KUDUS – Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna diantara makhluk lainnya. Karena manusia dibekali akal, agama, rasa malu, dan amal shalih.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia selalu membutuhkan pertolongan dari manusia lainnya.
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, manusia harus mengutamakan kepentingan bersama dan menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat, saling berdampingan dan saling membutuhkan.
Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia memiliki tugas untuk membangun suatu peradaban yang bercirikan kemanusiaan dan kesetaraan.
Oleh karenanya, di dalam kehidupan bermasyarakat, tentunya manusia membutuhkan sahabat.
Tapi ada hal yang menarik dari sebuah pertemanan atau persahabatan, yaitu semakin tambah usia, semakin sedikit lingkaran pertemanan kita.
Hal itu sangat wajar karena memang makin sedikit pertemanan, menandakan bahwa kita makin dewasa.
Memiliki teman yang baik dan suportif merupakan salah satu kunci kebahagiaan dalam hidup.
Teman yang baik adalah sahabat yang senantiasa bisa memberikan manfaat kebaikan, mengingatkan kesalahan.
Bukan sahabat yang selalu membenarkan setiap langkah sahabatnya.
Meski begitu, tak semua orang akan mendapat sahabat atau teman yang baik.
Kebanyakan teman ini seperti “bayang-bayangmu”. Ketika engkau ditimpa sinar matahari kemana saja kamu pergi selalu mengikuti.
Tapi begitu kamu masuk kamar gelap, temanmu pun ikut pergi. Itulah temanmu.
Kenapa memilah dan memilih teman itu penting?
Karena kita itu harus memilih orang untuk mendapatkan perhatian, loyalitas, dedikasi, investasi waktu, pikiran dan tenaga.
Seseorang yang mendapat teman yang salah, membawa pengaruh negatif, menguras energi, pikiran, dan semuanya itu pun akan sia-sia.
Akibatnya bisa terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan dan kesesatan.
Tapi kalau kita memilih pertemanan yang tepat, maka investasi waktu, tenaga, pikiran dan semuanya itu akan ada timbal baliknya untuk kita juga.
Padahal Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk saling membantu dalam perbuatan baik dan melarang untuk saling mendukung dalam berbuat kejahatan, kebathilan, dan kedholiman.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Maidah ayat 2.
Artinya: “Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya sangat berat siksanya Allah”.
Oleh karena itu, setiap manusia dianjurkan untuk selalu menjaga hubungan baik dengan manusia lainnya.
Namun, kebanyakan dari kita seringkali tidak bisa membedakan manakah teman yang baik, dan teman yang membawa dampak buruk.
Yang temanmu kau musuhi sementara musuhmu kau sayangi. Bahkan tidak bisa membedakan mana hakmu dan mana kewajibanmu.
Jadi, jangan sembarang memilih teman, apalagi memilih kawan dekat, karena kita akan sangat dipengaruhi oleh kawan-kawan dekat kita.
Meskipun ada nasehat 'tidak boleh pilih-pilih teman' tapi nyatanya kita memang harus memilih mana orang-orang yang bisa dijadikan teman dan mana yang tidak.
Tidak ada yang lebih baik selain menjaga diri sendiri dari orang-orang yang punya pengaruh negatif kepada diri kita.
Maka dari itu mencari dan memilih teman yang baik bukan perkara mudah. Akan tetapi tanpa berusaha mencarinya, maka mustahil akan menemukannya.
Karena itu keahlian memilah pertemanan adalah keterampilan yang tidak boleh diabaikan, karena berteman dengan orang baik akan menyelamatkan kita.
Kalau Anda ingin hidup bahagia, cobalah hindari atau eliminasi untuk bergaul dengan lima tipikal orang ini.
1. Orang Dungu
Dungu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodoh, sok tahu, goblok. Dungu dalam Bahasa jawa berarti kumprung.
Makna dungu dalam perspektif agama adalah mereka yang tidak mau menerima kebenaran karena mempertahankan kesombongan dan kebodohan keyakinan.
Dungu adalah penyakit ujub, yaitu salah satu penyakit hati yang biasa diartikan mengagumi diri sendiri, takjub dengan diri sendiri, kagum dengan kehebatannya. Bisa dikatakan orang sangat individualis.
Ia merasa dirinya paling benar, merasa tidak pernah salah, alergi terhadap kritik, dan lebih parahnya lagi suka menjelek-jelekkan orang lain.
