MASJID Ki Ageng Selo masih kokoh berdiri di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan. Masjid tersebut terbuat dari kayu. Usianya sudah ratusan tahun.
Letaknya ada di depan sebelah timur sebelum memasuki area makam Ki Ageng Selo yang dikenal dengan penangkap petir.
Masjid yang berdiri sekarang merupakan bukan aslinya. Sebab, bangunan aslinya sudah dihancurkan Belanda.
Kemudian masjid itu dibangun lagi oleh Pakubuwana VI pada 1815 Masehi.
Selanjutnya dilakukan pemugaran masjid lagi oleh Pakubuwana X pada sekitar 1930.
Dalam pemugaran ini, serambi masjid mengalami penambahan luas sekitar dua meter dari bangunan utama. Bagian mihrab juga mengalami perombakan.
Bangunan masjid mencirikan bangunan kuno dengan corak joglo yang sebagian besar bangunan terbuat dari kayu jati dan masih asli.
”Masjid ini dari Ki Ageng Selo dan diberi nama Masjid Jami’ Ki Ageng Selo,” kata Rifai, penjaga masjid Ki Ageng Selo.
Masjid ini sendiri difungsikan sebagai tempat salat rawatib atau lima waktu berjamaah. Saat Ramadan digunakan untuk kumpul warga sampai fajar untuk salat malam.
”Bangunan masjid ini, ada tambahan depan dengan cor untuk perluasan masjid. Pembangunannya pada 1983,” ujarnya.
Perluasan masjid ini, karena jamaah salat Jumat meluber sampai di jalan raya. Dari tempat masjid tersebut, di dalam masjid semua saka atau tiang masjid menggunakan kayu jati.
Begitu juga tempat mimbar dan pengimaman salat. Bentuk masjid terdiri dari tiga trap dan ada mustaka di atas masjid.
Selain bangunan masjid, juga ada bedug peninggalan Ki Ageng Selo. Sampai saat ini, masih terjaga keasliannya. Bedug terbuat dari kayu opo-opo.
Diameternya satu meter dan terbuat dari satu batang kayu opo-opo yang dipotong menjadi dua bagian.
Potongan pertama digunakan untuk membuat bedug Masjid Ki Ageng Selo. Potongan lain digunakan untuk membuat bedug di Masjid Agung Demak.
Jadi, bedug yang berada di Masjid Ki Ageng Selo dan di Masjid Agung Demak itu kembar.
”Cerita dari orang dulu bedugnya sama dengan yang di Masjid Agung Demak,” terang dia.
Selama Ramadan banyak kegiatan di masjid. Setiap malam digelar Salat Tarawih, tadarus Alquran, kajian agama, dan kegiatan salat malam.
Kemudian pada hari besar juga dilakukan pengajian malam Nuzulul Quran.
Juga ada kegiatan selapan. Setiap Kamis Pon malam Jumat Wage ada khataman Alquran setelah Salat Isya’ di pelataran makam Ki Ageng Selo.
Saat Kamis Wage malam Jumat Pon juga ada kegiatan istighfar akbar dan pengajian umum di serambi masjid.
Kemudian selapanan setiap Ahad Pahing malam Senin Pon ada Maulid Berjanzi di serambi masjid.
Selanjutnya, pada peringatan tahun baru Jawa atau malam Suro ada kegiatan istigotsah, kirab budaya keliling bumi pamimatan Ki Ageng Selo Wilujeng Suronan dilanjutkan pengajian umum.
Saat itu, pusaka di dalam makam berupa keris dan tombak diarak keliling. Kegiatan lain juga digelar sama dalam kegiatan hari besar Islam. (mun/lin)
Editor : Ali Mustofa