RADAR KUDUS - Perjalanan hidup Nur Chasanah tidak pernah mudah. Terlahir sebagai penyandang tunanetra, ia harus menghadapi berbagai tantangan sejak kecil. Bahkan, sejak duduk di bangku sekolah hingga kuliah, ia kerap menerima cibiran dan keraguan dari orang-orang di sekitarnya yang menganggap keterbatasan penglihatan akan menghalangi cita-citanya menjadi seorang gu ru.
Sejak usia tujuh tahun, Nur Chasanah sudah berpisah dengan orang tuanya untuk menempuh pendidikan di sekolah khusus tunanetra di Yogyakarta. Di sanalah ia belajar hidup mandiri, mulai dari belajar membaca huruf Braille, mengurus kebutuhan sehari-hari, hingga menyelesaikan pendidikan tinggi. Perjalanan panjang itu dijalaninya selama kurang lebih 16 tahun dengan tekad membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah.
Keinginan menjadi guru telah tumbuh sejak kecil. Meski sempat diragukan banyak orang, ia tetap mempertahankan cita-citanya. Bahkan saat menempuh kuliah, ia kembali menghadapi berbagai tantangan, mulai dari proses ujian, penyusunan skripsi, hingga mencari pendamping untuk membantunya membaca soal maupun mengedit tugas akhir. Berkat kegigihan dan dukungan dari banyak pihak, ia berhasil menyelesaikan pendidikan dan meraih beberapa beasiswa selama masa kuliah.
Kini, selama sekitar 10 tahun mengajar di SLB Negeri Purwosari Kudus, Nur Chasanah mendedikasikan dirinya untuk mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus. Ia memanfaatkan teknologi seperti aplikasi pembaca layar pada komputer dan telepon genggam agar para siswa tunanetra mampu mengikuti perkembangan teknologi dan memiliki bekal untuk hidup mandiri.
Menurutnya, tantangan terbesar sebagai guru bukan terletak pada keterbatasan fisik, melainkan bagaimana mendampingi setiap anak agar berkembang sesuai kemampuannya. Ia selalu mengedepankan kesabaran, kelembutan, dan pendekatan yang disesuaikan dengan karakter masing-masing siswa.
Nur Chasanah berharap anak-anak berkebutuhan khusus tidak merasa rendah diri dan berani bermimpi setinggi mungkin. Ia juga berpesan kepada para orang tua agar terus memberikan motivasi kepada anak tanpa membandingkannya dengan anak lain. "Yang terpenting adalah mendampingi anak agar tumbuh mandiri, percaya diri, dan tidak mudah menyerah menghadapi keterbatasan," pesannya. (adb)
Editor : Mahendra Aditya