KUDUS - Jarum jam tepat menunjuk pukul 06.00. Pagi masih menyimpan sisa embun ketika seorang pria berpeci, berkacamata, dan berseragam dinas lengkap sudah berdiri di depan gerbang MAN 2 Kudus. Ia tidak sedang menjalankan formalitas jabatan. Ia sedang menunaikan kebiasaan kecil yang baginya sangat besar maknanya: menyambut para siswa dan guru.
Senyumnya mengalir tulus. Guru, orang tua, dan siswa disapanya satu per satu. Para siswa putra menunduk mencium tangannya, sementara siswi putri memberi salam dengan telapak tangan menelungkup di dada. Sebuah pemandangan yang sederhana, tetapi sarat kehangatan. Seolah gerbang sekolah bukan hanya pintu masuk bangunan, melainkan pintu masuk ke ruang kasih sayang dan keteladanan.
Sesekali ia mengeluarkan ponsel. Bukan untuk sibuk dengan dunia sendiri, melainkan mengabadikan keceriaan bersama siswa. Konten-konten kecil yang dibuatnya bukan demi popularitas, tetapi sebagai jembatan kedekatan. Keramahan itu mengalir begitu saja, tanpa dibuat-buat. Ia memang demikian adanya.
Dialah Ali Musyafak, Kepala MAN 2 Kudus.
Namun, keramahan itu bukan kebiasaan yang lahir tiba-tiba. Ia ditempa sejak awal perjalanan hidupnya. Jauh sebelum namanya dikenal sebagai kepala madrasah, ia adalah bagian dari Tata Usaha di MTsN Pecangaan Bawu Jepara (kini MTsN 1 Jepara). Di sana, ia dikenal oleh pimpinannya, Abdul Choliq, sebagai sosok yang rapi, teliti, dan bertanggung jawab. Dokumen-dokumen yang ia tangani tertata, pekerjaannya terukur, dan sikapnya selalu rendah hati.
“Setiap diundang beliau (Abdul Choliq, Red), bahkan kalau malam hari, saya usahakan datang. Itu bentuk penghormatan dan komitmen,” kenangnya pelan.
Di balik ketekunannya di dunia administrasi, ada bara kecil yang terus menyala dalam dadanya.
“Saya ingin mengajar,” katanya singkat, tapi penuh keyakinan.
Keinginan itu membawanya menempuh pendidikan Sarjana (S1) di Undaris. Setelah lulus, pada tahun 2002, ia mulai mengajar di MTsN 1 Pecangaan, Bawu, Jepara. Awalnya hanya membantu. Masuk kelas sekadar menggantikan, menyempurnakan, melengkapi. Namun dari situlah ia menemukan panggilan jiwanya.
“Akhirnya dipercaya jadi guru tetap,” ujarnya.
Dan sejak itu, ia tak pernah betah melihat jam kosong.
“Kalau ada jam kosong, saya ingin menggantikan. Tidak suka kalau ada jam kosong,” katanya sambil tersenyum.
Baginya, waktu adalah amanah. Setiap detik adalah peluang untuk berbuat baik. Setiap kelas adalah ladang pengabdian.
Kariernya tumbuh bukan oleh ambisi, melainkan oleh ketekunan yang konsisten. Dari guru, ia dipercaya menjadi wali kelas selama dua tahun. Lalu naik menjadi Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, dua tahun berikutnya Wakil Kepala Bidang Kurikulum. Semua dijalani dengan tenang, tanpa banyak suara, tanpa banyak tuntutan.
Tahun 2004, sebuah amanah besar datang: Kepala MIN 1 Bawu Jepara. Ia menerimanya dengan perasaan haru. Ada getar batin yang menyertainya. Ia merasa, pengabdiannya harus diperluas. Tanggung jawabnya harus diperbesar.
Oktober 2006 menjadi babak baru. Ia kembali ke MTsN Bawu (sekarang MTsN 1 Jepara, Red), kali ini sebagai kepala madrasah. Dari sanalah prestasi mulai bermunculan. Salah satunya, Juara II Ujian Nasional tingkat Provinsi Jawa Tengah. Sebuah capaian yang lahir dari kerja kolektif dan kepemimpinan yang membumi.
Perjalanan kemudian membawanya ke MTsN 1 Kudus. Sekolah yang sempat tertinggal itu pelan-pelan bangkit. Hingga akhirnya menorehkan prestasi Juara III UN perorangan tingkat Jawa Tengah. Ia tidak datang membawa keajaiban, tetapi membawa kesabaran.
Tahun 2018, ia mendapat amanah di MTsN 1 Pati. Langkah pertamanya sederhana: mengecat, membenahi, membangun. Ia percaya, perubahan besar selalu berawal dari sentuhan kecil. Dari dinding yang bersih, halaman yang rapi, dan ruang belajar yang layak. Dari situlah semangat tumbuh. Prestasi pun menyusul, bahkan hingga tingkat nasional dan internasional.
Tahun 2022, promosi kembali datang, bahkan ke luar kota. Namun setahun kemudian ia memilih tetap di Pati. Ada rasa memiliki yang belum ingin ia tinggalkan. Hingga akhirnya, pada 2024, takdir menuntunnya kembali ke Kudus, menjadi Kepala MAN 2 Kudus.
Kini, setiap pagi di gerbang madrasah itu, Ali Musyafak berdiri bukan sekadar sebagai pemimpin. Ia berdiri sebagai pengingat. Bahwa kepemimpinan bukan soal kursi, melainkan soal hati. Bukan tentang perintah, tetapi tentang keteladanan.
Ia menyapa, menyalami, dan menguatkan. Seolah ingin berkata tanpa suara:
pendidikan selalu dimulai dari ketulusan, bukan dari jabatan.
Dan dari gerbang kecil itulah, cahaya besar pengabdian terus menyala. (*)
Editor : Zainal Abidin RK