RADAR KUDUS - Pembelajaran bahasa Inggris telah menjadi mata pelajaran wajib hampir seluruh sekolah di Indonesia, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
Namun, kewajiban tersebut dinilai belum sepenuhnya menjamin kemampuan berkomunikasi aktif para pelajar.
Hal tersebut diungkapkan oleh seorang Warga Negara Indonesia yang telah menetap lebih dari tiga tahun di Belanda pada saluran YouTube milik Vincdels.
Ia mengaku telah mempelajari bahasa Inggris sejak kecil, bahkan mengikuti berbagai kursus tambahan.
Meski demikian, kemampuan berbahasa Inggrisnya belum berkembang secara optimal hingga lulus SMA, meskipun nilai ujian nasional bahasa Inggrisnya tergolong tinggi.
Menurutnya, kondisi tersebut disebabkan oleh perbedaan mendasar antara memahami bahasa secara pasif dan menggunakan bahasa secara aktif.
“Saya bisa mengerti bahasa Inggris, tapi tidak bisa menggunakannya untuk berkomunikasi. Itu dua hal yang sangat berbeda,” ujarnya.
Faktor kelancaran berbahasa Inggris
Kesulitan berkomunikasi mulai terasa ketika ia pertama kali tinggal di Belanda. Pada tahun pertama, hambatan bahasa menjadi tantangan utama dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, seiring waktu dan meningkatnya intensitas penggunaan, ia mulai merasa lebih nyaman berbahasa Inggris pada tahun kedua.
Kini, ia bahkan kerap berpikir dengan mencampurkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Dari pengalaman tersebut, ia menyimpulkan bahwa kelancaran berbahasa Inggris tidak selalu harus diperoleh melalui kursus formal.
Menurutnya, faktor utama terletak pada pola pikir, konsistensi latihan, dan lingkungan yang mendukung.
Ia menekankan pentingnya mengubah mindset bahwa bahasa adalah keterampilan yang dapat diasah, bukan bakat bawaan semata.
Ketakutan untuk melakukan kesalahan justru dinilai menjadi penghambat terbesar dalam proses belajar bahasa.
“Orang yang lancar bukan karena tidak pernah salah, tapi karena tidak takut salah,” jelasnya.
Selain itu, lingkungan juga memegang peranan penting.
Ia menyarankan untuk menjauhi lingkungan yang meremehkan upaya belajar, serta membangun kebiasaan sehari-hari yang terpapar bahasa Inggris, seperti mengatur gawai ke bahasa Inggris, menonton film dengan subtitle bahasa Inggris, hingga membaca komik atau buku berbahasa Inggris.
Dalam mempelajari kosakata, ia menerapkan prinsip Pareto, yakni fokus pada kosakata yang paling sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan menghafal ribuan kosakata secara acak.
Ia juga menekankan pentingnya membiasakan diri berpikir langsung dalam bahasa Inggris tanpa menerjemahkan dari bahasa Indonesia.
Menulis jurnal harian dan berbicara sendiri dalam bahasa Inggris menjadi salah satu metode latihan yang ia gunakan.
Latihan berbicara secara rutin disebut sebagai tahap paling krusial. Ia menilai bahwa ketidaksinkronan antara pikiran dan pengucapan sering terjadi akibat kurangnya latihan otot mulut.
Oleh karena itu, meniru pengucapan dari film atau berlatih bersama komunitas menjadi langkah yang dianjurkan.
Menurutnya, tujuan utama belajar bahasa Inggris adalah komunikasi, bukan kesempurnaan tata bahasa. Kesalahan dianggap sebagai bagian dari proses pembelajaran yang tidak dapat dihindari.
"Belajar bahasa itu bukan sprint, tapi maraton. Tidak perlu bakat, yang dibutuhkan hanyalah latihan dan konsistensi." tutupnya. (Ghina Nailal Husna)
Editor : Ali Mustofa