KUDUS - Setiap umat beragama wajib mengenal Allah SWT sebagai Sang Maha Pencipta, sebagai pengatur alam semesta dan seluruh makhluk hidup dari ketiadaan.
Juga yakin adanya Tuhan Yang Maha Esa (Al-Ahad), yaitu Tuhan satu-satunya dan tidak ada sekutu baginya.
Dengan mengenal-Nya, seorang hamba akan lebih mengetahui esensi dari kehadiran-Nya. Hal itu menandakan sebuah keimanan seseorang terhadap Tuhan dan agamanya.
Dalam rukun iman yang pertama, perintah mengenal Allah SWT merupakan perkara yang diharuskan kepada hamba-hamba-Nya.
Selain beriman kepada malaikat, kitab, rasul, hari akhir, serta qada dan qadar.
Iman adalah sesuatu yang dapat kita yakini dan memang benar atau nyata adanya.
Sedangkan iman kepada Allah berarti mempercayai bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Esa dan tiada Tuhan selain dirinya.
Perintah mengenal Allah SWT ini tercantum dalam kitab suci Al-Quran Surat Al-Imran ayat 190.
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memiliki akal.”
Mengenal Allah SWT bagi manusia memiliki urgensi agar mengenal dirinya sendiri serta bisa mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat.
Sebab, mengenal diri merupakan kunci utama untuk mengenal Allah SWT. Serta penting dilakukan karena tidak ada yang lebih dekat diri seseorang, kecuali mereka sendiri.
Barangsiapa mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal siapa Tuhannya, dengan sebaik-baiknya, seyakin-yakinnya, dan sebenar-benarnya.
Dengan demikian ia akan sadar bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang serba terbatas, tidak berdaya dan semua urusannya ada dalam genggaman kekuasaan-Nya.
Lantas, bagaimana cara mengenali diri sendiri dan mengenali Tuhan Yang Maha Esa? simak berikut uraiannya.
Mengenali Diri Sendiri
Sadar atau tidak sadar bahwa Allah SWT menciptakan segala sesuatu di dunia ini untuk tujuan tertentu, termasuk manusia di dalamnya.
Pertanyaannya, siapa manusia itu? Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk Allah SWT. Yaitu makhluk spiritual yang segala tindak tanduknya di dunia tidak terlepas dari penciptanya.
Itulah mengapa ada ungkapan “siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhan-Nya”.
Sebaliknya, jika anda tidak mengenali diri secara mendalam, maka akan muncul berbagai kegelisahan, seperti bingung, resah, khawatir, dan hampa.
Sama halnya kalau kita hendak pergi untuk makan tetapi tidak memiliki tujuan, mau makan apa dan di mana?
Saat mengendarai motor atau mobil, kita hanya berputar-putar menghabiskan waktu, tenaga, bahan bakar dan akhirnya tidak jadi makan.
Sebenarnya manusia bisa lahir di dunia ini karena sebuah tujuan dari Allah Dzat Yang Maha Pencipta.
Al-Quran telah menyebut beragam istilah manusia, yaitu: sebagai makhluk biologis (Al-Basyar), sebagai makhluk sosial (An-Nas), sebagai khalifah atau pemikul amanah (Al-Insan), dan keturunan Nabi Adam (Bani Adam).
Sebagai makhluk pilihan yang dimuliakan oleh Allah SWT dari makhluk ciptaan-Nya yang lainnya, manusia dianugerahi unsur materi dan immateri.
Secara umum, ’tubuh’ manusia bisa dibagi menjadi dua, yaitu: tubuh-nyawa, raga-jiwa, dan lahir-batin.
Sedangkan di dalam Al-Quran, memilahnya menjadi tiga komponen dasar, yaitu: Badan (raga/tubuh/jasmani), Jiwa (spirit/soul), dan Ruh.
Badan atau raga adalah lapis pertama eksistensi manusia yang paling kasar. Kemudian jiwa lebih halus, dan ruh adalah yang paling halus.
Raga dikoordinasikan oleh organ komando bernama otak, yang dibantu enam macam ’radar’ dalam bentuk alat pengindera, yakni: mata, telinga, hidung, perasa, peraba, dan hati.
Tubuh manusia adalah ’alat’ atau fasilitas yang berfungsi untuk menjembatani alam dunia dengan sosok yang lebih halus di dalamnya, yang dikenal sebagai jiwa.
Jiwa terdiri atas akal, nafsu, qalbu (hati).
Akal berfungsi untuk berfikir, mengingat, berlogika, dan menghitung. Hati berfungsi untuk beriman (meyakini), membenci, empati, mencintai, dan hal-hal yang berhubungan dengan rasa.
Sedangkan nafsu adalah energi jiwa yang berpotensi pada kesenangan dan kemarahan.
