KUDUS – Krisis lingkungan yang semakin kompleks mendorong dunia pendidikan untuk tidak hanya membekali peserta didik dengan pengetahuan tentang lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran moral dan spiritual untuk menjaga alam. Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam penelitian disertasi Puspo Nugroho yang mengembangkan model konseptual Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) berwawasan ekoteologi pada Madrasah Adiwiyata di Kabupaten Kudus.
Penelitian berjudul “Konstruksi Model Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) Berwawasan Ekoteologi untuk Mentransformasikan Kesadaran Ekologis pada Madrasah Adiwiyata di Kabupaten Kudus” tersebut dilakukan melalui studi kasus multisitus pada tiga madrasah, yakni MTs Negeri 1 Kudus, MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an 2 Muria Kudus, dan MTs NU Banat Kudus. Atas Arahan dan Bimbingan intensif dari Prof. Dr. Benny Ridwan, M.Hum sebagai Promotor dan Prof. Dr. Miftahudin, M.Ag sebagai Co-Promotor penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa pendidikan lingkungan di madrasah tidak cukup hanya diwujudkan melalui kegiatan penghijauan, kebersihan, pengelolaan sampah, atau program Adiwiyata. Pendidikan lingkungan juga membutuhkan landasan nilai yang mampu menjelaskan mengapa manusia harus menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan. Dalam perspektif Islam, hubungan manusia dengan alam memiliki dasar teologis yang kuat. Nilai tauhid, khalifah, amanah, mizan, tanggung jawab, dan rahmatan lil ‘alamin menjadi fondasi dalam membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari pengamalan ajaran Islam.
PAI dan Adiwiyata Tidak Berjalan Sendiri
Salah satu temuan penting penelitian menunjukkan bahwa integrasi PAI dengan pendidikan lingkungan tidak cukup dilakukan dengan menambahkan materi tentang lingkungan ke dalam buku atau pembelajaran PAI. PAI di madrasah yang mengintegrasikan empat rumpun PAI (Al qur’an hadist, Akidah Akhlak, Fikih dan SKI), tetapi juga menemukan dukungan dari muatan keagamaan lokal seperti Fikih 2 Salaf/Taqrib, Hadis Arbain, Tajwid, dan Ta'limul Muta'allim ditempatkan sebagai fondasi teologis, sedangkan Program Adiwiyata menjadi ruang praksis ekologis. Keduanya kemudian dihubungkan melalui kegiatan pembelajaran, pembiasaan, budaya madrasah, dan berbagai aktivitas lingkungan. Dengan pendekatan tersebut, pendidikan lingkungan bergerak dari sekadar pengetahuan menuju pengalaman nyata. Peserta didik tidak hanya mengetahui pentingnya menjaga kebersihan, air, tanaman, dan sumber daya alam, tetapi juga memahami aktivitas tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah fil ardh.
Hasil penelitian menunjukkan adanya proses transformasi dari pemahaman nilai keagamaan menuju sikap, pembiasaan, dan perilaku ekologis. Perubahan tersebut antara lain terlihat melalui tumbuhnya tanggung jawab moral, kepedulian terhadap lingkungan, kemampuan berpikir kritis, partisipasi dalam kegiatan ekologis, serta kebiasaan menjaga kebersihan, air, tanaman, dan sumber daya lingkungan.
Lahirkan Model ETCE-HATI
Dari berbagai temuan tersebut, penelitian ini menghasilkan Model Konseptual ETCE-HATI (Eco-Theological Curriculum Ecosystem–HATI Model). Model tersebut merupakan sintesis antara nilai-nilai ekoteologi Islam, analisis buku ajar PAI, temuan dari tiga madrasah, serta orientasi pengembangan kurikulum John D. McNeil. Model ETCE-HATI terdiri atas empat dimensi utama, yaitu:
H – Humanistic Eco-Spirituality, yang menekankan pembentukan manusia beriman dan berakhlak ekologis;
A – Academic Eco-Literacy, yang mengembangkan pengetahuan dan literasi ekologis;
T – Technological Eco-Pedagogy, yang mengembangkan strategi, media, dan teknologi pembelajaran ekologis;
I – Interactive Eco-Transformation, yang mendorong partisipasi dan aksi ekologis dalam kehidupan sosial.
Keempat dimensi tersebut tidak berdiri sendiri. Implementasinya ditempatkan dalam sebuah ekosistem yang meliputi intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, budaya madrasah, dan Program Adiwiyata. Dengan demikian, lingkungan madrasah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pembelajaran, tetapi sekaligus menjadi laboratorium pendidikan ekologis.
Dari Kesalehan Individual Menuju Kesalehan Ekologis
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa pendidikan agama memiliki ruang yang besar untuk memperluas pemaknaan kesalehan. Kesalehan tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Allah dan sesama manusia, tetapi juga mencakup hubungan manusia dengan alam. Karena itu, pembelajaran PAI berwawasan ekoteologi diarahkan untuk memperkuat keseimbangan hubungan Allah, manusia, dan alam. Dalam konteks madrasah, pendekatan tersebut memungkinkan berbagai kegiatan lingkungan—seperti menjaga kebersihan, menghemat air, merawat tanaman, mengelola sampah, dan berpartisipasi dalam kegiatan Adiwiyata—diberikan makna keagamaan. Dengan cara ini, Program Adiwiyata tidak hanya menjadi program teknis pengelolaan lingkungan, tetapi dapat menjadi bagian integral dari pendidikan agama yang memberikan landasan teologis dan moral bagi aktivitas ekologis.
Kontribusi untuk Pengembangan Kurikulum Madrasah
Secara akademik, penelitian ini memberikan kontribusi dengan merekonstruksi orientasi kurikulum John D. McNeil melalui perspektif ekoteologi Islam. Secara metodologis, model dikonstruksi melalui perpaduan Qualitative Content Analysis, within-site analysis, dan cross-site analysis dalam studi kasus multisitus. Secara praktis, Model ETCE-HATI dapat menjadi kerangka pengembangan Kurikulum PAI yang disinergikan dengan Program Adiwiyata dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Penelitian ini juga menyadari bahwa keberlanjutan program membutuhkan dukungan kelembagaan dan pembiayaan. Keterbatasan anggaran masih menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pelaksanaan program sehingga aspek pembiayaan dan keberlanjutan program menjadi ruang yang perlu dikaji lebih lanjut.
Melalui model tersebut, pendidikan agama diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memahami ajaran Islam, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual-ekologis dan akhlak ekologis—yakni kesadaran bahwa merawat bumi merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan manusia sebagai khalifah.
“Menjaga alam bukan sekadar aktivitas lingkungan, tetapi bagian dari pengamalan nilai-nilai keislaman.”
Penulis: Puspo Nugroho, M.Pd.I (Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor PAI UIN Salatiga sekaligus Dosen Prodi PAI UIN Sunan Kudus)
Editor : Ali Mustofa