RADAR KUDUS – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyoroti beban kurikulum matematika di Indonesia yang dinilai terlalu menekankan pada kerumitan rumus dan hitungan mekanis.
Dalam sebuah pertemuan bersama jajaran tim pendidikan, ia menekankan perlunya pergeseran paradigma dari menghafal rumus menuju penguatan logika berpikir, terutama bagi siswa di jenjang awal pendidikan.
Abdul Mu'ti menyoroti adanya stigma negatif yang melekat pada pelajaran matematika di mata siswa.
Baca Juga: Wacana Sejahtera bagi Pendidik: DPR RI Usulkan Idealnya Gaji Guru Mencapai Rp40 Juta
Ia berkelakar mengenai anekdot yang menyebut bahwa matematika sering kali diplesetkan menjadi "mati-matian" karena tingkat kesulitannya yang dianggap menyiksa peserta didik.
"Ada anekdot, mudah-mudahan tidak berlaku lagi sekarang. Pelajarannya apa? Mati-matian (matematika).
Ini mencerminkan betapa beratnya beban yang dirasakan anak-anak kita," ujarnya yang disambut tawa para hadirin.
Menurutnya, jika pendekatan pembelajaran tidak diubah, ketakutan terhadap matematika ini akan terus menghantui siswa hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Mendikdasmen membandingkan pendekatan numerasi di Indonesia dengan negara lain, salah satunya Australia.
Ia menceritakan pengalaman rekannya yang justru bersyukur ketika anaknya mendapatkan nilai rendah di awal sekolah di Australia, karena kurikulum di sana lebih mengedepankan aspek bermain dan penguatan logika dasar daripada hasil angka di atas kertas.
"Di negara seperti Australia, matematika di masa awal itu memang nilainya terlihat rendah saja karena mereka lebih banyak bermain.
Yang ditekankan adalah logikanya, bukan kemampuan hitungan kompleks yang dipaksakan sejak dini," jelas Mu'ti.
Kritik tajam diarahkan pada praktik pendidikan di lapangan yang terkadang sudah mengajarkan pembagian kompleks sejak kelas 2 SD, bahkan mulai diperkenalkan di tingkat Taman Kanak-kanak (TK).
Mu'ti meminta tim teknis untuk mengecek kembali beban materi tersebut agar tidak melampaui kapasitas kognitif anak.
Ia menjelaskan bahwa pengenalan rumus yang terlalu dini tanpa pondasi logika yang kuat justru akan berakibat fatal.
Anak-anak akan kesulitan memahami konsep esensial dan dampak kegagalan memahami matematika di masa awal ini akan terbawa terus ke jenjang pendidikan berikutnya.
"Padahal masa-masa awal itu yang penting ditekankan adalah logikanya. Seringkali cukup dengan bermain-main saja. Di sini, kita sudah menekankan hitung-hitungan dan rumus yang seharusnya tidak diberikan terlalu cepat," pungkasnya.
Baca Juga: Reformasi Antrean Haji: Kemenhaj Kaji Skema "War Tiket" untuk Pangkas Masa Tunggu Puluhan Tahun
Ke depan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berencana untuk meninjau kembali muatan materi matematika agar lebih ramah bagi anak.
Fokus utamanya adalah memastikan siswa mencintai logika di balik angka, bukan sekadar menjadi mesin penghitung.
Dengan penguatan logika, diharapkan siswa memiliki daya nalar yang baik untuk menyelesaikan masalah di kehidupan nyata, bukan sekadar menuntaskan soal di lembar ujian. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna