KUDUS – Pembangunan Masjid Sunan Muria terbilang tidak asal-asalan.
Raden Umar Said atau Sunan Muria membangun masjid tersebut penuh dengan filosofi pada setiap ornament bangunan.
Bangunan tersebut mempunyai pesan hubungan antarmanusia serta kepada Tuhannya.
Filosofi yang mendalam ini tertera pada mihrob atau pengimaman yang warnanya putih.
Di samping itu, mihrob tersebut tertera ukiran seperti bunga. Serta tertempel mangkok kecil di mihrob tersebut.
Menurut Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria, Mastur mengatakan, di mihrab tersebut tertempel ornamen-ornamen.
Benda seperti mangkuk tersebut memiliki makna yang mendalam.
”Mangkuk itu punya makna, ojo pageri omahmu nganggo tembok. Pageri omahmu nganggo mangkuk,” ungkapnya.
Kalimat tersebut, kata Mastur diartikan setiap orang jangan menutup diri. Manusia merupakan mahkluk sosial.
Perbanyaklah sedekah dengan sesama. Atau membagi rizki kepada tetangga sekitar dan akan punya manfaat menjaga keamanan rumah.
Selain itu, ada motif bunga Wijaya Kusuma yang terdapat di mihrab tersebut.
Bunga Wijaya kususma ini merupakan bunga surga yang melambangkan keabadian.
Setiap manusia diharapkan bisa taat, bertaqwa, dan hidup abadi di surga dengan memperoleh ridho Allah.
Mastur menambahkan, mihrab atau pengimaman di Masjid Sunan Muria ini yang didesain sedikit menjorok ke dalam. Sementara mihrab ini juga terbuat dari batu.
”Mihrab yang ke dalam ini melambangkan, manusia terutama murid Sunan Muria diharapkan mengutamakan akhirat. Karena hidup di dunia harus bisa menekan nafsu keduniawian,” jelasnya.
Sunan Muria juga meninggalkan amalan atau laku yang ditempelkan di mihrab tersebut.
Amalan tersebut ditempel pada piring yang diameternya cukup besar diantara mangkuk lainnya.
Pihak pengurus pernah mentahsihkan peninggalan Sunan Muria kepada Habib Luthfi bin Yahya.
Adapun isi dari tulisan arab pegon yang di atas piring berupa Asmahul Husna, surah Alfatihah, Al-Anfal ayat 63-64, dan Muawwidzatain.
Semua amalan tersebut merupakan wirid yang dibaca Sunan Muria dan hingga kini tetap diamalkan oleh para jemaah tiap satu bulan sekali. (gal/x)
Editor : Ali Mustofa