KUDUS - Semua manusia pasti menginginkan hidupnya sukses dan beruntung. Tidak ada satu pun orang yang mau hidupnya rugi.
Meski begitu tidak semua orang mengerti apa itu arti keberuntungan yang sebenarnya.
Keberuntungan itu tidak selalu diukur dengan seberapa banyaknya uang, gelar, pangkat, jabatan, popularitas, serta penampilan. Itu hanyalah casing.
Keberuntungan yang sejati ternyata harus sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah SWT. Seperti yang termaktub dalam Surat Al Ashr ayat 1-3.
Allah SWT berfirman: “Wal ashri. Innal insaana lafii khusr. Illalladziina aa manuu wa amilus shalihaati watawa saubil haqqi wa tawaa saubis sabr.”
Artinya: Demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (amal saleh), serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.
Itulah sebabnya, Surat Al Ashr mengajarkan manusia jalan keluar dari keadaan kehilangan dan bagaimana cara mengatasi berbagai persoalan hidup yang sedang dihadapi.
Dari empat cara menjadi orang yang beruntung dalam Surat Al Ashr, beriman adalah salah satunya.
Yaitu orang yang menggunakan waktunya untuk memahami kebenaran.
Oleh karena itu, jikalau kita tidak paham arti kebenaran, kita pun juga tidak akan bisa bersikap.
Beriman itu buah dari paham terhadap kebenaran. Barangsiapa yang menggunakan waktunya tidak paham agama dipastikan rugi.
Iman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kepercayaan (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dan sebagainya.
Sedangkan beriman mengandung arti mempunyai iman (ketetapan hati); mempunyai keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Jadi beriman bisa diartikan percaya kepada Allah dengan sepenuh hati yang dibuktikan dengan perkataan dan perbuatan.
Iman menjadi pondasi utama bagi manusia. Ikrar iman paling dasar sebenarnya tertuang dalam rukun iman yang pertama, yakni membaca dua kalimat syahadat.
Dalam Al-Qur'an surah Al-Hujurat ayat 15 dijelaskan, “Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itu orang-orang yang benar.”
Iman itu adalah pembenaran hati, bukan sekedar pembenaran akal. Sebab, karena ada sesuatu yang tidak bisa jangkau menurut akal pikiran.
Kalau hati membenarkannya maka sudah dinamakan iman.
Karena itulah iman merupakan percaya kepada apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.
Maka hendaknya perlu diasah dan diasuh sehingga mencapai suatu tingkat yang mantap, yaitu dapat mencapai tingkat keyakinan.
Orang yang beriman adalah orang yang mengakui Allah SWT, kemudian keimanannya tersebut diterapkan didalam kehidupannya.
Jadi, wajib bagi kita memahami makna hidup ini seperti apa? Jangan sampai kita hidup dan tidak mengerti hidup ini. Hidup bukan sekadar minum kopi.
Yang perlu dicari tahu jawabannya adalah, “Ingin menjadi apa” diri kita ini?... Apa arti hidup itu? Untuk apa kita hidup? Mengapa kita hidup? Bagaimana cara mengisi hidup? Dan bagaimana mempertanggungjawabkan hidup ini untuk kehidupan setelahnya?
Manusia hidup pasti punya impian hidup, yaitu mencari ridho Allah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Sudah dijelaskan dalam Al Quran, Allah berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. Az Zariyat: 56).
Untuk itulah, perintah di dalam Al Quran sudah sangat tegas, yakni beribadah kepada Allah SWT.
Dengan adanya keimanan, membuat kita memahami bahwa manusia diberikan kehidupan di dunia ini sebagai kesempatan, dan cara untuk mencapai kebahagiaan sekarang maupun di kemudian hari.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al Mulk ayat 2. Artinya: "Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Mahapengampun."
Sementara itu, ccendekiawan Muslim Indonesia, Prof Muhammad Quraish Shihab, mengatakan hidup itu ditandai oleh tiga hal. Yakni rasa, gerak, dan tahu.
Semakin peka perasaan kita, semakin dinamis gerak kita, semakin banyak pengetahuan kita, dan semakin berkualitas hidup kita.
Karena itu, hiduplah dalam arti. Jadikan hati kita selalu peka merasakan perasaan orang lain.
Jadikan hidup kita selalu mengarah pada penambahan pengetahuan dan gerak yang dinamis.
Maka kalau ditanya apa yang paling urgen dalam hidup ini?
Jawabnya adalah belajar mengenal Allah, yaitu belajar mengenal apa yang disukai Allah dan yang tidak disukai, berupa perintah dan laranganNya.
Serta mengenal konsekuensi kalau kita mematuhi apa hasilnya, itulah ilmu agama.
Rasulullah SAW bersabda: “Man yuridillahu bihi khairan yufaqqihhu fiiddiin.”
Artinya: Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan untuknya, maka akan dipahamkan padanya ilmu agama”. (HR. Bukhori dan Muslim).
Ilmu mengandung makna kejelasan. Ilmu ialah terungkapnya sesuatu dalam keadaannya yang sebenarnya.
