RADAR KUDUS - Jika kita membayangkan kembali ke ratusan tahun lalu dengan mesin waktu, pertanyaan menarik pun muncul: peradaban mana yang paling maju pada masanya? Jawabannya ternyata bukan negara-negara Eropa, melainkan Cina kuno.
Jauh sebelum dunia mengenal obat-obatan modern, peradaban Cina telah menemukan cara untuk melawan penyakit cacar.
Mereka juga mengembangkan sistem pengairan canggih, alat pendeteksi gempa, hingga jam astronomi bertenaga air.
Tak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, Cina kuno juga memegang rahasia pembuatan sutra; komoditas mewah yang nilainya setara ratusan koin emas dan menjadi simbol kekayaan tertinggi di kalangan bangsawan dunia.
Kekayaan dari perdagangan sutra membuat Cina berlimpah harta, sehingga rahasia produksinya dijaga sangat ketat. Siapa pun yang membocorkannya terancam hukuman mati.
Dari sisi militer, Cina kuno merupakan kekuatan besar. Mereka memiliki jutaan tentara, telah menggunakan bubuk mesiu, bahkan menciptakan senjata api ketika Eropa masih mengandalkan busur dan panah.
Armada laut mereka pun luar biasa. kapal-kapal berukuran raksasa yang dilengkapi kompas magnetik, jauh lebih besar dibanding kapal-kapal Eropa saat itu.
Dengan teknologi dan kekuatan sebesar itu, Cina sebenarnya memiliki kemampuan untuk menjelajah samudra, menaklukkan negeri-negeri seberang, dan menjajah dunia.
Namun sejarah justru mencatat hal sebaliknya. Cina tidak memilih jalan penjajahan, sementara Eropa dengan kapal-kapal kecilnya justru berhasil menguasai berbagai belahan dunia.
Alasan utama terletak pada cara pandang orang Cina kuno terhadap dunia. Mereka meyakini bahwa Cina adalah pusat peradaban.
Dunia luar dianggap tidak terlalu penting karena justru membutuhkan Cina, bukan sebaliknya. Selain itu, wilayah Cina sangat luas dan subur, dialiri dua sungai besar serta memiliki sumber daya alam melimpah.
Dengan populasi besar dan ketersediaan sumber daya yang cukup, Cina mampu memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus berekspansi keluar.
Berbeda dengan Eropa yang terpecah dalam negara-negara kecil, sering berkonflik, miskin sumber daya alam, dan berpenduduk relatif sedikit.
Kondisi inilah yang mendorong bangsa Eropa melakukan penjajahan demi mencari bahan pangan, lahan baru, dan tenaga kerja.
Faktor geografis juga berperan besar. Cina dikelilingi gurun, pegunungan tinggi, dan lautan luas yang menyulitkan ekspansi wilayah.
Upaya perluasan ke Korea, misalnya, pernah gagal akibat medan pegunungan yang menyulitkan pergerakan pasukan dan logistik.
Meski demikian, sejarah mencatat satu masa ketika Cina sempat membuka diri ke dunia luar. Seorang kaisar berambisi membuat negara-negara lain mengakui kebesaran Cina.
Ia menunjuk seorang laksamana Muslim tangguh untuk memimpin ekspedisi laut besar-besaran. Ratusan kapal raksasa dengan puluhan ribu awak berlayar ke Asia Tenggara, India, Timur Tengah, hingga Afrika.
Misi ini bukan untuk menjajah, melainkan menjalin hubungan diplomatik dan perdagangan. Banyak kerajaan yang akhirnya menjadi sekutu dan mengirim upeti ke Cina.
Namun kejayaan itu tidak berlangsung lama. Setelah sang laksamana wafat dan ancaman bangsa Mongol dari utara kembali menguat, fokus Cina beralih ke pertahanan darat.
Kaisar berikutnya menganggap ekspedisi laut sebagai pemborosan kas negara. Dana pun dialihkan untuk memperkuat militer dan membangun tembok pertahanan raksasa yang kini dikenal sebagai Tembok Besar Cina.
Pada akhirnya, kebijakan isolasi diberlakukan. Ekspedisi laut dilarang, kapal-kapal besar dihancurkan, perdagangan luar negeri dibatasi ketat, dan Cina menutup diri dari dunia luar.
Padahal, sekitar satu abad sebelum bangsa Eropa menjelajah dunia, Cina sebenarnya telah lebih dulu mengarungi samudra.
Keputusan menghentikan ekspedisi inilah yang dianggap banyak sejarawan sebagai momen ketika Cina melewatkan kesempatan untuk menguasai dunia.
Sejarah pun berjalan berbeda, dimana Eropa menjadi kekuatan kolonial global, meski dengan harga mahal berupa darah, perbudakan, dan eksploitasi.
Kini, keadaan telah berbalik. Cina modern kembali membuka diri dan bangkit sebagai kekuatan global.
Dengan kemajuan teknologi, kecerdasan buatan, mobil listrik, dan penguasaan jalur perdagangan dunia, pengaruh Cina kembali menjalar luas. (Ghina Nailal Husna)
Editor : Ali Mustofa