Tapi perlu diingat, badan dan jiwa adalah benda mati, karena keduanya tak memliki kehendak sendiri. Jadi harus ada yang mengendalikan, disinilah peran ruh yang menghidupkan keduanya.
Allah SWT berfirman, artinya: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya (sebagian) ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur”. (QS. As Sajdah: 9).
Ruh memiliki sifat yang suci, cenderung kepada kesejatian (hakikat) dan lebih dekat dengan Allah SWT. Sedangkan Tuhan itu Maha Suci. Jadi Ruh bukan energi, melainkan sifat-sifat ketuhanan.
Sedangkan jiwa dalam ilmu tasawuf disebut Qalbu (hati), sebagai alat indra ruhaniah.
Qalbu menurut Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin adalah perpaduan antara ruh, akal dan nafsu.
Qalbu diartikan sebagai sebuah lathifah, kelembutan, titik sensor, dimensi ketuhanan yang tidak mempunyai bentuk fisik.
Lathifah artinya adalah kehalusan. Maksudnya adalah titik sensitivitas di dalam diri manusia. Titik inilah yang menyerap nur dzikrullah secara optimal di dalam diri kita.
Lathifah adalah tempat bersarangnya hawa nafsu pada tubuh manusia yang harus dibersihkan dengan Asma Allah (nama-Nya yang mulia).
Lathifah memiliki tujuh lapisan.
Pertama, Lathifah Khalab/kullu jasad, yaitu halusnya seluruh badan, letaknya di ubun-ubun.
Kedua, Lathifah Nafs, yaitu halusnya utek, letaknya di kening. Ketiga, Lathifah Qolb, yaitu halusnya hati, letaknya di susu kiri bawah.
Keempat, Lathifah Ruh, yaitu halusnya ruh, letaknya di susu kanan bawah. Kelima, Lathifah Sirr, yaitu halusnya rasa, letaknya di susu kiri atas.
Keenam, Lathifah Khofi, yaitu halusnya barang yang samar, letaknya di susu kanan atas.
Kemudian yang ketujuh Lathifah Akhfa, yaitu halusnya barang yang lebih samar, letaknya di tengah dada.
Sebagai sebagai alat indra ruhaniah, qalbu (hati) mempunyai kemampuan untuk melihat, berkata dan mendengar secara ruhaniah.
Hati punya mata yang disebut mata hati, yang selalu dapat melihat kebenaran.
Hati juga punya mulut yang selalu membisikkan kebenaran, sehingga ucapannya dikenal sebagai kata hati.
Hati juga punya telinga yang menangkap suara-suara kebenaran (nilai-nilai mulia) disebut suara hati.
Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: "Telah kami (Allah) bina/bangun dalam diri bani adam sebuah bangunan (istana/struktur tubuh). Di dalam bangunan itu terdapat dada (sadrun), di dalam dada terdapat qalbu (tempat bolak balik ingatan), di dalam qalbu terdapat fuad (mata hati/jujur ingatannya), di dalam fuad terdapat syagaf (hati nurani/kerinduan), di dalam syagaf terdapat lubb (lubuk hati/merasa terlalu rindu), dalam lubuk hati terdapat sirr (rasa/mesra), didalam sirr ada Aku (Allah)." (Hadits Qudsi).
Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada umatnya untuk menjadikan hati selalu baik, agar selalu memelihara keyakinan atau pikiran bahwa Allah SWT adalah Maha Pengatur dan membolak-balikan hati dan Allah SWT tahu akan apa isi hati kita.
Karena hati sebagai sumber dari setiap tindakan manusia, maka ia memiliki peranan besar terhadap amal perbuatan yang kita kerjakan.
Hati yang telah mati tidak dapat berfungsi lagi untuk mengendalikan nafsu, mengakibatkan rusaknya perilaku manusia.
Sebaliknya, kalau hati seseorang bersih dapat berfungsi sebagai pembimbing yang baik untuk melakukan perbuatan kebajikan.
Sedangkan nafsu menjadi kekuatan hidup, yaitu menjadi gerak atau diamnya laku tubuh manusia, yang menyinari jasad.
Para pakar ilmu kejiwaan sepakat bahwa dalam setiap diri manusia terdapat apa yang disebut sebagai motive, atau dalam istilah psikologi adalah drive.
Motive atau drive ini adalah suatu kekuatan ruhaniah yang mendorong manusia untuk berbuat sesuatu.
Tanpa adanya motive atau drive, manusia tidak mempunyai kemauan untuk berbuat sesuatu.
Dalam istilah umum, kekuatan tersebut kita kenal dengan istilah nafsu atau hawa nafsu.
Tanpa adanya nafsu manusia tidak dapat hidup, tidak akan mempunyai kemauan, hasrat atau gairah untuk melakukan suatu perbuatan.