Ilmu bukan sekadar hasil belajar-mengajar, melainkan dia ialah cahaya yang menerangi perjalanan seseorang.
Ada yang berkata bahwa ilmu ada dua macam. Ada ilmu di akal dan ada ilmu di hati yang menjadi cahaya.
Ilmu yang di akal bisa menjadi saksi pemberat bagi pemiliknya kalau dia tidak terbimbing oleh ilmunya.
Sedangkan ilmu yang menjadi cahaya itu berada di dalam kalbu yang memberikan tuntunan kepada seseorang untuk mendapatkan kebenaran, kebaikan, dan keadilan.
Hendaknya seseorang memahami agama dengan pemahaman yang benar sehingga membuahkan amal.
Bahkan semestinya juga berbuah dakwah dan memberikan peringatan kepada orang lain, sebagaimana terdapat dalam firman-Nya:
“Tidak sepatutnya bagi seluruh kaum mukminin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya“. (QS. At Taubah: 22).
Ilmu merupakan sarana untuk mencapai tujuan mendekatkan diri kepada Allah, karena seseorang tidak akan bisa mendapat kebaikan kecuali dengan memahami ilmu dengan makna.
Jadi kalau ada orang diberikan harta, gelar, pangkat, jabatan, popularitas, penampilan, itu tidak identik dengan diberi kebaikan. Itu baru cobaan.
Tapi ketika diberikan paham soal kebenaran, itulah awal orang itu dikehendaki kebaikan.
Maka yang perlu dilakukan adalah paham kebenaran serta hikmah.
Hikmah ialah kemampuan memilih perbuatan yang terbaik yang sesuai dari dua hal yang baik atau dari dua hal yang buruk.
Karena hikmah memerlukan ilmu yang amaliah serta amal yang ilmiah.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al Baqoroh ayat 269.
Artinya: “Allah menganugerahkan hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dinugerahi hikmah, ia benar-benar telah dinugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”
Untuk meraih hikmah, perdalamlah ilmu dan pengalaman. Yang terpenting adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pertanyaan berikutnya, apa yang membuat seseorang itu kuat iman? Jawabannya karena ilmu.
Ilmu itu pupuk iman, ilmu itu pemandu amal. Kurang ilmu pasti kurang amalnya.
Jadi orang yang beruntung itu adalah pembelajar sejati. Yaitu yang benar-benar selalu haus dengan ilmu terutama ilmu agama sebagai fondasinya.
Ilmu agama itu luas. Lalu ilmu agama apa yang paling utama kita pelajari? Yaitu ilmu yang mengenal Allah SWT, mengenal Tuhan kita.
Jadi kalau kita tidak belajar mengenal nama-nama dan sifat Allah SWT, kita pasti tidak mengenal Allah SWT.
Dengan demikian, kalau kita tidak mengenal Tuhan, akibatnya kita menuhankan selain Allah SWT.
Yaitu dengan menuhankan harta, gelar, pangkat, jabatan, penilaian orang, hingga kedudukan.
Sehingga kita capek hidup karena menuhankan yang justru jadi pelayan kita.
Karena kita tidak mengenal Allah SWT, akhirnya turun derajatnya jadi menuhankan pelayan.
Bisa terbayang kehinaannya dan kesengsaraannya kita.
Kemudian pertanyaan selanjutnya, di mana kita bisa mengenal Allah SWT yang paling jelas? Jawabnya di dalam Al Qur'an.
Al Qur'anul Karim adalah kalamullah, kalam Allah SWT. Allah SWT dengan al-qur'an kalamnya memperkenalkan Siapa Dirinya.
Sehingga orang yang paling akrab dengan Al Qur'an dengan niat dan cara yang benar paling mudah mengenal Allah SWT.
Lalu penjelasan al-qur'an yang paling tepat ada dimana? Jawabannya adalah dari Rasulullah SAW.
Sementara itu, salah satu wujud pengetahuan yang dimiliki manusia adalah pengetahuan ilmiah yang lazim dikatakan sebagai “ilmu”.
Ilmu adalah bagian pengetahuan, namun tidak semua pengetahuan dapat dikatakan ilmu.
Secara umum, terdapat tiga jenis pengetahuan yang selama ini mendasari kehidupan manusia, yaitu: logika, etika, dan estetika.
Logika dapat membedakan antara benar dan salah (kebenaran berfikir).
Kemudian etika yang dapat membedakan antara baik dan buruk (moral dan norma/tingkah laku/kode etik).
Serta estetika yang dapat membedakan antara indah dan jelek.
Itulah sebabnya kepekaan indra yang dimiliki, merupakan modal dasar manusia dalam memperoleh pengetahuan tersebut.
Jadi mulai sekarang setiap hari wajib bagi kita menggunakan waktu untuk semakin paham kebenaran.
Oleh karena itu, agar kita tidak merugi di dunia ini, salah satunya adalah menjadi orang yang beriman.,
Yaitu meyakini kalau kehidupan ini sesuai dengan kehendak Allah.
Selain menjadi orang yang beriman. Kita juga harus beramal dengan perbuatan, seperti melakukan amal kebaikan yang sesuai dengan ajaran Islam. (top)
Editor : Ali Mustofa