KUDUS – Sebutan yang diberikan oleh warga sekitar terhadap SD 5 Hadipolo, Jekulo, membawa dampak negatif.
SD itu disebut sebagai “Sekolah Kampung Sosial”. Imbasnya, sekolah itu hanya mendapatkan tiga murid baru.
Identifikasi itu, muncul sejak Kampung Sosial yang semula berada di bantaran Kali Gelis direlokasi ke Desa Hadipolo.
Sebagian besar anak-anak warga kampung itu, kemudian sekolah di SD 5 Hadipolo.
Kehidupan yang keras, sedikit banyak memengaruhi pola asuh anak. Akhirnya anak juga terbawa dari ucapan maupun perilaku.
Stigma negatif anak-anak dari Kampung Sosial inilah, bagi warga sekitar enggan menyekolahkan anaknya di SD tersebut.
Jumlah itu, terbilang stagnan dari tahun sebelumnya, yang juga mendapatkan tiga murid saat pelaksanaan sistem penerimaan murid baru (SPMB).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SD 5 Hadipolo Solichul Hadi menjelaskan, sebenarnya ada lima calon murid yang mendaftar di SD 5 Hadipolo.
Namun, dua di antaranya tidak memiliki akta kelahiran sebagai syarat pendaftaran SPMB.
“Kami sudah mau bantu untuk uruskan pembuatan akta kelahiran anak itu, tapi dari pihak orang tua pasif. Jadinya ya bagaimana. Akhirnya anaknya sampai saat ini tidak bersekolah,” ujar Hadi saat ditemui di sekolah kemarin (14/7).
Ditambahkan, SD 5 Hadipolo tidak diminati lagi disebabkan mayoritas muridnya dari Kampung Sosial itu.
Ini membuat masyarakat enggan menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.
Padahal, pihak sekolah intens melalukan promosi.
“Kami sudah door to door untuk yang punya anak bisa sekolah di sini (SD 5 Hadipolo, Red), tapi karena stigma “Sekolah Kampung Sosial” membuat masyarakat tidak berminat. Jadi, kebanyakan murid yang ada ya anak dari kompleks Kampung Sosial,” terangnya.
Saat ini, jumlah murid di SD 5 Hadipolo tercatat 29 murid. Terdiri dari, tiga murid di kelas I, tiga murid di kelas II, lima murid di kelas III, tujuh murid di kelas IV, tujuh murid di kelas V, dan empat murid di kelas VI.
Penurunan murid sudah terjadi sejak lama. Namun, terasa signifikan sejak 2023 lalu atau setelah pandemi Covid-19.
Pembelajaran daring membuat anak terlena di rumah dan malas berangkat ke sekolah.
“Karena kelamaan di rumah, jadinya saat sekolah juga malas. Apalagi yang anak-anak sini itu, juga setelah sekolah langsung disuruh bekerja. Ada yang me ngamen, jual rujak, ada yang minta-minta juga,” jelasnya.
Selain minim murid, sekolahnya juga mengalami kekurangan tenaga pendidik.
Saat ini, hanya ada enam tenaga pendidik yang mengajar.
Meliputi dua guru PPPK penuh waktu, tiga guru PPPK Paruh Waktu, dan satu guru tidak tetap (GTT).
“Jadi memang ada yang rapel mengajarnya,” tandasnya.
Hadi mengatakan, ada sejumlah kendala ketika melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar (KBM) dengan murid dari Kampung Sosial.
Orang tua menghendaki un tuk mengakhiri pembela jaran pukul 12.00.
Ia mengatakan, jika murid tersebut pulang terlambat, orang tua akan marah.
Sebab, anak-anak tersebut, akan dijemput oleh angkutan khusus yang mengantar mereka ke tempat bekerja.
Baik untuk mengamen hingga berjualan di jalanan.
“Jadi, kadang ada yang sampai mengantuk di kelas. Kalau ditanya itu karena capek habis jualan atau kerja ngamen di jalan,” imbuhnya.
Hingga saat ini, belum ada solusi konkret yang diberikan oleh dinas terkait maupun pihak desa, terkait kondisi sekolah maupun murid.
“Kami berharap, ada solusi yang baik, agar anak mendapat kesempatan belajar yang nyaman,” harapnya. (san)
Editor : Ali Mustofa