KUDUS – Dalam menjalami kehidupan bermasyarakat, manusia diminta untuk berhati-hati dalam memilih teman.
Bukan berarti manusia harus menutup diri dan tidak memperbanyak perkenalan. Melainkan harus hati-hati dalam menentukan teman terdekat.
Lebih baik lagi bila kita bisa berteman dengan siapa saja.
Jika berteman dengan orang baik, itu anugerah yang harus disyukuri.
Sebaliknya, ketika berteman dengan orang yang tidak baik, maka kita lah yang harus berusaha membawa kemanfaatan padanya dengan mengajaknya menjadi lebih baik.
Kita tidak bisa memungkiri bahwa pengaruh teman atau lingkungan berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter manusia.
Lalu, seperti apakah teman yang dikatakan baik itu?
Rasulullah SAW telah memberikan bimbingan dan tuntunan kepada kita tentang kriteria teman.
''Orang yang terpilih di antara kalian adalah orang yang mengingatkan kalian kepada Allah jika melihatnya, perkataannya menambah giat kalian untuk beramal, dan amalnya membuat kalian makin mencintai akhirat.'' (HR al-Hakim dari Ibnu Umar).
Rasulullah SAW juga mengingatkan: “Apabila seseorang itu dikehendaki oleh Allah menjadi baik, maka Allah memberi rizki padanya berupa seorang kekasih (sahabat) yang shalih. Jikalau ia lupa, kekasih itulah yang mengingatkannya dan jikalau ia ingat maka kekasih itu suka pula menolongnya”. (HR Abu Dawud).
Dalam ilmu tasawuf, Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari di dalam Kitab Al Hikam mengatakan, berteman atau bersahabat menjadi urusan besar yang diperhitungkan selain ilmu dan guru.
Menurut Ibnu Athaillah, dengan berteman itulah ada banyak manfaat sekaligus madhorotnya, karena mempengaruhi perilaku kita.
Coba diperhatikan, saat berjumpa seseorang yang baru kenal maupun sudah lama mengenal, ada perasaan kita ingin selalu berbuat baik saat bersamanya. Jadi Ingat kepada Allah SWT.
Begitu sebaliknya, saat bertemu orang lain mungkin kita merasa jengkel, marah, tidak nyaman, perasaannya ingin berbuat maksiat terus.
Jika kita bertemu dengan orang dalam kriteria pertama berarti teman tersebut punya pengaruh baik terhadap dirimu, maka jadikanlah ia sebagai teman.
Sebab dia memiliki aura kebatinan atau getaran kewibawaan yang baik. Sedangkan yang kedua jauhilah teman tersebut.
Kenapa bisa terjadi demikian?
Sebab, ruh itu berkelompok menurut kelompoknya. Nafsu itu diberi watak oleh Allah SWT suka meniru.
Bagaimanapun juga wataknya seseorang bisa mencuri watak orang lain. Artinya bisa menular.
Anda yang seharusnya mempunyai watak baik malah bisa tertular menjadi buruk bila berteman orang buruk.
Artinya, pergaulan atau lingkungan itu sangat berpengaruh besar terhadap kepribadianmu.
Ada ungkapan, jika kita berteman dengan orang kaya niscaya akan tertular kayanya.
Begitu juga ketika berteman dengan orang yang ahli sepakbola, harusnya keterampilan kita tentang sepakbola makin meningkat. Inilah yang disebut pertemanan.
Namun terkadang yang terjadi, tujuannya berteman malah diri kita yang diatur dan dimanfaatkan.
Misalkan saat dirimu diminta dorong mobilnya, usai mobilnya berjalan dirimu ditinggalkan begitu saja.
Yang asalnya kita kaya, setelah berteman malah jadi miskin.
Yang asalnya kita ahli ibadah, usai bertemu orang yang gemar narkoba, malah jadi pecandu narkoba. Ini namanya kerugian.
Bagaimana kriteria bersahabat menurut Syekh Ibnu Athaillah
Dalam Kitab Al Hikam dikatakan: ”Wa laan tashab jaahilan laa yardhoo an nafsihi khoirun min an tashaba aaliman yardhoo waayyu ilmin yardho ‘am nafsihi waayyu jahlin lijaahilin laa yardhoo ‘an nafsihi”.
Artinya: Bersahabat dengan orang bodoh yang tidak memperturutkan hawa nafsunya itu lebih baik bagimu dari pada bersahabat dengan orang pandai yang memperturutkan hawa nafsunya.
