga yang nekat memainkan juga ditegur dengan kesakitan.
Sampai saat ini warga asal desa setempat masih mempercayai hal tersebut. Sehingga tak ada yang berani memainkan alat musik gamelan.
Adanya hal itu menjadi terbanding terbalik dengan syiar yang dilakukan Ki Ageng Tarub.
Sehingga membuat Pondok Pesantren Salafiyah Al Marom ini kian minim santri.
"Saat ini tersisa 30-an santri," imbuhnya.
Diungkapkan, nama Menduran ini pun terbentuk karena leluhurnya berasal dari Madura.
“Sehingga nama dan pengucapannya sekilas menyerupai," kata Gus Lizam.
Dalam perkembangannya, Masjid Baiturrahman yang berdiri di atas lahan seluas 300 meter persegi itu dilengkapi dengan pesantren tradisional.
Sementara di belakangnya turut menjadi kompleks pemakaman trah Ki Ageng Kafiluddin. (int)
Editor : Ali Mustofa