Dengan demikian maka peran nafsu adalah mendorong otak agar memerintahkan anggota tubuh untuk bergerak sehingga jasmani dapat melakukan suatu perbuatan.
Nafsu sendiri bersifat netral dan tidak punya salah karena ciptaan Allah SWT, merupakan makhluk Allah yang melekat pada diri manusia.
Sedangkan mengetahui hawa nafsu wajib hukumnya. Seseorang tidak akan bisa memerangi hawa nafsunya jika tidak mengetahuinya.
Nafsu mempunyai dua sisi yaitu positif dan negatif. Nafsu negatif lebih kuat pengaruhnya dibanding nafsu positif.
Dengan demikian maka nafsu cenderung mendorong ke arah keburukan. Sehingga bisa dikatakan nafsu negatif lebih dominan dibanding nafsu positif.
Diketahui, pangkal segala macam maksiat dan berpaling dari Allah SWT adalah suka menuruti hawa nafsu.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan”. (QS. Yusuf: 53).
Ada tujuh nafsu di dalam diri manusia.
Pertama, ammarah, yaitu nafsu yang cenderung pada tabiat jasmani, cenderung pada kenikmatan sementara, mendorong kepada keburukan (kemaksiatan), letaknya di lathifah nafs.
Adapun pasukan-pasukannya adalah syahwat, kikir, serakah, dengki, sombong, bodoh, benci dan marah-marah (murka).
Kedua, lawwamah, yaitu nafsu yang hadir ketika mengingat Allah, melaksanakan perintah-Nya dan berbuat kebajikan. Ketika melakukan perbuatan tercela, nafsu ini menyalahkan dirinya sendiri atas perbuatan aniaya yang diperbuat, kemudian memperbaikinya. Letaknya di Lathifah Qolb.
Pasukannya adalah suka mencela, bersenang-senang, menipu, bangga diri, mengumpat, pamer amal, anaiaya, bohong, lupa.
Ketiga, Mulhimah, yaitu nafsu yang menghilangkan sifat was-was, hadits nafsi (bisikan nafsu). Disebut juga sebagai nafsu yang sudah mengenali kotoran-kotoran yang halus seperti riya, ujub, sombong, dengki, cinta dunia, dan lain-lain dari pada penyakit-penyakit batin, tapi ia belum bisa melepaskan diri dari kotoran-kotoran halus itu. Letaknya di lathifah ruh.
Pasukannya adalah dermawan, qanaah, murah hati, rendah hati, tobat, sabar, dan penuh tanggung jawab.
Keempat, Muthmainnah, nafsu yang bercahaya sebab cahaya hati, mampu membuang sifat-sifat tercela, letaknya di lathifah sir.
Pasukannya adalah pemurah, tawakal, senantiasa ibadah, syukur, ridha, dan takut kepada Allah SWT.
Kelima, Radhiyah, nafsu yang telah melebur, sebab dirinya adalah sesuatu yang fana (gugurnya sifat-sifat tercela), ia menjadi jernih dengan tajalliy kepada Allah, letaknya di lathifah khalab.
Pasukannya adalah kemuliaan, zuhud, tulus, wara, terus melatih jiwa, menepati janji.
Keenam, Mardhiyah, nafsu yang bisa dicapai dengan maqam baqa’ (menandakan kemunculan sifat-sifat terpuji), letaknya di lathifah khofi.
Pasukannya adalah berakhlak mulia, meninggalkan semuanya selain Allah, lembut, selalu mengajak perbaikan, penuh maaf, dan penuh cinta.
Ketujuh, Kamilah/Ubudiyah, nafsu yang suka mengabdi atau menghamba, yakni melakukan segala amal perbuatan yang sifatnya mengabdi kepada Allah SWT, letaknya di lathifah akhfa.
Pasukannya adalah ilmul yakin, ainul yakin, dan haqqul yakin.
Dari tujuh nafsu tersebut, tiga nafsu yang harus dikalahkan adalah ammarah, lawwamah, dan mulhamah, karena nafsu tersebut tidak masuk dalam panggilan Allah SWT.
Allah SWT berfirman: “Hai jiwa muthmainnah (yang tenang). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. al-Fajr: 27-30).
Mengalahkan nafsu bukan perkara mudah. Caranya dengan mengenali nafsu terlebih dahulu, kemudian membedakan antara ajakan nafsu dengan ajakan Allah SWT.
Ibnu Athaillah dalam Kitab Al-Hikam berkata, “Apabila ada dua hal yang tidak jelas bagimu, lihatlah mana di antara keduanya yang paling berat bagi nafsu, lalu ikutilah ia karena tidaklah terasa berat bagi nafsu kecuali sesuatu yang benar.”
Perbedaannya adalah ajakan Allah SWT adalah yang lebih berat dikerjakan, sedangkan ajakan nafsu lebih ringan dikerjakan.
