Jakarta – Menjadi sorotan saat prosesi wisuda bukan hal yang asing bagi Farras Ulinnuha.
Mahasiswa International Undergraduate Program (IUP) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2021 itu berhasil mencatatkan prestasi sebagai lulusan termuda dengan usia 19 tahun 8 bulan 17 hari.
Pencapaian tersebut membuatnya melampaui rata-rata usia wisudawan S1 yang mencapai 22 tahun lebih.
Akselerasi Sejak Sekolah Dasar
Kesuksesan Farras ternyata bukan hal instan. Ia sudah menapaki jalur akselerasi sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Farras mengawali pendidikannya di usia 4,5 tahun dan memanfaatkan program percepatan belajar yang saat itu masih diizinkan oleh dinas pendidikan.
Berkat program tersebut, ia dapat mengikuti ujian nasional tingkat SMP ketika masih kelas 5 SD.
Setelah lulus, pendidikan jenjang SMP ia jalani selama tiga tahun secara normal, lalu kembali mengambil kelas akselerasi di SMA dan menuntaskan pendidikan hanya dalam dua tahun.
“Saya masuk SD umur 4,5 tahun, lanjut SMP 3 tahun, dan SMA selesai dalam 2 tahun,” ujarnya seperti dikutip dari laman UGM.
Masuk Kuliah di Usia 16 Tahun
Percepatan pendidikan itu membuat Farras resmi menjadi mahasiswa UGM di usia 16 tahun.
Sementara teman sebayanya masih duduk di bangku SMA, ia sudah harus beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan yang penuh tantangan.
Farras mengakui bahwa penyesuaian pada awal masa kuliah tidak selalu mudah.
Perbedaan usia dengan mayoritas teman kuliahnya membuat ia harus berusaha lebih keras untuk menyeimbangkan diri dengan budaya dan dinamika kampus.
“Awalnya cukup sulit, tapi lama-lama saya menemukan ritme yang tepat,” ungkapnya.
Ia bersyukur berada di lingkungan FK UGM yang inklusif dan suportif. Rekan-rekannya membuat proses adaptasi menjadi lebih ringan.
Aktif Berorganisasi dan Belajar Hal Baru
Tidak hanya fokus pada akademik, Farras juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar kelas.
Ia tercatat pernah bergabung di Asian Medical Students Association (AMSA) dan Center for Indonesian Medical Students Activities (CIMSA).
Farras bahkan mendapat kesempatan langka masuk ke ruang operasi bersama dokter ortopedi.
Pengalaman tersebut dinilainya sebagai salah satu momen paling berkesan selama menempuh pendidikan.
Sudah Tertarik pada Dunia Kedokteran Sejak Kecil
Minat Farras pada dunia medis juga bukan hal baru.
Sejak kecil ia sering menemani ibunya bekerja di rumah sakit dan membantu di klinik keluarga.
Hal itu membuatnya semakin yakin untuk menekuni profesi dokter.
“Sejak dulu saya sudah familiar dengan dunia medis. Ketika tahu UGM, saya merasa itu tempat terbaik untuk belajar dan berkontribusi lewat profesi dokter,” katanya.
Ingin Mengabdi ke Daerah Asal
Setelah resmi menyelesaikan program S1, Farras berharap dapat melanjutkan pendidikan profesi hingga tuntas dan pulang untuk mengabdi di kampung halamannya, Lampung.
Ia ingin turut berperan dalam pemerataan layanan kesehatan di Indonesia.
Ia juga berharap cerita perjalanannya dapat memberi motivasi bagi mahasiswa lain.
“Dulu saya juga sempat putus asa, tapi akhirnya bisa lulus. Semua orang punya timeline-nya masing-masing. Yang penting tetap semangat dan lakukan yang terbaik,” tutupnya.
Editor : Mahendra Aditya