RADAR KUDUS - Berikut ini bacaan doa Rebo Wekasan beserta artinya di akhir Bulan Safar untuk muslim.
Doa Rebo Wekasan merupakan amalan untuk memohon agar dijauhkan dari malapetaka.
Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan adalah Rabu terakhir di Bulan Safar.
Dikutip dari beberapa sumber, Rabu Pungkasan atau Rebo Wekasan merupakan istilah Jawa yang merujuk pada tradisi yang dilakukan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Islam.
Rebo Wekasan dianggap menjadi hari paling sial sepanjang tahun.
Sehingga perlu dilakukan ritual untuk memohon perlindungan pada Allah.
Rebo Wekasan merupakan hasil perpaduan kearifan lokal dengan nilai-nilai agama Islam.
Tradisi Rebo Wekasan yang merupakan tradisi Jawa dilakukan dengan ritual keagamaan Islam.
Tradisi yang dilakukan saat Rebo Wekasan.
Tradisi Rebo Wekasan dilakukan dengan cara beragam di Indonesia.
Hal itu tergantung pada masing-masing daerah.
Tahun ini, Rebo Wekasan jatuh pada 4 September 2024 bertepatan tanggal 29 Safar 1446 Hijriah.
Berikut ini bacaan doa Rebo Wekasan beserta artinya:
Doa Rebo Wekasan Beserta Artinya
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللّٰهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنَا مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللّٰهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ اِكْفِنَا شَرَّ هٰذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيْ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Latin:
Bismillahirrahmanirrahim.
Wa shallallahu ta'ala 'ala sayyidina muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam. Allahumma yaa syadidul quwa wa yaa syadiidul mihaal ya 'aziizu dallan li'izzatika jamii'u khalqika ikfinaa min jamii'i khalqika yaa muhsinu ya mujammalu ya mutafadhalu ya mun'imu yaa mukrimu ya man laa ilaaha illa anta birahmatika ya arhamar raahimin, Allahumma bisirril hasani wa akhihi wa jaddihi wa abiihi ikfinaa syarri haadal yaumi wa ma yunazzalu fiihi ya kafii fasayakfikahumullahu wa huwas samii;ul 'aliimu wa hasbunallahu wa ni'mal wakiilu wa laa haula wa laa quwwata illa billahil 'aliyiil 'adhiim.
Wa shallallahu ta'ala 'alaa sayyidnia muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallim.
Artinya:
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah pada junjungan kami, Nabi Muhammad Saw, keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah, Tuhan Yang Maha Memiliki Kekuatan dan Keupayaan.
Baca Juga: Mengenal Amalan, Makna, Tradisi, dan Rebo Wekasan di Tahun 2024, Kapan Waktunya?
Ya Tuhan Yang Maha Mulia dan karena kemuliaan-Mu itu, menjadi hinalah semua makhluk ciptaan-Mu, peliharalah aku dari kejahatan makhluk-Mu.
Ya Tuhan Yang Maha Baik. Yang Memberi Keindahan, Keutamaan, Kenikmatan dan Kemuliaan. Ya Allah, Tiada Tuhan kecuali hanya Engkau.
Kasihanilah aku dengan Rahmat-Mu, wahai Zat yang Maha Penyayang.
Ya Allah, dengan rahasia kemuliaan Sayyidina Hasan dan saudaranya, serta kakeknya dan ayahnya, ibunya dan keturunannya, jauhkan aku dari kejahatan hari ini dan kejahatan yang akan turun padanya.
Makna dan Relevansi Rebo Wekasan di Era Modern
Meski Rebo Wekasan adalah tradisi yang berasal dari masa lampau, relevansinya tidak pudar di era modern ini.
Dalam konteks spiritual, tradisi ini mengingatkan umat Islam akan pentingnya menjaga hubungan yang kuat dengan Allah SWT dan selalu waspada terhadap musibah yang mungkin datang.
Selain itu, Rebuo Wekasan juga menjadi sarana untuk memperkuat tali silaturahmi antar sesama, melalui kegiatan bersama seperti salat berjamaah, sedekah, dan ziarah ke makam leluhur.
Di beberapa daerah, Rebo Wekasan juga diwarnai dengan kegiatan-kegiatan sosial seperti memberikan santunan kepada yatim piatu, berbagi makanan dengan tetangga, dan membersihkan lingkungan sekitar.
Semua ini dilakukan dengan niat tolak bala, agar Allah SWT melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan kepada seluruh masyarakat.
Penutup
Rebo Wekasan bukan sekadar ritual rutin tahunan, tetapi sebuah tradisi yang sarat makna, mengajarkan tentang kebersamaan, kepedulian sosial, serta pentingnya menjaga hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Meskipun banyak orang yang menganggapnya sebagai kepercayaan tradisional, bagi sebagian besar masyarakat Muslim di Indonesia, Rebo Wekasan tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya dan religius mereka.
Tradisi ini, dengan segala amalan dan ritualnya, mengingatkan kita akan pentingnya introspeksi diri dan memperkuat iman, terutama di tengah situasi yang penuh ketidakpastian seperti sekarang.
Sebuah tradisi yang tetap hidup dan relevan, meski zaman terus berubah.
Rebo Wekasan dan Sholat Tolak Bala
Salah satu tradisi yang kerap dilakukan masyarakat di Indonesia saat Rebo Wekasan adalah melakukan sholat tolak bala.
Diketahui, Rebo Wekasan sendiri adalah Rabu terakhir di bulan Safar, yang akan jatuh pada 4 September 2024 besok.
Lalu apakah kita harus menunaikan shalat pada Rabu terakhir di bulan Safar tersebut?
Dilansir dari NU Online, pada dasarnya, tidak ada nash sharih yang menjelaskan anjuran shalat Rebo wekasan.
Oleh karenanya, bila shalat Rebo Wekasan diniati secara khusus, misalkan “aku niat shalat Safar”, “aku niat shalat Rebo Wekasan”, maka tidak sah dan haram.
Hal ini sesuai dengan prinsip kaidah fiqih yang artinya:
"Hukum dalam ibadah apabila tidak dianjurkan, maka tidak sah" (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, juz 2, halaman 60).
Hanya saja, bila shalat Rebo wekasan diniati shalat sunnah mutlak, ulama berbeda pandangan.
Menurut Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari hal itu adalah haram.
Meski begitu, Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki mengatakan hukumnya boleh.
Menurut beliau, solusi untuk membolehkan shalat-shalat yang ditegaskan haram dalam nashnya para fuqaha’ adalah dengan cara meniatkan shalat-shalat tersebut dengan niat shalat sunnah mutlak.
Beliau menegaskan yang artinya:
"Aku berpendapat, termasuk yang diharamkan adalah shalat Safar (Rebo Wekasan), maka barang siapa menghendaki shalat di waktu-waktu terlarang tersebut, maka hendaknya diniati shalat sunnah mutlak dengan sendirian tanpa bilangan rakaat tertentu. Shalat sunnah mutlak adalah shalat yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab tertentu dan tidak ada batas rakaatnya" (Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki, Kanz al-Najah wa al-Surur, halaman 22).
Berikut ini niat dan tata cara bagi yang akan menunaikan shalat sunnah mutlak
1. Niat shalat sunnah mutlak dua rakaat
أُصَلِّيْ سُنَّةً رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatan rak’ataini lillâhi ta’âla
Artinya: Saya niat shalat sunnah dua rakaat karena Allah ta’ala.
2. Setelah membaca al-Fatihah, baca Surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, Al-Falaq dan An-Nas sekali setiap rakaat.
3. Lakukan shalat sebagaimana biasanya dua rakaat.
4. Setelah salam, membaca doa.
5. Shalat sunnah mutlak dua rakaat ini dilakukan dua kali.
Pelaksanaan shalat ini sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah swt agar dijaga dari segala bahaya selama setahun.
Akan halnya perbedaan perbedaan pendapat ulama seperti dijelaskan adalah hal yang sudah biasa dalam fiqih, masing-masing memiliki argumen yang dapat dipertanggungjawabkan. (ury)
Editor : Abdul Rokhim