BANGUNAN Masjid Baiturrahman Desa Menduran Kecamatan Brati ini tampak seperti masjid menara Kudus.
Karakteristik yang masih dipertahankan yaitu Menara Masjid menjulang tinggi mengelilingi masjid tersebut.
Tiga Menara masjid yang berkonstruksi bata merah berisi kayu kuno ini mengadaptasi Masjid Al Aqsha kreasi Syekh Ja'far Shodiq atau Sunan Kudus.
Di dalam dakwah simbahnya, Ki Ageng Kafiluddin mengaplikasikan pendekatan emosional yang selaras dengan siasat pendahulunya, Sunan Kudus.
Salah satunya menciptakan bangunan Masjid dengan arsitektur yang bersahabat dengan peradaban saat itu yakni perpaduan Hindu-Jawa dengan Islam.
Akulturasi budaya Hindu-Jawa dengan Islam dimaksudkan supaya pribumi lokal yang asing bisa dengan mudah menerimanya.
"Saksi penyebaran Islam di Grobogan dengan toleransi. Bahkan saat itu untuk menghibur warga, dibiasakan ada tabuhan bedug dengan irama merdu," kata Gus Ridlo.
Pada 1998 di lokasi tersebut turut didatangkan pakar konstruksi dari Jepang.
Mereka terkejut karena bangunan usia ratusan tahun ini selazimnya sudah rusak namun masih kokoh dari masa ke masa.
"Sejak saat itu tidak pernah dirombak. Paling hanya kecil-kecilan seperti pengecatan. Ini mulai rembes kalau hujan, mau renovasi belum bisa," ungkap Gus Taufiq Ridlo, putra keempat Kiai Munawar Kholil ini.
Di dalam Masjid Baiturrahman ini juga terdapat empat saka atau tiang.
"Dulu hanya satu tiang di tengah. Namun, dikembangkan menjadi empat tiang. Ciri khas Masjid Jawa yang digunakan pertemuan para wali. Sudah banyak tokoh agama yang mengulas ini," jelas Gus Ridlo.
Bahkan, abahnya menyimpan satu tiang di dalam menara belakang bagian selatan.
"Masih ada satu tiang, disimpang di dalam menara," ujar Gus Ridlo yang turut menjadi takmir di masjid tersebut.
Selain itu, masjid yang berada di sisi utara bantaran sungai Lusi ini ternyata tak pernah terdampak banjir.
Di sisi selatan bangunan dibuat benteng dari pasangan bata merah sepanjang 80 meter dengan ketebalan 1,75 meter. Benteng tersebut terdiri dari sumur besar yang bisa dimasuki air.
"Air bisa masuk di bentengnya. Kalau sungai surut, air ikut keluar lagi. Sejak tahun lalu air sempat naik sampai ke benteng, tapi tak sampai masuk masjid," ungkapnya.
Diketahui, warga setempat sempat membuat benteng di belakang bangunan dengan jumlah 13 sumur pada 10 tahun belakang. Tak lama terbawa hanyut aliran sungai Lusi.
"Desainnya beda, serta materialnya beda. Jadi langsung hanyut," imbuhnya.
Gus Ridlo pun menceritakan sosok simbahnya yang membangun masjid tersebut.
"Dulu itu simbah Kafiludin Jamal diminta ayahnya (Adipati Madura) untuk mencari adiknya yang bernama Jamil. Waktu itu kan mengembara atau masih beragama Hindu tidak jelas," ceritanya.
Tapi saat sampai di daerah yang kini disebut Pati, perbekalan habis.
Sehingga Kiai Kafiludin ikut sayembara dan menang dihadiahi sebidang tanah yang sekarang bernama Menduran ini.
"Kenapa kemudian simbah membangun masjid di tepi sungai? Karena tidak mau diketahui oleh orang," tuturnya.
Bahkan, pesan dari abah saya yakni Kiai Munawar terkait masjid dan pondok pesantren yaitu, semua diwakafkan untuk anak cucu dan semua kaum muslimin hingga hari kiamat. (int)
Editor : Ali Mustofa