Ketika dinasehati tentang kejelekannya, dia tidak terima, menolak dan marah.
Dia merasa bahwa dirinya lebih pintar dari pada orang yang menasihatinya. Merasa pintar padahal goblok.
Dengan kata lain, dia tidak bisa meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Padahal dia tahu keburukan hal tersebut.
Misalkan, si Fulan terkena penyakit yang akut dan mengundang dokter untuk mengobatinya. Lalu si dokter menawarkan obat untuk meminumnya.
Bukannya meminum obat yang dibawa oleh dokter, Ia justru malah terlalu sibuk bertanya tentang khasiat obat yang dibawa dokter tersebut.
Orang demikian tidak memiliki manfaat bagi dirinya sendiri bahkan orang lain.
Bahkan Imam Syafi’i juga mengajarkan untuk tidak berdebat dengan orang bodoh kuadrat ini.
Seperti dikatakannya: "Setiap kali berdebat dengan kaum intelektual, aku selalu menang. Tetapi anehnya, kalau berdebat dengan orang bodoh, aku kalah tak berdaya".
Sifat buruk orang bodoh kuadrat ini juga disebutkan dalam Al Quran.
Artinya: “Dan bila dikatakan kepada mereka: 'Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi', mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.'" (QS. Al-Baqarah: 11).
Menurut kaum sufi, ada empat tingkatan manusia.
Pertama adalah orang pintar dan dia tau bahwa dirinya pintar. Ia ilmuwan, kaum bijaksana. Maka ambillah darinya, yang perlu menjadi rujukan
Yang kedua, orang pintar dan dia tidak tau bahwa dirinya pintar.
Orang seperti ini adalah orang lupa maka ingatkanlah ia. Dan disadarkan akan kelebihannya dan bisa bermanfaat untuk orang lain.
Yang ketiga, orang bodoh dan tau bahwa dirinya itu bodoh. Orang yang seperti ini adalah penuntut ilmu, maka ajarilah ia.
Dan yang keempat adalah orang yang bodoh dan dia tidak tau bahwa dirinya bodoh, inilah orang dungu.
Lalu bagaimana sikap terbaik yang harus kita ambil saat berhadapan dengan orang dungu? adalah diam dan menjauhinya.
2. Orang Kikir
Kikir atau pelit, bisa juga disebut bakhil, termasuk salah satu penyakit hati yang biasanya melekat pada diri seseorang yang harus dihindari.
Orang pelit susah untuk berbagi, apalagi membantu saudaranya.
Sifat ini mendorong seseorang untuk menumpuk harta tanpa pernah mau memerhatikan nasib saudaranya.
Dia tidak peduli dengan kondisi orang lain, yang penting dia sendiri bahagia.
Orang kikir akan menular kepada orang lain. Karena orang kikir tidak bisa hidup sendirian, perlu mengajak orang lain untuk berbuat kikir.
Orang kikir juga tidak pernah melihat segala sesuatu sebagai kedermawanan, melainkan keborosan.
Penyakit kikir ini menular. Ada orang yang dahulunya dermawan, tetapi setelah bertemu orang kikir jadi pelit.
Kenapa bisa demikian? Karena energi negatif orang pelit itu lebih kuat dibanding orang dermawan.
Orang yang energinya positif hanya membujuk, tetapi orang yang energinya negatif menekan. Jadi virusnya menular. Seperti penyakit TBC.
Orang bakhil tidak mungkin ditambah kebahagiaannya. Karena orang bakhil itu sengsara hidupnya dalam ketakutan, yaitu takut miskin.
Karena sejak awal ada persepsi yang salah. Menurutnya kebahagiaan bagi dia adalah banyaknya materi. Padahal materi dan kebahagiaan tidak ada hubungannya.
Pertanyaannya, adakah orang miskin bahagia, kenapa pula ada orang kaya hidupnya sengsara?
Pertanyaan selanjutnya, enak mana makan sate atau makan ikan asin?
Bagaimana kalau giginya sakit? Jadi yang enak itu sate, ikan asin atau giginya yang sehat?
Berarti faktor yang paling berpengaruh kebahagiaan itu adalah kesehatan bukan materi. Bahwa kebahagiaan dan materi tidak ada hubungannya.
3. Orang Munafik
Salah satu jenis teman yang buruk dan sebaiknya kita hindari berikutnya adalah teman yang mempunyai sifat Munafik.