Sedangkan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengilustrasikan sebuah dialog antara seorang murid dengan gurunya.
Sang murid bertanya, "Syeikh, bukankah dzikir bisa membuat seseorang lebih dekat dengan Allah dan syaitan akan terusir menjauh darinya?". "Benar," jawab sang Syeikh.
Sang Murid bertanya lagi, "Namun kenapa masih ada orang yang rajin berdzikir tetapi masih sering tergoda oleh syaitan?"
Gurunya menjawab: Mengusir syaitan itu ibarat mengusir anjing. Kalau kita hardik anjing maka ia akan lari menyingkir.
Akan tetapi jika disekitar diri kita masih terdapat banyak sampah tulang belulang, yang merupakan makanan kesukaannya, maka anjing akan datang kembali.
Sang Guru melanjutkan, begitu pula halnya dengan dzikir. Syaitan itu sangat menyukai kotoran hati, sebagaimana anjing suka tulang belulang.
Orang-orang yang rajin berdzikir tapi masih menyimpan pelbagai kotoran hati dalam dirinya maka syaitan akan terus datang mendekat, bahkan bersahabat dengannya.
Dzikir tidak akan bermanfaat jika di dalam hati seseorang masih banyak kotoran hati, kesukaan syaitan. Kotoran hati bisa juga disebut dengan penyakit hati.
Sebagaimana Allah berfirman. Artinya: “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami. Dan mereka mempunyai mata, tidak dipergunakan untuk melihat. Dan mereka mempunyai telinga, tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan ternak. Atau, bahkan lebih rendah lagi. Mereka itu orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raaf: 179).
Dalam hadits juga disebutkan, bahwa setiap kali seseorang berbuat dosa, itu menabung noda hitam di dalam jiwanya. Dengan demikian, maka potensi nuraninya, cahaya ruhiahnya tidak keluar lantaran terhalang oleh noktah dosa tadi.
Oleh karena itu, jika ingin mengeluarkan potensi ilahiah di dalam diri kita, cukup bersihkanlah jiwa. Akhlaknya diperbaiki. Maka dengan sendirinya potensi ilahiahnya itu keluar dengan sendirinya.
Bagi manusia yang mampu mengoptimalkan kecerdasan intelektual dan emosional, Al-Qur’an menjulukinya sebagai ulul albab.
Sebab hatinya selalu berdzikir dan sanggup pula mendayagunakan perangkat berfikirnya untuk tafakkur secara ilmiah.
Dengan kata lain, manusia ulul albab adalah manusia yang bertanggung jawab (amanah), menggunakan akal (pintar), dan menggunakan hati (berakhlak) dalam tindakannya.
Di dalam mindsetnya, bahwa Allah SWT menciptakan semua yang ada di alam semesta ini tidak ada satupun yang sia sia.
Dia beranggapan, semua makhluk yang Allah SWT ciptakan pastinya ada kebermanfaatan dan kebermaslahatan.
Lalu pertanyaannya, untuk apa manusia diciptakan?
Allah SWT Yang Maha Pencipta, tentu memiliki tujuan dan maksud tertentu ketika merancang atau menciptakan sesuatu, termasuk dalam menciptakan manusia di dunia.
Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya dan menjadi khalifah di muka bumi. Oleh karena itu wajib untuk mengenal siapa Tuhan yang disembah dan diibadahi.
Yang dimaksud cara mengenal Allah adalah mengetahui dan meyakini adanya Allah SWT, yaitu mengetahui dan meyakini sifat-sifat kesempurnaan, serta perbuatan Allah SWT.
Hal ini termaktub di dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Al-Dzarriyat: 56).
“Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS Al An’am: 165).
Tujuan ini mendidik manusia untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Serta harus memiliki kemampuan mengelola, melestarikan dan memakmurkan alam semesta sesuai amanat yang diemban.
Tak perlu melihat jauh-jauh, manusia menciptakan segala sesuatu yang ada disekitar kita juga untuk tujuan tertentu.
Sebagaimana kita ketahui, manusia menciptakan kursi untuk duduk. Meja untuk kerja. Panci untuk memasak. Handphone untuk telepon. Sendok dan garpu untuk memudahkan kita makan. Alas kaki dibuat untuk melindungi kaki saat kita berjalan.
Begitu pula sepeda, mobil, motor, dan kapal pesawat terbang, semuanya diciptakan sebagai alat transportasi. Alat-alat tersebut diciptakan oleh manusia karena memiliki sebuah tujuan.
Demikian juga Allah SWT menciptakan manusia. Tidak mungkin kita diciptakan hanya untuk sekedar minum kopi di dunia ini, dan hahahihi…
Manusia diciptakan oleh Tuhan tentu untuk memberikan manfaat dan kontribusi bagi kehidupan di dunia ini.
