AZAN Zuhur berkumandang. Para siswa MAN 1 Jepara bergegas berwudu dan salat. Seusai itu, sebagian tak kembali ke kelas. Mereka melangkah menuju sebuah ruangan sederhana: markas Mansara Riset Club (MRC).
Ruangan itu mengusung konsep lesehan. Siswa duduk melingkar, berdiskusi bebas. Dindingnya dipenuhi piala. Jejak panjang disiplin riset. Di sinilah ide-ide kecil dirawat menjadi karya besar.
Guru Koordinator Riset, Syafriyanti Annur, rutin memantau progres penelitian. “Lesehan membuat anak-anak lebih leluasa. Di sini bukan sekadar berkumpul, tapi riset dengan target jelas,” ujarnya.
Masuk klub melalui seleksi. Namun, budaya riset tak hanya milik anggota. Seluruh siswa kelas 10 dan 11 mendapat mata pelajaran riset dua jam per pekan. Siswa IPA diarahkan ke sains, IPS ke sosial-humaniora dan keagamaan.
Sejak kelas 10, siswa belajar merancang ide, memahami metode ilmiah, hingga problem solving. Proses berlanjut ke penelitian, presentasi, dan pameran karya di kelas 11. “Di kelas fokus proses. Di klub, targetnya prestasi,” tegasnya.
Riset kelas biasanya sederhana, seperti produk herbal. Di klub, judulnya kompleks, mengikuti standar lomba nasional hingga internasional. Targetnya bukan sekadar selesai, tapi unggul.
MRC didampingi lima pembimbing lintas rumpun. Hampir 100 siswa dibina dengan kalender kompetisi yang tersusun rapi. Ajang seperti OPSI, OMI, hingga lomba robotik sudah dipetakan jauh hari. Dari ide, proposal, laboratorium, hingga presentasi.
Setiap Sabtu, budaya riset diperkuat lewat sistem kluster: kampung sains, sosial, dan tahfiz. Expo karya rutin digelar, membangun atmosfer akademik yang hidup.
Menariknya, ide yang sudah menang tak boleh diulang. Siswa wajib mencari gagasan baru. Pola ini melatih konsistensi dan kreativitas.
Hasilnya mulai nyata. Sejumlah alumni menembus kampus ternama seperti Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Padjadjaran. Sertifikat riset menjadi penopang jalur prestasi.
Tak berhenti di lomba, siswa juga dibekali pengembangan produk hingga hak cipta. Dari ruang lesehan itu, karya lahir dan tumbuh.
Di saat sebagian siswa beristirahat, anak-anak MRC justru sibuk mematangkan proposal. Bagi mereka, riset bukan beban, melainkan jalan menuju mimpi—tentang kampus ternama, olimpiade, dan kontribusi nyata.
“Kami hanya mengarahkan. Yang terpenting, mereka berani mewujudkan mimpi dengan tekad,” pungkas Syafriyanti. (fik/war)
Editor : Admin