Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Masjid Baiturrahman Bugel: Akulturasi Budaya dalam Satu Bangunan, dari Candi hingga Gedung Putih!

Intan Maylani • Selasa, 11 Maret 2025 | 23:29 WIB
AKULTURASI: Bangunan Masjid Baiturrahman Desa Bugel Kecamatan Godong yang mengadopsi bentuk bangunan candi, menara, vihara dan kubah gedung putih.
AKULTURASI: Bangunan Masjid Baiturrahman Desa Bugel Kecamatan Godong yang mengadopsi bentuk bangunan candi, menara, vihara dan kubah gedung putih.

GROBOGAN – Di tengah pesatnya modernisasi, sebuah masjid unik berdiri megah di Desa Bugel, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Masjid Baiturrahman, yang mulai dibangun pada 2009, bukan sekadar tempat ibadah biasa.

Masjid ini menjadi simbol akulturasi budaya, memadukan elemen arsitektur dari berbagai latar belakang: Menara Kudus, Candi Singosari, Vihara Sam Poo Kong, hingga kubah ikonik Gedung Putih di Amerika Serikat.

Tak heran, masjid ini dijuluki sebagai "Masjid NKRI" atau "Masjid Bhinneka Tunggal Ika".

Akulturasi Budaya dalam Satu Bangunan

Masjid Baiturrahman terletak di gang kecil, dikelilingi danau kecil di sisi selatannya. Selain masjid, kompleks ini juga dilengkapi dengan pendapa yang sebelumnya digunakan untuk mengaji tarekat.

Di sekitarnya, terdapat Pondok Pesantren (Ponpes) Mazroatul Huda, yang menjadi tempat tinggal para lansia dari berbagai daerah.

KH Mohammad Maghfuri, pemilik sekaligus pengurus masjid, menceritakan awal mula pembangunan masjid ini.

"Awalnya hanya musala kecil untuk ngaji tarekat. Lama-lama, semakin banyak yang ikut kajian dan istigasah.

Atas restu guru, saya diperbolehkan membangun masjid, tapi tidak boleh langsung besar," ujarnya.

Pembangunan masjid dilakukan secara bertahap, tanpa konsep khusus. "Pesannya 'Allahulkahfi'. Syaratnya, tidak boleh meminta-minta sumbangan.

Alhamdulillah, Allah sendiri yang mencukupi. Setiap tahun, masjid ini dibangun sedikit demi sedikit," tambahnya.


Inspirasi dari Berbagai Budaya

Keunikan Masjid Baiturrahman terletak pada arsitekturnya yang memadukan berbagai elemen budaya.

Di sisi kiri masjid, terdapat bangunan mirip Candi Singhasari di Jawa Timur. "Ini terinspirasi dari Candi Singhasari, tapi hanya simbol.

Kami gunakan untuk memasang speaker karena cukup tinggi," jelas KH Maghfuri.

Selain itu, KH Maghfuri juga terinspirasi oleh Vihara Sam Poo Kong di Semarang.

Namun, untuk menghindari kesan masjid ini sebagai padepokan Tionghoa, ia menambahkan desain Menara Kudus. "Menara Kudus dipilih karena sudah menjadi simbol akulturasi budaya Islam dan Hindu," ujarnya.

Tak kalah menarik, kubah masjid ini terinspirasi oleh Gedung Putih di Amerika Serikat. "Kubah ini menjadi ciri khas masjid kami.

Banyak yang bilang, ini adalah masjid NKRI karena menggambarkan keberagaman," kata KH Maghfuri.

Baca Juga: Masjid Al-Ishlah Kragan, Rembang: Perpaduan Arsitektur Jawa-China Jadi Simbol Harmoni Budaya dan Sejarah

Proses Pembangunan yang Tak Terburu-buru

Meski sudah berdiri sejak 2009, pembangunan Masjid Baiturrahman belum sepenuhnya selesai.

"Sebenarnya tinggal finishing, tapi kami tidak menargetkan harus cepat rampung. Kami lebih memilih pelan-pelan," ujar KH Maghfuri.

Pembangunan masjid ini sepenuhnya menggunakan dana pribadi KH Maghfuri, tanpa meminta sumbangan dari pihak lain.

"Ini semua berkat kemurahan Allah. Kami hanya berusaha, sisanya Allah yang mencukupi," katanya.


Viral dan Menjadi Tempat Reuni

Masjid Baiturrahman semakin dikenal setelah dijadikan tempat reuni Alumni Taruna Akabri 1989 (Altar 89).

Saat itu, sejumlah jenderal dari TNI dan Polri hadir di lokasi. "Awalnya saya menolak karena bangunan belum selesai.

Tapi mereka memaksa, akhirnya kami izinkan. Dari situ, masjid ini semakin dikenal," cerita KH Maghfuri.

Sejak viral, masjid ini ramai dikunjungi jamaah dari berbagai daerah. Ponpes Mazroatul Huda, yang berada di kompleks masjid, juga semakin ramai.

"Banyak yang datang dari luar Jawa, seperti Malang, Surabaya, hingga Semarang. Mereka ikut ngaji tarekat naqsabandiyah setiap Senin-Kamis dan Minggu Pon," ujarnya.


Kisah Pilu Para Lansia di Ponpes Mazroatul Huda

Selain menjadi tempat ibadah, kompleks Masjid Baiturrahman juga menjadi rumah bagi para lansia di Ponpes Mazroatul Huda.

Namun, kisah di baliknya cukup menyentuh. "Banyak lansia yang ditelantarkan keluarganya. Ada yang bahkan tidak pernah dijenguk.

Saya sampai minta keluarganya menjemput mereka," keluh KH Maghfuri.

Ia berharap, ke depan Ponpes Mazroatul Huda bisa berkembang menjadi tempat yang lebih bermanfaat.

"Saya berencana membuka sekolah dan ponpes yang lebih besar. Semoga bisa membantu warga sekitar dan daerah lain," ujarnya.


Simbol Persatuan dalam Keberagaman

Masjid Baiturrahman bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol persatuan dalam keberagaman.

Dengan memadukan berbagai elemen budaya, masjid ini mengajarkan pentingnya toleransi dan menghargai perbedaan.

"Ini adalah bukti bahwa kita bisa hidup berdampingan, meski berbeda latar belakang," kata KH Maghfuri.


Kesimpulan:
Masjid Baiturrahman Bugel adalah bukti nyata akulturasi budaya yang harmonis. Dari candi hingga kubah Gedung Putih, masjid ini menjadi simbol persatuan dan keberagaman.

Dengan proses pembangunan yang penuh ketelatenan, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan pendidikan.(*)

Editor : Mahendra Aditya
#gaya arsitektur Masjid Baiturrahman Bugel #jelajah masjid #grobogan #masjid unik #Masjid Baiturrahman Bugel