Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Leni Firda Kurnia Sari, Lulusan SMK Penerima KIP Kuliah yang Raih IPK 3,99 di UNY

Iwan Arfianto • Kamis, 22 Januari 2026 | 16:41 WIB
Leni Firda Kurnia Sari Foto: Dok UNY
Leni Firda Kurnia Sari Foto: Dok UNY

RADAR KUDUS – Jalan hidup Leni Firda Kurnia Sari sempat berbelok tajam.

Lulusan SMKN 2 Pengasih, Kulonprogo, itu nyaris mengubur mimpi melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.

Keterbatasan ekonomi keluarga membuat opsi langsung bekerja terasa jauh lebih masuk akal dibanding mengejar gelar sarjana.

Namun, nasib berkata lain. Berkat Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Leni justru menjelma menjadi salah satu mahasiswa berprestasi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Hingga kini, ia mencatatkan indeks prestasi kumulatif (IPK) nyaris sempurna: 3,99.

Dikutip dari laman resmi UNY, Leni saat ini tengah memusatkan perhatian untuk menuntaskan skripsi.

Ia pun telah menyiapkan mimpi berikutnya—melanjutkan studi ke jenjang magister dengan beasiswa.

Antara Realita dan Mimpi

Selepas lulus SMK, Leni berada di persimpangan.

Ia menyadari betul kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas.

Kuliah kala itu terasa seperti angan-angan yang terlalu tinggi untuk diraih.

“Pilihan kerja setelah lulus terasa lebih realistis,” kenangnya.

Harapan mulai tumbuh ketika Leni mengetahui adanya program KIP Kuliah dari media sosial.

Program tersebut membuka peluang bagi siswa dari keluarga kurang mampu untuk tetap mengenyam pendidikan tinggi, lengkap dengan bantuan biaya kuliah dan biaya hidup.

Sejak itu, keyakinannya menguat. Kekhawatiran soal biaya perlahan bergeser menjadi tekad untuk mencoba.

Mantap ke UNY

Yogyakarta menjadi pilihan utama Leni. Suasana akademik yang dikenal kondusif serta nilai budaya yang kental membuatnya jatuh hati.

Ia akhirnya memilih Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Jawa, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) UNY, dan resmi menjadi mahasiswa pada 2022.

Bagi Leni, Bahasa Jawa bukan sekadar mata kuliah, melainkan warisan budaya yang sarat nilai dan tetap relevan dengan kehidupan masa kini.

Diuji Kehilangan

Perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Di penghujung semester tiga, Leni harus menghadapi ujian terberat dalam hidupnya: sang ibu berpulang.

Kehilangan itu memaksanya tumbuh lebih cepat. Ia belajar menata ulang hidup, mengatur prioritas, sekaligus menguatkan diri agar tetap bisa melanjutkan studi dan membantu keluarga.

“Dari situ saya belajar bertahan dan menerima kenyataan,” ujar putri pasangan Wasiran dan almarhumah Sugiyati tersebut.

Disiplin Jadi Kunci

Di tengah berbagai tantangan, Leni menanamkan satu prinsip: disiplin.

Ia terbiasa menyusun daftar tugas harian, rutin mengulang materi, membuat mind map, hingga menerapkan teknik belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

Ia juga aktif di kelas dan tak segan berdiskusi dengan dosen.

Lingkungan akademik yang terbuka dan suportif di UNY, menurutnya, menjadi faktor penting dalam menjaga semangat belajar.

Tak hanya mengandalkan ruang kelas, Leni rajin memanfaatkan fasilitas perpustakaan fisik maupun digital kampus untuk memperdalam pemahaman.

Aktif dan Berdampak

Mahasiswi asal Karangtengah Kidul, Margosari, Pengasih itu juga aktif di luar akademik. Ia terlibat dalam unit kegiatan mahasiswa, komunitas sastra, karang taruna, hingga kegiatan kerelawanan.

Berbagai aktivitas tersebut memperkaya sudut pandangnya dan mengasah kemampuan komunikasi, empati, serta kerja sama tim.

Leni pun mengikuti program Kampus Mengajar. Keikutsertaannya membuat ia dapat mengonversi kegiatan tersebut menjadi satuan kredit semester (SKS), sehingga tak perlu lagi menjalani KKN dan Praktik Kependidikan.

Kini, dengan IPK 3,99 di tangan, Leni fokus menyelesaikan skripsi. Baginya, capaian itu bukan sekadar deretan angka.

“Ini simbol proses panjang yang dijalani dengan disiplin, kesungguhan, dan doa,” katanya.

Ia berpesan kepada pelajar SMA, SMK, dan MA yang terkendala ekonomi agar tidak menyerah pada keadaan.

“Mimpi tidak punya batas ekonomi. Yang perlu ditakuti bukan keterbatasan, tapi saat kita berhenti bermimpi,” tutup Leni.

Editor : Mahendra Aditya
#kisah inspiratif #uny #KIP kuliah #mahasiswa berprestasi #universitas negeri yogyakarta