Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gerakan Bisaroh MA Sunniyyah Selo Grobogan Menguatkan Langkah Menuju Adiwiyata Mandiri

Intan Maylani Sabrina • Rabu, 4 Maret 2026 | 15:25 WIB

PEDULI LINGKUNGAN: Siswa MA Sunniyyah Selo, Tawangharjo, Grobogan saat mengumpulkan sampah organik.
PEDULI LINGKUNGAN: Siswa MA Sunniyyah Selo, Tawangharjo, Grobogan saat mengumpulkan sampah organik.

GROBOGAN - MA Sunniyyah Selo Tawangharjo semakin mantap menapaki jalan menuju Adiwiyata Mandiri dengan semangat "BISAROH"  (Bersih, Indah, Sehat, Asri, Rohmatalilalamin).

Gerakan peduli lingkungan telah bertransformasi menjadi budaya yang hidup dan mengakar di setiap sudut madrasah.

Perjalan Panjang Menuju Adiwiyata Mandiri

Madrasah ini meraih Adiwiyata tingkat kabupaten pada 2019, kemudian tingkat provinsi pada 2021, lalu menembus tingkat nasional pada 2023.

Kini, dengan bekal pengalaman tersebut, seluruh elemen madrasah bersiap melangkah ke jenjang tertinggi, yakni Adiwiyata Mandiri.

Kepala MA Sunniyyah Selo, Choerur Rosad, menuturkan bahwa proses menuju Mandiri bukan hanya soal kelengkapan administrasi, melainkan juga tentang keberlanjutan gerakan.

Terlebih lagi, salah satu syarat utama menuju Adiwiyata Mandiri adalah membina beberapa madrasah imbas agar semangat peduli lingkungan turut menyebar.

“Oleh karena itu, kami tidak bisa berjalan sendiri. Selain berbenah secara internal, kami juga melakukan pendampingan agar budaya lingkungan ini tumbuh bersama,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, dalam dua tahun terakhir MA Sunniyyah Selo telah membina tiga madrasah, yakni MTsN 2 Wirosari, MTs Sunniyyah Putri Selo dan MI Sejati Sindurejo.

Melalui pembinaan tersebut, MA Sunniyyah Selo berbagi pengalaman, mulai dari penaatan pengelolaan lingkungan, penguatan dokumen Adiwiyata, hingga pembiasaan perilaku ramah lingkungan dalam keseharian.

RESAPAN: Siswa MA Sunniyyah Selo saat membuat biopori di lingkungan madrasah.
RESAPAN: Siswa MA Sunniyyah Selo saat membuat biopori di lingkungan madrasah.

Inovasi dan Pembiasaan

Sementara itu, di lingkungan internal madrasah, berbagai inovasi terus diperkuat. Keterbatasan lahan yang dimiliki justru mendorong lahirnya kreativitas.

Dengan demikian, konsep vertikal garden dan hidroponik diterapkan untuk memaksimalkan ruang tanpa mengurangi estetika.

Tanaman ditata menyesuaikan karakter lahan sehingga suasana tetap hijau, nyaman, dan sedap dipandang.

Bahkan, tanaman sawi dan kangkung hasil hidroponik tidak hanya menjadi penghias, melainkan juga dimanfaatkan untuk praktik siswa kelas keterampilan tata boga.

Di sisi lain, madrasah juga mengembangkan sepuluh titik budidaya lele dalam ember (budikdamber) sebagai media pembelajaran kemandirian sekaligus penguatan ketahanan pangan sederhana.

Tak berhenti di situ, pengelolaan lingkungan diperluas melalui pembangunan empat sumur resapan guna menjaga keseimbangan air tanah.

Selain itu, sampah organik diolah menjadi kompos, pupuk cair, serta campuran sekam jerami yang kemudian dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di pot-pot bunga.

Bahkan, kompos tersebut turut dimanfaatkan oleh guru maupun masyarakat sekitar.

“Dengan cara itu, manfaatnya tidak hanya dirasakan sekolah, tetapi juga lingkungan sekitar,” jelas Choerur Rosad.

Seluruh gerakan tersebut kemudian dirangkum dalam satu tagline khas, yakni BISAROH (Bersih, Indah, Sehat, Asri, Rohmatalilalamin) meliputi Busser (Buang Sampah Segera), Kasih (Kamis Bersih) dan Gelis (Gerakan Literasi Siswa). (int)

Editor : Ali Mustofa
#grobogan #madrasah