Tiap-tiap manusia diciptakan Tuhan dengan rancangan khusus sehingga mereka memiliki bakat, kemampuan, keunikan, dan kelemahan yang berbeda-beda.
Menurut psikolog, ada sembilan kecerdasan yang ada pada diri manusia, yaitu: logika-matematika, linguistic, interpersonal/emosional, interpersonal, musical, visual-spatial, tubuh-kinestetik, naturalis, dan eksistensial.
Keunikan setiap individu inilah menjadi salah satu alasan pentingnya mengetahui cara mengenali diri lebih dalam. Caranya beragam, tergantung pada kebutuhan kita masing-masing. Kita bisa mengenali diri dan menemukan potensi diri, salah satunya dengan membaca buku pengetahuan.
Potensi adalah kemampuan dan kualitas yang dimiliki seseorang, tapi belum dipergunakan secara maksimal.
Jika kita bisa mengembangkan dan memaksimalkan potensi diri, maka kita akan bisa meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup ini.
Ada lima potensi yang ada dalam diri manusia menurut psikolog.
Pertama, potensi fisik (jasmani), yaitu adalah potensi mendasar yang melekat pada fungsi fisik seseorang untuk keperluan pemenuhan kebutuhan hidup.
Potensi fisik berfungsi sesuai dengan jenisnya. Contohnya, mata untuk melihat, kaki untuk berjalan, telinga untuk mendengar, dan sebagainya.
Kedua, potensi akal (mind) atau potensi mental intelektual (intelectual quotient/IQ), adalah potensi yang bersumber dari kemampuan seseorang mengelola otak kiri.
Fungsinya terkait kemampuan analisa, logika, menghitung, perencanaan, dan kemampuan melakukan sesuatu dengan terstruktur dan rapi.
Ketiga, potensi sosial emosional (emotional quotient/EQ), adalah potensi yang berkembang pada otak manusia bagian kanan.
Otak bagian kanan banyak berperan terkait pengendalian emosional, kreativitas, motivasi, bertanggung jawab, kesadaran diri, dan lainnya.
Keempat, potensi ruhani/mental spiritual (spiritual quotient/SQ), adalah potensi yang erat kaitannya dengan nilai-nilai ketuhanan, keimanan, dan akhlak yang mulia.
Potensi ini terkait erat dengan kesadaran jiwa, bagaimana Anda melakukan aktivitas apapun dalam hidup yang didasari dengan kesadaran penuh. Cara pengungkapan SQ adalah melalui pendidikan agama dan pendidikan budi pekerti.
Kelima, potensi semangat diri/ketangguhan/daya juang (adversity quotient/AQ), adalah potensi yang bertumpu pada kemampuan seseorang terkait membangkitkan daya juang untuk hidup atau berkarya.
Dari kelima potensi tersebut pada dasarnya masih merupakan kemampuan yang belum terwujud secara optimal. Untuk itu, dibutuhkan hal lain agar potensi tersebut dapat didayagunakan, tentu saja manusia mesti memiliki ambisi.
Ambisi inilah yang mendorong orang untuk berusaha meraih keinginannya. Tanpa ambisi, orang hanya akan merasa puas dengan kondisi yang dimilikinya sekarang, tidak ada keinginan untuk mengubahnya menjadi lebih baik.
Untuk mewujudkan potensi terbaik, Anda harus berkomitmen menjalani proses pengembangan diri dan ini bukan hal yang mudah. Lakukan eksplorasi dan bersiaplah menemukan hal-hal yang tidak terduga.
Mengenal Tuhan Yang Maha Esa
Semua manusia pasti bertuhan. Cuma bertuhannya itulah yang bermacam-macam. Ada yang bertuhan kepada uang, batu, patung, pohon, hingga nenek moyang.
Bahkan di era modern ada pula bertuhan dengan yang lebih masuk akal. Misalkan bertuhan kepada sains, bertuhan kepada logika dan rasionalitas, bertuhan dengan nafsu, juga bertuhan kepada ilmuwan yang dikaguminya, serta bertuhan kepada dirinya sendiri.
Bahkan ada yang tertuhan kepada setan yang sering disebut pemuja setan.
Maka semakin jelas, di dalam Al-Qur’an menjelaskan bahwa yang ada ialah manusia yang tidak bertuhan kepada Allah SWT.
Jadi ketika ada seseorang yang menyangkal semua tuhan, termasuk menyangkal keberadaan Allah SWT, maka sesungguhnya dia juga telah bertuhan kepada ‘sesuatu’, selain Tuhan yang tidak diakuinya.
Akan tetapi setan selalu terus menggoda manusia untuk mendiskusikan tentang Tuhan itu siapa, dari apa, dimana, lagi apa, dan sebagainya.
Allah SWT berfirman dalam kitab suci Al-Quran. Artinya: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS Fathir: 6)
Oleh karena itu, untuk menjawab pertanyaan keberadaan Tuhan perlu analogi (perumpamaan), perlu mindet (pola pikir/cara berpikir) yang benar.
