GROBOGAN - Sekitar satu abad sebelum berdiri masjid Jami' Ngroto, terdapat seorang yang bernama Abdurrahman yang sedang bersama sang ibu (Nyai Samsiyah, Red) sedang mencari ayah yang mengembara.
Pemerhati sejarah Grobogan, Heru Hardono, 70, menceritakan mereka ialah keluarga Syekh Maulana Maghribi dari Persia.
Orang yang sedang mereka cari bukan hanya sekadar mengembara, melainkan berdagang dan menyebarkan agama Islam.
"Syekh Maulana Maghribi itu nama lakob atau julukan, jadi ada banyak yang punya nama itu. Bukan satu orang satu nama," jelasnya.
Nyai Samsiyah yakin bahwa suaminya berada di tanah Jawa, bertekad menyusul dengan kapal layar hingga sandar di Cirebon.
Di sana bertemu dengan Sunan Gunung Jati dan menceritakan keadaannya.
Saat itu sedang ada pertemuan untuk menghadiri undangan pendirian Kerajaan di Demak (Masjid Agung, Red), ikutlah mereka berdua.
Selama di Demak diberikanlah tugas untuk menanak nasi untuk makan para santri.
"Abdurrahman ini kemudian menjadi salah satu marbot pertama di Masjid Agung Demak," catat Heru Hardono yang akrab disapa Mbah Bejo.
Baca Juga: Kembali Adakan Mudik Gratis Lebaran 2024, Pemkab Pati Siapkan 26 Bus
Dalam riwayatnya Abdurrahman diamanahi untuk menabuh beduk tapi tidak dilakukan dengan kayu, melainkan kepalan tangan.
Meski demikian suara terdengar hingga jauh. Kemudian mendapatkan julukan Abdurrahman Ganjur.
Selain menjadi marbot atau magersari Masjid Agung Demak, ia juga belajar ilmu agama.
Berselang tahun ia kembali terpikir untuk mencari ayahnya.
Bersama Ibunya berangkatlah ke hulu Sungai Tuntang. Dengan harapan agar kalau ayahnya lewat bisa melihatnya.
Sembari menunggu Abdurrahman Ganjur menyiarkan agama kepada masyarakat setempat.
Dirinya sempat bertemu dengan ayahnya namun belum berkenan tinggal di Ngroto karena masih ada suatu hal yang harus diurus di Demak.
"Kemudian sang Ibu wafat. Beberapa tahun setelahnya disusul Mbah Abdurrahman Ganjur. Beliau hingga akhir hayat tidak menikah," terang Mbah Bejo.
Selain Mbah Abdurrahman Ganjur yang berjasa menyebarkan agama Islam di Ngroto. Juga terdapat tokoh lain yakni Mbah Gareng yang menjadi leluhur Gus Dur yang dimakamkan di Ngroto.
Mbah Gareng yang bernama asli Khoiron merupakan santri asal Tingkir, Salatiga yang berguru kepada Kiai Sirojuddin di Ngroto.
Ketika dewasa memilih menetap dan menikahi gadis setempat. Kemudian memiliki dua orang anak, yakni Asngari dan Asy’ari.
Baca Juga: Partai Golkar, Demokrat, dan PKS Sepakat Koalisi di Pilkada Grobogan 2024
Dari putra Mbah Gareng yang bernama Asy’ari tersebut, kemudian memiliki putra Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari yang dikenal sebagai tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Silsilahnya berlanjut, Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari menurunkan Kiai Wahid Hasyim yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama RI.
Kemudian Kiai Wahid Hasyim menurunkan KH Abdurahman Wahid alias Gusdur.
"Di sisi lain Asngari, saudara Asy'ari, yang tetap tinggal di Ngroto memiliki putra Baedlowi (Kades Ngroto pertama). Kemudian Baedlowi menurunkan Kiai Sukemi dan Kiai Sukemi menurunkan Kiai Zuhri. Kiai Zuhri, kemudian dikenal juga sebagai seorang ulama kharismatik di Desa Kuwaron, Gubug," runut Mbah Bejo.
Selain nama besar tokoh Islam yang telah disebutkan, wilayah Desa Ngroto juga menjadi tempat pesarean beberapa tokoh yang ikut menyebarkan Islam di wilayah sekitar.
Meliputi, Simbah Nur Khatam, Simbah Abdul Ghofar Abdul Ghofur yang lebih dikenal sebagai Simbah Mabur Mawur, Kiai Damanhuri, Simbah Abdullah, Simbah KH Masduri Damanhuri, dan Habib Husain Al-Hindwan.
”Desa Ngroto juga merupakan tempat awal Majelis Al Khidmah oleh KH Oetsman dan KH Asrori Al Ishaqi yang berkembang di Jateng dan DIY," pungkasnya. (fik/war)
Editor : Ali Mustofa