Dalam Islam di salah satu hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Di antara tanda orang munafik itu ada tiga: Jika berbicara, dusta. Jika berjanji, tidak di tepati. Jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Muslim).
Orang yang munafik itu seolah-olah tampak tersenyum di hadapan kita, mengapresiasi, dan memujinya.
Namun saat di belakang kita, mereka menjelek-jelekkan kita.
Punya teman yang munafik memang tidak menyenangkan. Kita pun pasti tak mau memiliki teman tukang bohong.
Jika teman suka membohongi, apalagi hingga berkali-kali, maka dia bukanlah teman yang baik.
Disamping itu, saat mereka diberikan kepercayaan tapi dengan mudahnya mengkhianati.
Pastinya kita juga akan selalu memberikan kepercayaan kepada teman baik.
Ketika mereka yang diberi kepercayaan selalu berkhianat, kemungkinan terbesar adalah janji dengan Anda itu tidak prioritas.
Anda harus menghindar dari lingkaran pertemanan ini.
Tak hanya itu, saat membuat janji dengan teman pastinya kita akan sebal jika mereka mengingkari.
Pokoknya kalau ketemu dia, ada aja yang bikin jengkel karena orangnya nggak tahu diri.
Kalau dikasih tahu, dia malah pura-pura lupa ingatan.
Bila teman selalu mengingkari janji yang dibuatnya, bisa dikatakan ia orang yang munafik.
Janji adalah hutang dan jika mereka terus-menerus mengingkari janjinya, tentu saja bisa membuat kita malas untuk berteman lagi dengannya.
Berteman dengan orang munafik hanya bisa menguras energi, tenaga dan kebahagiaan kita.
Itulah sebabnya orang munafik memiliki cara untuk memanipulasi suatu kejelekan sehingga terlihat seolah-olah merupakan sesuatu yang baik.
Jika memiliki teman yang memiliki tiga tanda dari sifat munafik ini sebaiknya segeralah menghindarinya dan jangan sampai kita menjadi korban.
Saat mencari teman, tentunya kita berharap mereka memiliki sifat yang baik dan penyayang.
4. Orang Manipulatif
Manipulatif adalah sifat seseorang yang sengaja memanfaatkan orang lain dengan mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri.
Seringkali menggunakan strategi tidak jujur hingga eksploitatif yang merugikan orang lain.
Orang manipulatif akan menyerang orang lain secara mental maupun emosional untuk mendapatkan yang mereka inginkan.
Mereka berusaha memanfaatkan, mengendalikan, atau mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri.
Yaitu mengambil keuntungan dari korban untuk memperoleh kekuatan, kontrol, keuntungan, atau kemudahan.
Bahkan yang lebih ekstrem, orang manipulatif mungkin menggunakan ancaman, kekerasan fisik, atau kekerasan verbal untuk memaksa orang lain tunduk pada keinginannya.
Orang-orang ini merasa paling benar sendiri.
Jadi semuanya itu dia merasa paling perfect dalam lingkungannya, dia mengatur kanan kiri, ngebossy, tukang kritik.
Apa yang kita lakukan semuanya salah, pokoknya dia yang paling benar. Orang lain tidak punya hak untuk bicara, dia yang ngatur.
Seringkali orang manipulatif akan membangun kedekatan emosional dengan sang korban hingga terbentuk hubungan erat. Dengan begitu, ia akan lebih mudah menipu korban.
Sebenarnya ini adalah trik orang manipulatif untuk mendapatkan rahasia terdalammu atau mendapatkan sesuatu yang sangat privat dirimu.
Umumnya, orang manipulatif menyukai drama.
Ia seringkali memiliki kecenderungan untuk mengganggu dan mengintimidasi orang yang mereka anggap lebih lemah dan tak berdaya.
Dia tahu bahwa orang lemah bisa dimanfaatkan ibarat batu yang menarik perhatian.
Tak hanya itu, orang manipulatif suka menjebak seseorang dengan beragam pertanyaan ajaib, dan dapat menyerang begitu melihat ada celah pada penjelasan Anda.
Manipulator mempersilakan lawan bicara untuk berbicara lebih dulu terkadang dilihat sebagai sikap sopan dan menghargai orang lain.
Padahal bisa saja orang tersebut justru ingin memanipulasi lawan bicaranya secara emosional.