Sebab cara berpikir menentukan sikap dan hidup. Kalau anda mempunyai cara berpikir yang benar maka hidupmu benar. Sebaliknya, kalau cara berpikirmu salah hidupmu juga salah.
Setiap orang mempunyai sudut pandang. Dan sudut pandang menentukan cara melihat, menanggapi dan menentukan tindakan di dalam hidup. Pola pikir sesorang bisa berubah tatkala ada kesadaran, ada pengetahuan, dan dipaksa oleh keadaan.
Misalkan, ada sebuah rumah terbakar, pasti ada penyebabnya. Biasanya dikarenakan korsleting atau kompor meledak, dan sebagainya.
Sama halnya dengan wujudnya alam ini, tidak mungkin ada dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakan.
Sebagai contoh, Anda bekerja di sebuah perusahaan multiinternasional. Kantor pusatnya berada di Amerika, umpamanya. Sementara anda saat ini bekerja di kantor cabang di salah satu kota di Indonesia.
Di dalam perusahaan anda bekerja, pemiliknya bernama XYZ. Lantas anda akan mengira-ngira siapa sebetulnya XYZ tersebut. Apakah lelaki ataukah perempuan. Usianya masih kecil, muda, ataukah tua. Lagi melakukan aktivitas apa dan sebagainya.
Padahal keberadaannya jelas-jelas ada, kenapa tidak pernah dipertanyakan? Sementara anda tetap sibuk bekerja sesuai aturan yang ditetapkannya, anda pun menikmati upah tiap bulannya.
Sama halnya menjalani hidup ini, tiap hari harus beraktivitas meskipun anda tidak bisa melihat Tuhan dengan kasat mata, tapi kehadiran-Nya ada dan dapat dirasakan.
Misalkan tiap hari kita menghirup udara dengan sebebas-bebasnya. Pertanyaannya, apakah dirimu mampu melihat udara? Sebab, manusia diciptakan di bumi mempunyai keterbatasan penglihatan.
Bahkan anda juga tak punya malu memakai waktu milik-Nya, yaitu dalam setahun ada 12 bulan. Kenapa pula anda tidak sanggup membuat aturan sendiri, misalkan ada 7 bulan atau 15 bulan setiap tahunnya.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 36. Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram”.
Dengan melihat segala bentuk ciptaan-Nya, akal akan menyimpulkan bahwa keberadaan benda-benda tersebut tentu didasarkan pada pencipta, dan tidak serta merta ada dengan sendirinya tanpa alasan.
Ada kisah menarik percakapan seseorang dengan salah satu warga Arab Badui tentang mengenal Tuhan.
Orang Badui mengatakan, “Telapak kaki, menunjukkan adanya orang yang berjalan. Kotoran (teletong), menunjukkan adanya unta. Bukankah alam raya ini menunjukkan adanya pencipta yang Maha Perkasa lagi Maha Agung?”
Begitu pula para nabi terdahulu juga menerangkan kalau Allah SWT itu bisa dikenali lewat makhluk-Nya. Jika ada makhluk berarti ada yang membuatnya.
Hal ini sesuai hukum kausalitas (sebab-akibat). Kausalitas dibangun oleh hubungan antara suatu kejadian (sebab) dan kejadian kedua (akibat atau dampak), yang mana kejadian kedua dipahami sebagai konsekuensi dari yang pertama.
Sebab-akibat ini ditetapkan dalam kehendak Tuhan. Karena Tuhan adalah sebab dari segala sebab itu (musabibul asbab). Lalu oleh agama dinamai Tuhan.
Tuhan dalam Islam telah memperkenalkan diri-Nya dengan nama Allah. Itulah sebabnya setiap orang beriman wajib percaya bahwa Allah SWT sebagai Tuhannya.
Karena itu Ulama sangat berhati-hati dalam memberikan fatwa dalam perkara akidah.
Syaikh Muhammad Nawawi al-Jaawi (Banten) terdapat dalam kitab Kaasyifatu as-Sajaa menawarkan jawaban ringkas atas pertanyaan terkait Allah SWT.
Artinya: “Jika seseorang bertanya kepadamu, ‘Allah di mana?’ maka jawablah, ‘Ia tidak bertempat dan tidak mengalami waktu.’ Jika kau ditanya, ‘Bagaimana Allah?’, jawablah, ‘Allah tidak serupa dengan sesuatu apa pun itu.’ Jika kau ditanya, ‘Kapan Allah (ada)?’, jawablah, ‘Dia awal yang tidak memiliki permulaan dan (Dia) akhir yang tidak memiliki penghabisan.’ Jika kau ditanya, ‘Allah berapa?’ jawablah, ‘Allah esa, bukan karena sedikit (kekurangan). Katakanlah Allah itu esa.”
Karena itu tatkala ada beberapa manusia yang mempertanyakan keberadaan Allah SWT adalah sesuatu yang bersifat manusiawi.
Bahkan Nabi Ibrahim AS, sebagai salah satu kekasih Allah SWT, saat ia remaja disebutkan pernah mencari keberadaan Tuhan dengan mengamati matahari hingga bintang-bintang.
Begitu pula Nabi Musa AS pernah mengajukan pertanyaan kepada Allah SWT.
Nabi Musa berkata, "Wahai Tuhanku perlihatkan kepadaku agar aku bisa melihat-Mu." Allah berfirman: "Kamu tidak akan melihatku." (QS. Al-A'raf: 143).
Jadi dalam ayat ini yang tidak bisa melihat itu "kamu (Nabi Musa AS)", dan Allah SWT tidak menyebut "Saya tidak dapat dilihat".
Berarti ada unsur di "kamu" yang menjadikan kamu tidak bisa melihat. Sebab unsur manusia didesain di dunia tidak abadi, siap rusak, makanya hancur.
Sementara nanti di akherat ,manusia itu didesain abadi. Karena desain manusia di akherat itu abadi. Maka punya kemampuan dzat yang abadi, yakni Allah SWT.
Hal serupa juga pernah ditanyakan oleh banyak umat Nabi Muhammad SAW, hingga akhirnya Allah SWT menjawab melalui firman-Nya.
Artinya: "Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Diriku, maka jawablah bahwa Aku ini dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaknya mereka itu memenuhi perintah-Ku dan hendaklah mereka yakin kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS Al Baqarah: 186).
Jangankan kita yang manusia awam, Rasulullah SAW yang sudah setingkat Nabi pun pernah mengalami keragu-raguan itu saat menerima wahyu pertama kali. Sehingga Allah memerintahkan untuk bertanya kepada siapa saja yang dianggapnya lebih mengerti tentang apa yang diragukan.
Dan terbukti dalam sejarah, Rasulullah SAW bersama Siti Khadijah pernah datang bertanya kepada seorang pendeta Ahli Kitab, Waraqah bin Naufal, di awal-awal masa kenabiannya.
Allah SWT berfirman, artinya: “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu (ahli kitab). Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (QS. Yunus: 94).
Banyak ayat al-Quran yang menjelaskan bagaimana Allah SWT memperkenalkan diri-Nya.
Artinya: “Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS, Thaha: 14)
“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS Al-Ikhlas: 1-4).
Dalam ajaran Islam tidak semua hal harus selalu bisa dijelaskan secara logika manusia.
Mengingat akal manusia yang terbatas dan Allah SWT sungguh Maha Besar sehingga mampu mewujudkan hal mustahil sekalipun. Karena itu iman jika diukur dengan akal tidak nyambung.
Daripada sibuk mencari tahu tentang sesuatu semuanya, lebih baik kita mensyukuri ciptaan dan kuasa-Nya. Alhamdulillah masih diberi makan, minum, dan hidup.
Berpikir tentang Allah SWT cukuplah dengan mengenal sifat-sifat-Nya. Jangan sampai kita berpikir tentang zat-Nya.
Karena manusia itu diciptakan terbatas, maka tidak akan mampu menjangkau sesuatu yang tak terbatas. Berpikir saja bukti bahwa Allah SWT itu ada, jangan berpikir tentang Allah SWT.
Sebagaimana Allah SWT berfirman. Artinya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11).
Lantas kenapa Tuhan mewajibkan hamba-Nya untuk beribadah?
Allah SWT sendiri telah menjelaskan tujuannya mewajibkan hamba-Nya untuk beribadah. Hal ini tertera dalam kitab suci Al-Qur’an.
Artinya: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,". (QS Az-Zariyat: 56).
Penciptaan manusia dan jin bukan karena Allah yang membutuhkan. Namun, semata-semata agar kedua makhluk tersebut mengakui kehambaan mereka kepada-Nya.
Sebab itu, setiap makhluk Allah SWT baik jin atau manusia sudah sepatutnya tunduk kepada peraturan-Nya dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Hal ini semata-mata untuk memenuhi tujuan awal dalam penciptaan jin dan manusia.
Bahkan sebelum manusia dilahirkan ke alam dunia, manusia pernah berjanji dan bersumpah kepada Allah SWT. Janji ini tercantum dan dingatkan pula oleh-Nya melalui Al-Quran.
Perjanjian itu telah kita lakukan ketika awal penciptaan ruh. Dalam artian, manusia telah dibekali fitrah untuk mempercayai dan mengakui ketuhanan dan keesaan-Nya semenjak belum diciptakan.
Allah SWT berfirman, artinya: “Dan ingatlah ketika Rabb mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu? mereka menjawab. “Betul (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikianitu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. Al A’raf: 172).
