Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tolong Catat Baik-baik! Inilah Tiga Cara Membuktikan Sahabat Anda Baik Atau Palsu

Ali Mustofa • Senin, 6 Mei 2024 | 15:03 WIB
Photo
Photo

 

KUDUS – Dalam membangun kebersamaan sosial, manusia terikat dan saling ketergantungan satu sama lain.

Yaitu membutuhkan teman untuk menjalani kehidupan. Bahkan dianjurkan untuk memperbanyak teman yang baik.

Berteman hakekatnya menjaga hubungan baik dengan sesamanya, yang disebut hablum minannas.

Dengan menjalin persahabatan, manusia diharapkan bisa saling membantu, mengingatkan dan menasihati dalam kebaikan yang didasarkan pada kejujuran.

Juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan, menghindari perselisihan dan permusuhan.

Karena itu ada adab yang harus dijaga. Misalkan jangan suka menjahili, mengganggu, dan menyakiti.

Selain itu, ketika berbicara dengan teman hendaknya gunakanlah perkataan yang baik, bertutur kata yang santun dan beradab serta penuh kasih sayang.

Berbicara diartikan suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dipahami oleh orang lain.

Seseorang dikatakan santun atau tidak ditentukan oleh sikap berbahasanya, meliputi nada suara, bahasa tubuh, ekspresi wajah, intonasi dan makna yang disampaikan.

Juga hindari banyak berdebat dalam berbicara apalagi sesuatu yang diperdebatkan adalah hal-hal yang sepele yang membangkikan permusuhan.

Belajarlah menempatkan diri di posisi orang lain dengan membayangkan apa yang ia rasakan dan pikirkan.

Sebab, setiap orang pasti ingin dihargai dan menghargai, serta berpikir pentingnya menjaga perasaan satu sama lain.

Meskipun demikian, dalam menjalin persahabatan manusia diminta untuk selektif dalam memilih teman terdekatnya.

Teman yang baik akan memberikan pengaruh yang baik, sedangkan teman yang buruk juga bisa memberikan pengaruh yang buruk.

Makanya jangan salah memilih lingkungan. Jangan hanya karena dunia (harta, gelar, pangkat jabatan) kita mengabaikan lingkungan baik.

Kalau kita sudah masuk ke lingkungan buruk seperti “pandai besi”, baju kita terpercik api, kita terbakar atau kita mendapat bau bakaran.

Tapi kalau bergaul dengan orang baik seperti “penjual minyak wangi”, kita bisa membeli minyak wangi, bisa dikasih minyak wangi atau ikut harum karena dekat dengannya.

Ketika mendapatkan lingkungan yang baik, itulah nikmat besar dari Allah SWT sesudah nikmat Iman dan nikmat sehat.

Begitu besarnya pengaruh teman, sampai-sampai Rasulullah SAW mengajarkan doa agar kita jauh dari teman yang buruk.

''Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari teman yang penipu, matanya memandangku, dan hatinya mengawasiku, jika dia melihat kebaikan padaku, disembunyikannya hal itu dan jika dia melihat keburukanku disiarkannya.'' (HR Ibnu Hajar).

Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah seseorang itu sahabat sejati ataukah palsu tidaklah mudah. Butuh pengertian yang dalam tentang hubungan itu.

Setidaknya ada beberapa pertanyaan yang perlu diajukan supaya tidak bingung seberapa setia, suportif, dan tulusnya sahabat Anda.

Mungkin inilah saatnya apakah persahabatan yang telah terbangun layak untuk dipertahankan.

Pertama, pernahkah Anda melakukan perjalanan dengannya.

Jadi, dengan melakukan perjalanan, akan terlihat akhlak atau kebiasaan seseorang itu seperti apa. Baik dikala susah maupun bahagia.

Sebab persahabatan itu hubungannya dengan kebaikan dan pengorbanan.

Masing-masing ingin memberikan pengorbanan, membahagiakan pihak yang lain.

Dia datang akan menanyakan “apa yang bisa saya bantu”, bukan “apa yang bisa anda berikan kepada saya”.

Kita tahu dalam berteman tidak selamanya berjalan mulus, ada suka-duka, kadang terjadi cekcok, pertengkaran.

Lalu lihatlah cara teman Anda bersikap tatkala lagi bertengkar.

