KUDUS – Persoalan SD 5 Hadipolo yang semakin minim murid tiap tahun, sudah diketahui Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus.
Sempat akan di-regrouping pada 2024 lalu, tapi ada penolakan dari SD lain yang akan digabung dengan SD 5 Hadipolo.
Dengan alasan, ke depan susah mencari murid. Sebab, stigma “Sekolah Kam pung Sosial” akan berpengaruh dengan capaian murid.
Akhirnya, dengan segala macam pertimbangan Disdikpora Kudus memilih untuk mempertahankan sekolah tersebut.
Hal ini, disampaikan Sekretaris Dinas (Sekdin) Disdikpora Kudus Anggun Nugroho menjelaskan, daripada anak-anak dari Kampung Sosial tidak sekolah, maka pilihannya tetap dipertahankan
“Ya guru di SD 5 Hadipolo memang gurunya mengajar rangkap kelas, pertimbangannya efisiensi guru. Karena kurang efektif juga kalau diisi guru penuh, ka rena siswanya juga minim,” ujarnya.
Anggun menjelaskan, pihaknya sudah pernah bertemu dengan perangkat desa setempat, tapi yang namanya isu sosial, tidak mudah di masyarakat.
Kalau mereka menganggap lingkungan sudah tidak baik, takut ada pengaruh negatif mereka memilih untuk menyekolahkan anaknya di tempat lain.
“Ya, saat ini memang kami pertahankan. Tahun ini tidak ada rencana regrouping bagi sekolah yang kurang murid. Tapi, tetap kami data. Terpenting anak-anak sekolah,” jelasnya.
Terpisah, Wali Kelas I SD 5 Hadipolo Kudus Revita Noor Anggraini mengatakan, kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) akan berlangsung hingga lima hari.
Mulai Senin (13/7) hingga Jumat (17/7). Selama itu, murid akan dikenalkan dengan guru, teman, dan lingkungan sekolah.
“Kalau hari pertama mulai dengan berdoa, penyambutan murid baru, potong pita, dan pengenalan ruang kelas. Kalau hari ini (kemarin, Red), berdoa, Asmaul Husna, ice breaking, dan permainan harta karun,” ujar Revita.
Kegiatan ice breaking hingga permainan dalam MPLS merupakan cara sekolah setempat agar suasana kelas menjadi seru.
Meski minim murid, kegiatan MPLS bisa tetap menyenangkan.
“Saya buat ini (permainan dan ice breaking, Red) biar menghidupkan suasana,” paparnya.
Revita membeberkan, mayoritas murid di SD 5 Hadipolo berasal dari Kampung Sosial yang berada di RT 6/ RW 2, Desa Hadipolo.
Mayoritas dari mereka berprofesi sebagai pengamen hingga pengemis di jalanan.
Kondisi sosial anak juga berpengaruh dengan kemampuan belajarnya.
Tidak sedikit dari murid yang masuk di SD 5 Hadipolo belum bisa membaca dengan lancar.
Untuk itu, fokus utama pembelajaran di kelas I adalah literasi.
“Kesulitannya itu membaca. Pengenalan huruf A sampai Z masih sulit. Harus mengajari dari nol sampai bisa. Tapi kendalanya anaknya juga jarang masuk sekolah,” terangnya.
Selain kurang disiplin masuk sekolah, Revita juga mengaku anak-anak telat berangkat ke sekolah.
Terkadang pula tidak memakai sepatu hingga belum mandi.
Ini menjadi tantangan sendiri untuk guru.
“Ini tugas kami di sekolah, tapi kalau di rumah tidak di dukung orang tua, kami juga kesulitan menjadikan anak maju. Target kami, anak bisa membaca dalam satu semester ini, agar materi pembelajaran bisa terserap dengan baik,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu murid Sukardi mengaku senang bisa belajar di sekolah.
Terlebih bisa bertemu dengan teman-teman baru.
Ia juga senang dengan kegiatan MPLS, karena guru mengajaknya bersenang-senang.
“Seneng. Tadi nyanyi sama bermain,” katanya. (san)
Editor : Ali Mustofa