Ini adalah sebuah perjanjian saat kita berada di dunia dan diuji oleh Allah SWT, apakah kita termasuk orang-orang yang memegang teguh perjanjian tersebut.
Misalkan Anda bekerja kepada seseorang, digaji Rp10 juta perbulan, otmatis Anda harus mengikuti aturan yang ditetapkan majikan. Pastinya anda akan berbuat apa, bukan disuruh untuk tidur.
Kalau Anda menjadi pekerja rumah tangga, Anda pasti di suruh masak, nyuci, ngepel, nyetrika, bahkan ngurusin anaknya, serta orang tuanya yang jompo.
Kita pun juga sama. Tidak mungkin Tuhan menyuruh kita kecuali tanpa memberikan fasilitas. Tentu ada alasannya. Maka dari itu tujuan kita untuk hidup cuma satu, yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT.
Pastinya kita hidup di dunia ini tidak cuma-cuma, semuanya ada imbalan, yaitu pengabdian kepada Allah SWT.
Akan tetapi Tuhan bukanlah majikan anda bekerja. Menyuruh nyuci bajunya majikan, kemudian dipakai sang majikan. Juga menyuruh masak nasi yang makan majikan.
Kalau Allah SWT menyuruh kamu zakat bukan untuk dimakan Allah. Justru pada akhirnya semua kebaikan-kebaikannya yang kamu lakukan akan kembali kepada dirimu sendiri.
Betapa hebatnya Allah, difasilitasi, ditempatkan, dimuliakan kemudian diperintahkan dimana keuntungannya kembali kepada diri kita sendiri. Ketika kamu tidak nurut terlalu bodohnya dirimu.
Sedangkan Allah SWT berjanji. Artinya, “Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik kepada dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat keburukan berarti keburukan itu bagi dirimu sendiri.” (QS. Al Isra: 7).
Contohnya, tatkala kita sholat lima waktu, kebaikan sholat itu untuk kita sendiri. Kita berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, kebaikannya akan kembali kepada diri kita sendiri.
Kita membantu tetangga, bergotong royong membersihkan lingkungan, itu juga untuk kebaikan kita sendiri.
Sebaliknya, saat kita melakukan keburukan, maka keburukan yang kita lakukan itulah sesungguhnya yang akan kembali kepada diri kita sendiri.
Kita mencuri, keburukan mencuri itu akan kita rasakan sendiri, baik secara langsung atau tidak langsung, sekarang atau di akhirat kelak.
Kita tidak juga menjalankan sesuatu yang baik, maka keburukannya akan didapat oleh diri kita sendiri. Karenanya Allah SWT selalu mengingatkan manusia untuk selalu berbuat baik, karena itu demi diri kita sendiri.
Oleh karena itu, jika kita tidak beribadah maka akan menemui masalah. Seluruh kewajiban yang kita terima dari Allah SWT itu sebenarnya adalah untuk memaksimumkan seluruh potensi kita sebagai manusia.
Kewajiban beribadah, sama sekali bukan untuk Allah SWT. Karena Dia memang Dzat yang tidak membutuhkan apa-apa dari makhluk-Nya. Justru, makhluk-lah yang membutuhkan Dia.
Jika semua makhluk di alam semesta tidak menuhankan Dia, Allah tetap saja Tuhan Penguasa Seluruh Alam. Tidak berkurang sedikit pun keagungan-Nya.
Allah SWT berfirman, artinya: “Wahai manusia, kamulah yang bergantung dan butuh kepada Allah; sedangkan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS Faathir: 15).
Apakah dirimu sudah mengetahui bahwa dirimu adalah seorang hamba Allah. Dan hak-hak hamba adalah hendaknya tidak ikut serta mengurus dan mengatur sebagaimana tuannya.
Kewajibannya adalah melayani apa yang diperintahkan sang majikan, kemudian majikannya yang mengatur pemberian.
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran. Artinya: “(Wahai Muhammad) Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah di dalamnya (perkara shalat) aku tidak meminta rezeki darimu (untuk memberi rezeki kepada keluargamu) akan tetapi Akulah yang memberimu (dan keluargamu) rezeki. (QS. Thaha: 132).
Hal ini berarti tetaplah melayani majikanmu (Allah) dan majikanmu yang akan menyiapkan atau mengurus sandang panganmu.
Berlakulah ikhlas karena Allah saja, bukan karena mengharap pahala atau imbalan dunia ataupun akherat.
Barang siapa beramal karena mengharap surga, ia adalah hambanya surga. Barang siapa beramal karena Allah semata, ia menjadi hamba Allah SWT.
Dan sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah puncak atau akhir tujuanmu. Orang yang beramal karena Allah SWT, ia akan mencapai Allah SWT. (top)
Editor : Ali Mustofa