Terkadang orang berilmu ada yang terjerumus ke dalam lembah hawa nafsu dan kemaksiatan, karena ilmunya tidak mampu mengeluarkan dirinya dari jebakan nafsu.
Orang berilmu merasa mampu dan sombong dengan ilmunya, padahal ia terjebak dengan hawa nafsunya.
Sebab dia akan menggunakan dalil pembenaran untuk menjalankan nafsunya.
Sebaliknya, kebodohan malah bisa menyelamatkan dari hawa nafsu.
Menurut Ibnu Athaillah, teman yang baik itu adalah teman yang memiliki akhlak yang baik sekalipun orangnya bodoh.
Sedangkan pergaulan yang jelek adalah bergaul dengan orang pandai, tetapi aklaknya buruk dan hanya menuruti hawa nafsu.
Jadi kualitas teman bergaul itu ditentukan bukan karena kepandaiannya, melainkan akhlaknya.
Apa itu nafsu? Nafsu seringkali diidentikkan dengan segala yang buruk seperti emosi atau hasrat yang berhubungan dengan seksual.
Sebenarnya nafsu itu sangatlah luas dan mencakup hal.
Nafsu sendiri tidak punya salah karena ciptaan Allah SWT, sebagai software yang ada pada diri kita.
Nafsu mempunyai dua sisi yaitu positif dan negatif. Nafsu negatif lebih kuat pengaruhnya dibanding nafsu positif.
Diketahui, pangkal segala macam maksiat dan berpaling dari Allah SWT adalah suka menuruti hawa nafsu.
Di dalam al-Quran Allah SWT berfirman: ”innannafsa la ammaratum bissu’i - illa maa rahima rabbi”.
Artinya: Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan. (QS. Yusuf: 53).
Ada beberapa istilah nafsu di dalam al-Quran, yaitu: nafsu amarah, nafsu lawwamah, nafsu mulhamah, nafsu muthmainnah, nafsu radhiyah, nafsu mardhiyah, dan nafsu kamilah.
Oleh karenanya, carilah teman yang kepentingannya kepada Allah SWT.
Yang mampu membangkitkan semangatmu untuk taat beribadah kepada Allah SWT dan memberikan nasehat serta mengingatkanmu bila engkau berbuat kesalahan.
Hal ini sesuai yang dikatakan Ibnu Athaillah.
“Jangan berteman dengan orang yang tingkah lakunya tidak membangkitkan semangat taat kepada Allah, dan kata-katanya tidak bisa menunjukkan engkau ke jalan Allah”
Menurut Ibnu Athaillah, ada dua manfaat yang didapat dalam bersahabat
Pertama, karena pengaruh aura kebatinan atau getaran kewibawaannya itu bisa mempengaruhi kamu menjadi lebih baik.
Kedua, karena ucapannya selalu mengajak menuju kepada Allah SWT.
Lewat ucapannya kita mendapatkan ilmu dan hikmah.
Bukan sahabat yang membiarkan kita dalam kemaksiatan, dan terjerumus dalam kezaliman.
Lalu, bagaimana dengan aura kebatinan yang bisa membangkitkan itu?
Jadi seseorang yang kita jadikan teman atau sahabat itu pandangannya selalu menuju Allah SWT, tidak pernah menganggap makhluk.
Maksudnya, di dalam memenuhi kebutuhannya dia tidak pernah sambat pada selain Allah SWT. Semua hajatnya dilangsungkan menuju Allah SWT.
Sebab dia punya keyakinan, saya ada ini karena Allah SWT, saya makan juga tidak minta orang, yang memberikan adalah Allah SWT.
Anda menghina maupun menyanjung pun juga tidak ada efeknya, semua karena Allah SWT.
Apalagi memikirkan orang lain, dirinya sendiri tidak mampu berbuat sesuatu, dan tidak bisa menentukan nasibnya sendiri.
Satu-satunya yang punya kemampuan hanya Allah SWT.
Kalaupun harus berbuat, harus melakukan sesuatu karena Allah SWT. Yang bisa Allah SWT, yang memberikan Allah SWT.
Meskipun orang itu sedikit ibadahnya, dan sedikit amal sunnahnya, orang semacam itu aman dan bermanfaat.
Sebab orangnya sendiri tidak berbahaya.
Orangnya sendiri tidak minta dirimu, butuhnya ke Allah SWT. Justru dirimu lah yang diajak ke Allah SWT.
Jika bertemu orang seperti itu, dialah orang yang layak dijadikan teman atau sahabat.
Namanya orang tulus, melakukan sesuatu tanpa ada kepentingan-kepentingan dibaliknya. (top)
Editor : Ali Mustofa