Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Skor UTBK Lebih Tinggi Tapi Gagal Lolos SNBT? Ternyata Ini Penyebabnya

Iwan Arfianto • Jumat, 5 Juni 2026 | 17:49 WIB
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026 Prof Dr Ir Eduart Wolok. Foto: YouTube/TVR Parlemen
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026 Prof Dr Ir Eduart Wolok. Foto: YouTube/TVR Parlemen

 

Jakarta - Di media sosial, sering kali muncul keluhan dari masyarakat mengenai hasil UTBK SNBT.

Salah satu fenomena yang kerap dipertanyakan adalah mengapa ada peserta dengan akumulasi nilai tinggi justru dinyatakan tidak lolos, sementara peserta lain dengan skor di bawahnya malah berhasil diterima di suatu program studi (prodi).

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026, Prof Dr Ir Eduart Wolok, memberikan klarifikasi penting.

Eduart menegaskan bahwa panitia pusat sejatinya tidak pernah menetapkan atau menggunakan nilai rata-rata keseluruhan sebagai parameter kelulusan UTBK SNBT.

Sistem Pembobotan Subtes Berdasarkan Prodi Pilihan

Eduart menerangkan bahwa dalam ujian UTBK, penilaian dibagi ke dalam tujuh subtes yang masing-masing berdiri sendiri dengan skornya masing-masing.

Alih-alih merata-ratakan seluruh nilai tersebut, panitia menerapkan sistem pembobotan khusus di mana subtes tertentu akan menjadi variabel pemberat utama, tergantung pada karakteristik prodi yang dipilih oleh peserta.

"Sejatinya kita tidak punya nilai rata-rata. Jadi, ketika ada yang beredar di medsos, 'Anak saya nilai skornya 700 sekian, 750, (tapi) teman 730 lulus', kita tidak punya skor rata-rata, yang ada skor per subtes di mana skor per subtes ini akan ditentukan bobotnya berdasarkan prodi yang dipilih," urai Eduart dalam Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja (RDP Panja) Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru yang disiarkan via YouTube TVR Parlemen, dikutip Jumat (5/6/2026).

Sebagai ilustrasi, ia mencontohkan apabila ada dua peserta yang bersaing di prodi yang mengedepankan kemampuan numerik.

Peserta dengan total rata-rata nilai lebih rendah bisa saja melenggang lolos apabila skor pada subtes penalaran matematika miliknya jauh melampaui kompetitornya yang memiliki rata-rata tinggi di subtes non-matematika.

Perubahan Rincian Skor di Sertifikat UTBK 2026

Untuk memberikan transparansi sekaligus menjawab keraguan publik, format sertifikat UTBK SNBT 2026 kini menyajikan penjabaran skor yang lebih mendalam, baik pada rumpun Tes Potensi Skolastik (TPS) maupun Tes Literasi.

Salah satu pembaruan signifikan pada tahun ini terlihat pada komponen Tes Literasi.

Khusus untuk Literasi dalam Bahasa Indonesia, panitia kini memecah nilainya menjadi dua kategori spesifik, yaitu skor untuk kelompok saintek dan kelompok soshum.

Langkah perincian ini diambil sebagai bentuk evaluasi dari pelaksanaan tahun lalu, sekaligus menepis anggapan bahwa anak-anak dari latar belakang saintek akan secara otomatis diuntungkan secara sistem saat lintas jurusan memilih prodi soshum.

"Itu tidak akan terjadi. Semua sudah kita antisipasi dan agar supaya proses seleksi ini fair," pungkas Prof Eduart dalam konferensi pers Hasil SNBT yang digelar secara hybrid pada Senin (25/5/2026).

Dengan sistem ini, keadilan bagi seluruh peserta dari berbagai latar belakang jurusan dipastikan tetap terjaga.

Editor : Iwan Arfianto
#utbk 2026 #snpmb #SNBT 2026 #SNBT #utbk