Jika ia merasa marah, tetapi masih ingin berteman dengan Anda, ia benar-benar menyayangi Anda.

Sebaliknya, jika ia ingin memutuskan tali persahabatan karena Anda tidak memenuhi kemauannya, ia bukanlah teman yang sebenarnya.

Lewat kesabaran terhadap keadaan tersebut dan mengajak teman kita untuk kebenaran atau kita meminta maaf tatkala ada salah, justru semakin mempererat hubungan kedepannya.

Karena itu adanya perjalanan, akan timbul rasa capek, letih, pengorbanan waktu, energi, maka hal itulah yang akan dilihat loyalitasnya.

Misalkan saat berteman dengannya di kota kelihatan baik-baik saja.

Namun tatkala diajak perjalanan bersama tampak sikap emosional, tidak mau membelikan sesuatu, tidak mau traktir makanan, tidak mau berkorban apapun.

Dia cuma duduk di mobil temannya, tak perlu mengeluarkan uang bensin, uang tol, juga tak ada mimpi mencari restoran cuma tinggal tunggu, bahkan tidak membayar sama sekali.

Jika tidak ada kesetiaan dan loyalitasnya, maka orang ini tidak layak dijadikan sahabat.

Kedua, pernahkah Anda melakukan muamalah dengannya.

Tabiat seseorang akan tampak ketika sudah berkaitan dengan muamalah yang bersifat keuntungan duniawi.

Muamalah adalah suatu perkara atau urusan yang mengatur hubungan antar sesama manusia. Baik secara individu maupun berkelompok.

Biasanya kalau sudah ada urusan muamalah terutama dalam bidang bisnis, atau yang menghasilkan uang, orang itu akan nampak sekali keserakahannya, egoisnya, dan kelicikannya.

Tatkala belum berbicara uang mungkin masih baik-baik saja.

Tapi kalau sudah ada muamalah yang bersifat finansial, kemudian bagi-untung yang berbau keuntungan duniawi, karakter orang itu akan kelihatan.

Yang tadinya belum apa-apa sudah sangat ingin untung banyak, ingin dominan, dan ketika nanti bagi-hasil akan nampak sekali karakternya.

Ketiga, sudah pernahkah Anda memberi amanah kepadanya.

Amanah adalah suatu titipan yang benar-benar harus dijaga dan tidak boleh diingkari.

Amanah bisa berupa benda maupun perkataan. Amanah ini akan nampak pada akhlak seseorang.

Tatkala pinjam motor, mobil, atau dititipin sesuatu itu namanya amanah. Jangan disentuh, dan jangan dipakai kecuali ada izin sama pemiliknya.

Kalau orang yang akhlaknya baik, biasanya dengan amanah itu sangat dijaga dengan hati-hati.

Atau mungkin Anda menyadari saat kebiasaannya untuk meminjam sesuatu mulai ada masalah.

Ia akan berutang pada Anda dan tidak membayar utangnya.

Dengan kata lain, ia akan meminta bantuan Anda, tetapi tidak pernah membayar utang budinya.

Ia akan meminjam barang-barang Anda dan tidak mengembalikannya. Atau saat mengembalikannya, benda tersebut sudah rusak.

Ia bahkan akan membiarkan orang lain mengenakan atau menggunakan barang-barang milik Anda.

Ada juga orang yang sepertinya baik, misalkan sudah telepon dan berjanji akan datang pukul tujuh pagi.

Lalu kita sudah menunggu, tapi dia datang pukul setengah delapan tanpa merasa bersalah, lalai saja sesukanya.

Ia mungkin berjanji akan menelpon Anda kembali, tetapi tidak pernah melakukannya.

Ia selalu membuat Anda menunggu dan mengarang alasan mengapa tidak menelpon Anda.

Oleh karena itu waspadai orang yang selalu membuat Anda melakukan apa yang ia inginkan.

Orang ini mungkin menganggap teman sebagai kepunyaan, bukan manusia.

Jika Anda berteman dengannya, dan ia benar-benar menguras tenaga, kesabaran, serta waktu secara terus menerus, sebaiknya Anda tidak menganggapnya sebagai salah satu teman dekat (sahabat). (top)

Editor : Ali Mustofa
#Amanah #persahabatan #pengorbanan #adab #teman