RADAR KUDUS – Ketertarikan membaca siswa di Indonesia menunjukkan kecenderungan merosot.
Perpustakaan yang dulu banyak dikunjungi sekarang semakin sepi, bahkan saat jam sekolah.
Keadaan ini menjadi tanda yang penting bagi sektor pendidikan di tengah upaya menciptakan generasi muda yang pintar dan memiliki daya saing.
Baca Juga: Profil Leticia Joseph, Putri Sheila Marcia dan Anji yang Menjadi Juara GADIS Sampul 2025
Beberapa laporan nasional menunjukkan bahwa tingkat kemampuan membaca di Indonesia masih relatif rendah jika dibandingkan dengan negara lain.
Program Data untuk Penilaian Pelajar Internasional (PISA), Indonesia secara konsisten berada di peringkat bawah, misalnya di PISA 2018 menempati posisi 10 terbawah dari 79 negara untuk literasi membaca, dengan skor 371 (di bawah rata-rata OECD 487).
Informasi ini menegaskan kekhawatiran bahwa kebiasaan membaca belum tertanam secara mendalam di kalangan siswa.
Di lapangan, baik perpustakaan sekolah maupun umum seringkali hanya dikunjungi saat ada pekerjaan.
Selain itu, ketertarikan untuk membaca buku secara sendiri tergolong rendah.
Mahasiswa lebih memilih menghabiskan waktu dengan perangkat digital, platform media sosial, dan konten hiburan cepat yang tidak selalu memiliki nilai pendidikan.
Meskipun demikian, membaca buku berperan krusial dalam membangun pola pikir kritis, memperluas pengetahuan, serta meningkatkan kemampuan analisis dan komunikasi.
Generasi muda yang suka membaca akan lebih siap menghadapi perubahan zaman, termasuk tantangan dalam bidang pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial.
Minimnya ketertarikan untuk membaca juga berpengaruh pada mutu sumber daya manusia.
Tanpa rutinitas membaca, siswa berisiko menghadapi kekurangan kosakata, kemampuan berpikir, serta pemahaman yang mendalam mengenai suatu masalah.
Ini merupakan tantangan besar, mengingat siswa saat ini adalah pemimpin negara di masa mendatang.
Walaupun begitu, usaha untuk meningkatkan minat baca tetap memiliki peluang yang besar.
Perpustakaan bisa dibuat lebih menarik dan bersahabat untuk generasi muda, melalui penyediaan buku-buku edukatif yang populer, area membaca yang nyaman, sampai aktivitas literasi yang kreatif.
Baca Juga: Kabar Baik, Asia-Pasifik Sepakat Calonkan Indonesia sebagai Presiden Dewan HAM PBB
Pembinaan dari guru dan orang tua juga merupakan faktor utama dalam membangun kebiasaan membaca sejak usia dini.
Membaca bukan hanya kegiatan akademis, tetapi juga investasi yang berkelanjutan. Seperti peribahasa, “Buku adalah pintu menuju dunia,” dengan membaca, siswa dapat memahami dunia yang lebih luas.
(Amelia NA)
Editor : Ali Mustofa