RADAR KUDUS — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah bersiap melakukan langkah akselerasi besar dalam kurikulum pendidikan nasional.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menegaskan kembali bahwa mulai tahun 2027 mendatang, Bahasa Inggris resmi akan ditetapkan sebagai mata pelajaran (mapel) wajib bagi seluruh siswa sekolah dasar (SD), dimulai sejak kelas 3.
Pernyataan strategis tersebut disampaikan oleh Abdul Mu'ti di sela-sela agenda peresmian Revitalisasi Pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Baca Juga: Badai PHK Belum Mereda, OJK Catat Lonjakan Klaim JHT hingga Rp1,85 Triliun per Maret 2026
Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari transformasi besar untuk membekali generasi muda Indonesia dalam menghadapi tantangan global.
"Mulai tahun 2027, Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib yang diajarkan mulai dari kelas 3 SD," ujar Abdul Mu'ti di hadapan para tenaga pendidik dan tamu undangan.
Menyadari bahwa pemberlakuan mapel wajib ini membutuhkan fondasi yang kuat, Kemendikdasmen tidak ingin gegabah.
Saat ini, fokus utama kementerian adalah mematangkan seluruh instrumen pendukung, terutama dari sektor pemenuhan dan peningkatan kualitas tenaga pendidik.
Pemerintah kini tengah merancang dan mengeksekusi program pelatihan Bahasa Inggris berskala nasional.
Pelatihan tersebut akan dilakukan secara simultan dan bertahap, menyasar guru-guru SD di seluruh pelosok Indonesia.
Tujuannya adalah agar saat regulasi ini resmi diimplementasikan pada 2027, tidak ada lagi ketimpangan kualitas pengajaran antara sekolah di kota-kota besar dengan sekolah yang berada di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
"Saat ini semuanya sedang kami matangkan dan siapkan. Kami ingin memastikan program ini berjalan optimal di lapangan, salah satunya melalui akselerasi pelatihan para guru SD agar mereka siap mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris dengan metode pedagogi yang tepat untuk anak usia dini," imbuh Mu'ti.
Lebih lanjut, Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar menambah beban kurikulum siswa, melainkan sebuah investasi jangka panjang.
Baca Juga: Menkes Budi Gunadi Sebut Gaji Rp15 Juta Lebih Sehat dan Pintar, Picu Perdebatan Hangat di Publik
Penguasaan bahasa internasional sejak usia dini dinilai sebagai salah satu indikator penting dalam pemenuhan keterampilan abad ke-21 (21st-century skills).
Dengan memperkenalkan Bahasa Inggris secara terstruktur sejak sekolah dasar, Kemendikdasmen optimistis mutu pendidikan Indonesia akan merangkak naik secara signifikan di kancah internasional.
Langkah ini diharapkan dapat memangkas batasan komunikasi, memperluas cakrawala literasi digital anak-anak, dan pada akhirnya membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang siap masuk dan bersaing secara kompetitif di pasar global masa depan. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna