RADAR KUDUS - Fenomena menurunnya jumlah peserta didik mulai menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan dasar di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027, tercatat tiga sekolah dasar belum memperoleh satu pun siswa baru, sementara sejumlah sekolah lainnya hanya menerima satu hingga dua peserta didik.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa persoalan demografi, persepsi masyarakat terhadap sekolah, hingga persaingan antar lembaga pendidikan mulai memengaruhi keberlangsungan sekolah-sekolah dasar, terutama yang berada di wilayah dengan jumlah anak usia sekolah yang terus menurun.
Tiga SD Belum Mendapat Murid Baru
Berdasarkan data sementara Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung, dari 634 sekolah dasar yang mengikuti proses SPMB 2026, terdapat tiga sekolah yang belum memperoleh peserta didik baru.
Kepala Seksi Kelembagaan Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung, Rifka Zuyun Umadah, mengatakan rekapitulasi masih terus dilakukan sehingga angka tersebut masih bersifat sementara.
Tiga sekolah yang hingga saat ini belum menerima murid baru meliputi:
-
SD Swasta Dlodo, Kecamatan Kalidawir
-
SDN 4 Besuki
-
SDN 5 Bungur, Kecamatan Karangrejo
Menurut Dinas Pendidikan, data final mengenai jumlah sekolah dengan pendaftar minim akan diumumkan setelah seluruh proses rekapitulasi selesai.
Sejumlah Sekolah Hanya Menerima Satu hingga Dua Siswa
Tidak hanya tiga sekolah yang belum memiliki murid baru, beberapa SD lainnya juga mengalami kondisi serupa dengan jumlah pendaftar yang sangat sedikit.
Di antaranya:
-
SDN Sembon hanya memperoleh 1 siswa baru
-
SDN 2 Plandaan, Kecamatan Kedungwaru, menerima 2 siswa
-
SDN Pucung juga hanya memperoleh 2 siswa baru
Jumlah tersebut jauh di bawah kapasitas ideal penerimaan siswa setiap tahun ajaran.
SDN 2 Plandaan Bertahan dengan 16 Siswa
Salah satu sekolah yang paling merasakan dampaknya adalah SDN 2 Plandaan.
Pada tahun ajaran 2026/2027, sekolah tersebut hanya berhasil menerima dua peserta didik baru, padahal sebelumnya telah mendata empat calon siswa.
Saat ini total siswa yang belajar di SDN 2 Plandaan hanya 16 orang, mulai dari kelas I hingga kelas VI.
Rinciannya sebagai berikut:
-
Kelas I : 2 siswa
-
Kelas II : 2 siswa
-
Kelas III : 2 siswa
-
Kelas IV : 4 siswa
-
Kelas V : 3 siswa
-
Kelas VI : 3 siswa
Dengan jumlah siswa yang sangat terbatas, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung secara normal.
Isu Sekolah Dianggap Sudah Tutup
Kepala SDN 2 Plandaan, Siti Komariah, mengungkapkan salah satu penyebab minimnya pendaftar adalah munculnya anggapan di masyarakat bahwa sekolah tersebut sudah tidak lagi beroperasi.
Padahal, SDN 2 Plandaan masih aktif melaksanakan kegiatan pembelajaran setiap hari.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihak sekolah telah melakukan berbagai langkah sosialisasi jauh sebelum proses SPMB dimulai.
Guru dan tenaga kependidikan mendatangi taman kanak-kanak, melakukan kunjungan langsung ke rumah calon siswa, hingga memberikan informasi kepada masyarakat mengenai keberadaan sekolah.
"Kami sudah melakukan berbagai upaya sejak tiga hingga empat bulan sebelum SPMB dimulai agar sekolah tetap memperoleh peserta didik baru," ujar Siti Komariah.
Tantangan Pendidikan di Tengah Penurunan Angka Kelahiran
Fenomena sekolah kekurangan murid bukan hanya terjadi di Tulungagung.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah daerah di Indonesia menghadapi persoalan serupa akibat kombinasi beberapa faktor, antara lain:
-
penurunan angka kelahiran,
-
perpindahan penduduk ke wilayah perkotaan,
-
meningkatnya pilihan sekolah swasta,
-
persepsi kualitas sekolah,
-
hingga kebijakan zonasi dan SPMB.
Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah sekolah negeri di daerah mengalami penurunan jumlah peserta didik secara signifikan.
Situasi ini menjadi perhatian pemerintah daerah karena berpotensi memengaruhi efisiensi penyelenggaraan pendidikan, distribusi guru, serta keberlangsungan operasional sekolah dalam jangka panjang.
MPLS Tetap Berjalan dengan Penuh Semangat
Meski jumlah siswa baru sangat sedikit, suasana Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN 2 Plandaan tetap berlangsung hangat.
Guru-guru tetap memberikan pendampingan dan mengenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru melalui berbagai kegiatan interaktif agar mereka merasa nyaman memasuki jenjang pendidikan dasar.
Semangat para pendidik untuk memberikan layanan pendidikan tetap menjadi modal utama bagi sekolah-sekolah yang tengah menghadapi tantangan penurunan jumlah murid.
Pemerintah daerah pun diharapkan dapat menyusun strategi jangka panjang, mulai dari pemerataan peserta didik, penguatan promosi sekolah, hingga evaluasi kebijakan pendidikan agar seluruh sekolah tetap mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas.
Editor : Mahendra Aditya