Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jenius Muda Indonesia: Deretan Siswa SMP hingga SMK yang Tembus Sistem Keamanan NASA

Ghina Nailal Husna • Sabtu, 25 April 2026 | 19:25 WIB
Ilustrasi siswa berprestasi
Ilustrasi siswa berprestasi

 

RADAR KUDUS – Indonesia kembali menunjukkan taringnya di kancah teknologi dunia melalui prestasi luar biasa dari para pelajar mudanya.

Bukan melalui kompetisi akademik biasa, sejumlah siswa dari berbagai daerah mulai dari Sulawesi Selatan, Jawa Barat, hingga Lampung berhasil mendapatkan pengakuan resmi dari badan antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA), berkat kemampuan mereka menemukan celah keamanan (bug) pada sistem digital lembaga tersebut.

Kabar membanggakan pertama datang dari Rehan, siswa SMAN 8 Pinrang, Sulawesi Selatan. Melalui program Vulnerability Disclosure Program (VDP) yang dibuka oleh NASA, Rehan berhasil melakukan pemindaian mendalam dan menemukan kerentanan yang memungkinkan pengambilan username dari situs web resmi NASA.

Baca Juga: Skandal Daycare Little Aresha Yogyakarta: Tak Berizin dan Terbongkar Berkat "Whistleblower" Mantan Karyawan

Atas dedikasinya dalam melaporkan temuan tersebut secara etis, nama Rehan kini resmi tercatat dalam Hall of Fame NASA, sebuah daftar bergengsi bagi para peneliti keamanan siber dunia. 

"Alhamdulillah, saya bisa sampai tahap mengambil username dari website NASA dan mendapatkan apresiasi resmi ini," ujar Rehan dengan penuh syukur.

Tidak kalah mengesankan, Firoos Ghathfaan Ramadhan, seorang siswa kelas 8 SMP IT Alamy Subang, Jawa Barat, juga berhasil menembus sistem NASA.

 Di usianya yang masih sangat muda, Firoos menggunakan teknik Open Source Intelligence (OSINT), yakni metode pengumpulan data dari sumber terbuka yang biasanya digunakan oleh analis keamanan profesional.

Firoos menceritakan bahwa keberhasilannya merupakan hasil belajar bersama komunitas Spectra.id.

 Meskipun dilakukan secara kolektif melalui diskusi daring, NASA secara selektif hanya memberikan surat pengakuan kepada mereka yang laporannya terbukti valid.

 "Aku belajar bareng temen-temen, nge-Zoom bareng. Pas dapat (pengakuan) juga barengan, meski ada juga yang ditolak oleh NASA," kenang Firoos.

Prestasi fenomenal juga diukir oleh empat siswa jurusan Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT) dari SMK Negeri 1 Liwa, Lampung Barat.

Mereka adalah Farel Sapero, Ridho Julianto, Riski Permana, dan Naura Gifhari Azhar.

Melalui program Bug Bounty, keempat siswa ini melakukan penelusuran mendalam terhadap dokumen dan file digital publik milik NASA.

 Kemampuan mereka dalam mengidentifikasi celah keamanan sebelum disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab membuat mereka diakui sebagai peretas etis (white hat hacker) tingkat dunia.

Baca Juga: Duka di Tanah Misi: Prajurit TNI Kopral Rico Pramudia Gugur Usai Menjalankan Tugas Perdamaian di Lebanon

Fenomena ini menunjukkan bahwa talenta digital Indonesia tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi tersebar merata di pelosok daerah.

 Pengakuan dari NASA bukan sekadar sertifikat, melainkan bukti bahwa kurikulum teknis dan minat belajar mandiri para siswa Indonesia mampu bersaing dengan standar keamanan siber internasional.

Aksi para "peretas etis" muda ini diharapkan dapat memotivasi generasi sebaya untuk menggunakan kemampuan teknologi demi tujuan positif (keamanan siber), sekaligus menjadi perhatian bagi pemerintah untuk terus mewadahi talenta-talenta luar biasa ini agar dapat berkontribusi bagi pertahanan siber nasional di masa depan. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#NASA Hall of Fame #Bug Bounty #Peretas Etis #Keamanan Siber Indonesia #siswa berprestasi