Mengapa Bahasa Belanda Tidak Menjadi Bahasa Resmi di Indonesia?

Ghina Nailal Husna • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 18:41 WIB
Mengapa Bahasa Belanda Tidak Menjadi Bahasa Resmi di Indonesia?
Mengapa Bahasa Belanda Tidak Menjadi Bahasa Resmi di Indonesia?

RADAR KUDUS - Jika mengamati sejarah kolonialisme di berbagai belahan dunia, banyak bekas negara jajahan yang mengadopsi bahasa penjajahnya sebagai bahasa resmi nasional.
 
Negara Brasil misalnya, yang hingga kini menggunakan bahasa Portugis, atau belasan negara di benua Afrika yang menjadikan bahasa Prancis sebagai bahasa utama.

Namun, fenomena menarik terjadi di Indonesia. Meskipun berada di bawah cengkeraman kekuasaan kolonial Belanda selama lebih dari tiga abad, bahasa Belanda tidak berkembang menjadi bahasa ibu maupun bahasa nasional di bumi Nusantara. Mengapa hal ini bisa terjadi?
 
Baca Juga: 7 Cara Sederhana dan Alami Menjaga Kesehatan Usus serta Detoks Pencernaan

1. Murni Misi Ekonomi dan Tidak Peduli Asimilasi Budaya

Berbeda dengan imperium Inggris atau Spanyol yang membawa misi orientasi budaya dan keagamaan (gospel, gold, glory), tujuan utama kedatangan Belanda (diawali oleh VOC hingga pemerintah Hindia Belanda) murni didorong oleh keuntungan ekonomi (pure profit).

Pemerintah kolonial Belanda hanya fokus mengeruk kekayaan alam dan rempah-rempah tanpa merasa perlu melakukan edukasi atau membagikan kebudayaan mereka kepada rakyat pribumi.
 
Untuk berinteraksi dan mengontrol perdagangan, justru para pejabat Belanda yang mempelajari bahasa Melayu pasar dan bahasa Jawa.

2. Bahasa Belanda Dianggap Eksklusif dan Elit

Di mata penjajah Belanda, bahasa Belanda merupakan bahasa status tinggi yang eksklusif dan elit.
 
Mereka menganggap penduduk pribumi tidak setara dan tidak layak menggunakan bahasa milik bangsa eropa tersebut.

Akses mempelajari bahasa Belanda dibatasi secara amat ketat. Hanya kelompok feodal tertentu, seperti keturunan bangsawan, anak-anak raja, atau pejabat pribumi berstatus tinggi yang diizinkan mengenyam pendidikan berorientasi bahasa Belanda.
 
Selain itu, diskriminasi sosial dan ketiadaan asimilasi perkawinan antar-ras mempertegas sekat pemisah antara penjajah dan rakyat jajahan.

3. Larangan Total Pada Masa Pendudukan Jepang

Faktor historis berikutnya terjadi pada masa Perang Dunia II ketika Jepang mengambil alih kekuasaan Nusantara dari tangan Belanda pada tahun 1942.
 
Pemerintah militer Jepang memberlakukan kebijakan drastis dengan melarang penggunaan bahasa Belanda secara total di seluruh pelosok negeri.

Sebagai gantinya, Jepang mempopulerkan bahasa Indonesia bersama bahasa Jepang dalam urusan administrasi pemerintahan dan pendidikan.
 
Momen historis inilah yang menjadi pendorong pesatnya penggunaan dan penyebaran bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa.

4. Sentimen Anti-Belanda Pasca-Kemerdekaan

Perilaku Belanda yang berusaha menguasai kembali Indonesia melalui Agresi Militer I dan II pasca-Proklamasi Kemerdekaan 1945 semakin merusak citra Belanda di mata rakyat.
 
Rasa benci dan trauma mendalam terhadap kolonialisme membuat masyarakat Indonesia secara alami enggan menggunakan bahasa Belanda dalam kehidupan sehari-hari.
 
Baca Juga: TATAH 2027 Buka Open Call, Seniman Jepara Diajak Lahirkan Gagasan dan Karya Baru

5. Kekhawatiran Munculnya Kesadaran Nasionalisme

Secara implisit, pembatasan akses bahasa oleh Belanda juga didasari oleh ketakutan akan transfer ilmu pengetahuan.
 
Bahasa merupakan pintu gerbang utama menuju pemikiran modern Barat mengenai gagasan kesetaraan, hak asasi manusia, serta ide kemerdekaan. 
 
Ketika kaum terpelajar Indonesia berhasil menguasai bahasa Belanda, ide-ide pergerakan nasional justru tumbuh kembang dan memicu perlawanan terhadap kolonialisme. (*)
Editor : Mahendra Aditya
sejarah bahasa belanda di indonesia alasan indonesia tidak berbahasa belanda kolonialisme belanda di nusantara sejarah perkembangan bahasa indonesia pendudukan jepang melarang bahasa belanda