Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Wakil Rektor ITB Raih Penghargaan Bergengsi dari Prancis atas Kontribusi di Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

Nabila Agustin • Kamis, 18 Juni 2026 | 09:04 WIB
Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Andryanto Rikrik Kusmara, menerima penghargaan Chevalier dans l’Ordre des Palmes Académiques dari Pemerintah Republik Prancis (ANTARA NEWS)
Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Andryanto Rikrik Kusmara, menerima penghargaan Chevalier dans l’Ordre des Palmes Académiques dari Pemerintah Republik Prancis (ANTARA NEWS)

RADAR KUDUS – Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Andryanto Rikrik Kusmara, menerima penghargaan Chevalier dans l’Ordre des Palmes Académiques dari Pemerintah Republik Prancis.

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, serta penguatan kerja sama antara Indonesia dan Prancis.

Penganugerahan tersebut dilakukan langsung oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Fabien Penone, dalam sebuah seremoni yang berlangsung di Gedung Center for Arts, Design and Language (CADL) ITB, Kamis (11/6/2026).

Chevalier dans l’Ordre des Palmes Académiques sendiri merupakan salah satu penghargaan bergengsi di bidang pendidikan yang diberikan oleh pemerintah Prancis.

Tanda kehormatan ini telah ada sejak masa Napoleon pada 1808 dan pernah dianugerahkan kepada sejumlah tokoh dunia seperti Marie Curie, Jean-Baptiste Charcot, dan Léopold Sédar Senghor.

Dalam sambutannya, Fabien Penone memberikan apresiasi atas dedikasi Rikrik dalam dunia pendidikan dan kebudayaan.

“Hari ini, Dr. Andryanto Rikrik Kusmara, Anda bergabung dengan jajaran tokoh terhormat seperti Marie Curie, Jean-Baptiste Charcot, dan Léopold Sédar Senghor. Saya senang upacara ini dapat digelar di ITB, yang merupakan simbol keunggulan Indonesia sekaligus mitra lama Prancis. Melalui Anda, Prancis memberikan penghormatan kepada seorang seniman, pendidik, dan penggerak pembangunan,” ujar Fabien Penone, dikutip dari laman resmi ITB.

Menurutnya, kontribusi Rikrik tidak hanya terlihat di lingkungan akademik, tetapi juga dalam dunia seni dan budaya.

Sebagai kurator, ia dinilai berperan penting dalam mendorong perkembangan seni kontemporer Indonesia dengan membuka ruang bagi berbagai karya dan gagasan untuk hadir di ruang publik.

Fabien juga menyoroti peran Rikrik dalam memperkuat hubungan antara Kota Bandung dan Kota Saint-Étienne di Prancis yang sama-sama tergabung dalam jaringan Kota Kreatif UNESCO.

Kolaborasi tersebut berkembang menjadi kerja sama berkelanjutan di bidang desain, pendidikan, inovasi, dan kebudayaan.

Salah satu hasil nyata dari kerja sama itu adalah berdirinya Material Library pertama di Indonesia yang berlokasi di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB.

Fasilitas ini menjadi pusat pembelajaran desain sekaligus dokumentasi material alami dan inovatif dari kawasan Asia Tenggara.

Selain itu, Rikrik juga terlibat dalam pengembangan berbagai program kolaboratif antara ITB dengan sejumlah institusi ternama di Prancis, seperti Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne dan École Supérieure d’Art et Design Saint-Étienne.

Sementara itu, Rikrik menyampaikan rasa syukur dan kehormatan atas penghargaan yang diterimanya.

Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan hanya pengakuan atas perjalanan kariernya, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap hubungan panjang antara Indonesia dan Prancis.

“Ini merupakan momen yang sangat berarti dalam perjalanan profesional saya. Dengan penuh rasa syukur dan kerendahan hati, saya menerima penghargaan Chevalier dans l’Ordre des Palmes Académiques dari Pemerintah Republik Prancis ini,” ujar Rikrik, dikutip dari laman resmi ITB.

Ia mengungkapkan bahwa kedekatannya dengan budaya Prancis telah terjalin sejak masa muda melalui Centre Culturel Français (CCF) Bandung yang kini dikenal sebagai Institut Français d’Indonésie (IFI).

Pengalaman tersebut membentuk pandangannya tentang pentingnya seni dan budaya dalam membangun dialog antarbangsa.

“Bahwa seni dan kebudayaan bukan hanya soal estetika, tetapi juga cara manusia memahami diri, berinteraksi dengan orang lain, dan membayangkan masa depan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Rikrik menambahkan bahwa berbagai program kolaborasi yang ia jalankan telah melahirkan sejumlah inisiatif penting di Bandung, seperti Bandung Photography Triennale, Bandung Design Biennale, Bandung Light Festival, hingga rencana peresmian Museum ITB pada Juli 2026.

Menurutnya, kerja sama di bidang kebudayaan tidak hanya menghasilkan pertukaran pengetahuan, tetapi juga memperkuat institusi, membuka peluang bagi generasi muda, serta mendorong inovasi yang bermanfaat luas bagi masyarakat.

 
Editor : Ali Mustofa
#itb #perancis #pendidikan