Supaya dia bisa membolak-balik kata-kata lawan bicara dan menyerang balik dengan telak.
Contoh kalimat yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah: “Coba jelaskan kenapa kamu marah atau tidak suka pada saya”. "Yaelah bercanda doang, gitu aja marah...".
Salah satu cara menghadapi orang manipulatif adalah dengan tidak perlu menjelaskan apa yang sedang dilakukan atau dirasakan.
Sebab, menonjolkan diri atau menunjukkan kerapuhan dapat dimanfaatkan oleh manipulator untuk kepentingannya sendiri.
Oleh karena itu dibutuhkan ketegasan, kepercayaan diri, serta keterampilan komunikasi yang baik.
Salah satu jawaban yang pas buat orang manipulatif adalah “emang gue pikirin (EGP)”.
Itulah sebabnya manipulator kurang suka dengan perilaku sikap acuh tak acuh itu, karena dianggap membosankan.
Sebenarnya, menghadapi orang manipulatif bukan berarti kita membalas dendam.
Tetapi lebih tentang melindungi diri sendiri dengan bijak dan menjaga kesehatan hubungan interpersonal yang seimbang.
Tujuan kita ingin berteman bukan berarti diwajibkan untuk menuruti satu perintah. Namun teman seperti ini tanpa sadari banyak di lingkungan kita.
Persahabatan yang sehat seharusnya terasa seperti ruang aman di mana kamu bisa menjadi diri sendiri, tanpa rasa takut dihakimi.
Oleh karena itu kita harus menjauh, mengeliminasi dia sebagai teman.
Karena membuang-buang waktu melakukan sesuatu yang dia sukai sedangkan kita tidak sukai.
Padahal pertemanan itu sama-sama kita melakukan apa yang kita sukai, saling memberi dan saling menerima
Apalagi kalau kita cuma selalu mendengarkan orang lain tanpa kita juga didengarkan, yah capek dan buang-buang energi saja.
Jadi kalau Anda pengen hidupnya tenang, bahagia, tidak ngedumel dalam hati, tidak dongkol dalam hati, maka Anda harus mengeliminasi orang-orang yang banyak drama, suka ngatur, ngebossy dan tukang kritik ini.
5. Orang Suka Mengeluh
Mengeluh itu adalah hal biasa dan dialami setiap orang. Tapi suka mengeluh yang tidak wajar, apa-apa dikeluhkan, itu masalah.
Misalkan, makan di satu tempat dibilang makanannya tidak enak.
Kalau makanannya enak dibilang tempatnya yang nggak bagus.
Ketika tempatnya bagus dan makanannya enak, dibilang pelayannya yang kurang ramah.
Ketika pelayannya sudah ramah, makanannya enak, tempatnya bagus, dibilang terlalu jauh dari tempatnya.
Pokoknya apa aja dia keluhkan. Jadi hidupnya itu selalu dengan keluhan, apa-apa dia keluhkan.
Dia selalu mencari masalah dari setiap solusi, bukan mencari solusi dari setiap masalah.
Setiap ketika bertemu dia, yang tadinya baik-baik saja, semuanya menjadi tidak bagus, karena ada saja yang dikeluhkannya.
Oleh karena itu, seseorang yang suka mengeluh dalam hidupnya, tidak pernah merasa puas dalam hidupnya, dipastikan selalu merasa kekurangan.
Ia tidak pernah bisa menerima apa yang Tuhan beri dengan ucapan syukur.
Kalau Anda ketemu dengan orang yang tukang mengeluh, itu cuma akan menguras energi, hanya akan membuang waktu.
Padahal Anda butuh teman itu untuk sama-sama memotivasi, sama-sama mendengarkan, sama-sama membangkitkan semangat.
Jadi, biar tidak menguras energi Anda, eliminasi lah temen-temen yang suka mengeluh ini.
Tidak menjadikan dia teman, bukan berarti kita membencinya. Kita cuma memprotect diri supaya tetap semangat, tetap antusias.
Karena dalam menjalani hidup membutuhkan energi positif.
Kalau lingkaran Anda punya energi yang negatif, lama-lama Anda akan memandang dunia secara negatif.
Jadi sangat sayang sekali, buang-buang waktu kalau Anda menghabiskan waktu dengan orang-orang yang tukang mengeluh ini. (top)
Editor : Ali Mustofa