BANGUNAN di kompleks Masjid Jami Lasem memiliki berbagai perpaduan arsitektur. Mulai dari rumah gadang, joglo, hingga peralihan era Majapahit.
Bahkan ada juga yang memiliki corak ala arsitektur Samarkand, Uzbekistan. Masjid ini terletak di area Pantura Rembang-Tuban, tepatnya di Kecamatan Lasem.
Lokasinya persis di pinggir jalan raya, sehingga bangunan ini terlihat megah dan memiliki nilai seni.
Jika dilihat dari depan masjid ini seperti joglo dengan serambi yang luas.
Kemudian, di sampingnya terdapat bangunan tiga lantai dengan atap seperti rumah gadang. Masjid Jami Lasem memang memiliki nilai sejarah.
Diperkirakan, sudah berdiri sejak tahun 1500-an.
Abdullah Hamid, salah satu pengurus Masjid Jami Lasem menyampaikan, arsitektur yang terlihat paling tua adalah mustaka Masjid Jami Lasem yang memberikan kesan corak era Majapahit.
Mustaka terbuat dari gerabah dan dulu diletakkan di pucuk paling atas bangunan. Selain itu, juga terdapat ukiran-ukiran.
Sekarang, sudah diturunkan dan disimpan di Museum.
Selain itu, berdasarkan dokumentasi foto lawas, Masjid Jami Lasem berbentuk joglo.
”Berdasarkan dokumentasi lama yang ada, tahun 1990-an masih ada. Itu pintu-pintunya dari joglo,” katanya.
Selain itu di ruang tengah, juga pernah ditemukan prasasti dodo peksi. Setelah diteliti, terdapat tulisan 1716, hal ini bisa terindikasi adanya penambahan ruang bangunan Masjid Jami Lasem.
”Yang utama itu yang kuna sekali di ruang mihrab. Kemudian ada penambahan atau ada renovasi ruang tengah. Dimana dodo peksinya menunjukkan pekerjaan yang rumit. Kan aksara jawa kuna,” jelasnya.
Sehingga menurutnya, perkembangan Masjid Jami Lasem ini memiliki beberapa fase. Jika dilihat pada Mihrab, terdapat prasasti dengan nama Pangeran Suraadipura 1759.
”Ada juga kaligrafi kayu di Mihrab 1825. Jadi ada beberapa fase tokoh-tokoh, ulama besar pada saat itu menancapkan fase-fase,” katanya.
Seiring berkembangnya zaman, para pengurus juga melakukan renovasi. Ruang tengah dibuat denan gaya ala Turki dengan desain kubah.
Kemudian direnovasi kembali menjadi bentuk seperti joglo sebagaimana saat ini.
”Itu dilihat dari bangunan masjid. Tetapi di lingkungan sekitar, Mbah Sambu itu arsitektur Samarkand, Uzbekistan,” katanya. (vah/him)
Editor : Ali Mustofa