RADAR KUDUS - Pusat Layanan Konseling (PLK) UIN Sunan Kudus menggelar kegiatan bertajuk “Pelayanan Kotak Curhat Masyarakat” di Taman Balai Jagong Kudus, Jumat (31/10/2025).
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah nyata civitas akademika kampus dalam mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan mental.
Menurut Pakar Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Atika Dian Ariana., masalah yang menumpuk tanpa tersalurkan dapat menyebabkan pikiran jenuh dan berujung stres.
Baca Juga: Google Doodle Rayakan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2025
“Masalah yang bertumpuk di kepala membuat seseorang overthinking atau stres. Karena itu penting untuk menyalurkan emosi dengan cara yang sehat,” jelasnya.
Ketua PLK UIN Sunan Kudus, Anam, menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari teori katarsis milik Sigmund Freud — bahwa berbagi cerita (curhat) bisa membantu seseorang melepaskan emosi negatif seperti kesedihan, kemarahan, dan tekanan batin.
“Kotak Curhat ini kami hadirkan sebagai wadah bagi masyarakat untuk menulis dan meluapkan perasaan tanpa harus menyebut identitas diri. Ini bentuk layanan konseling yang ramah dan mudah dijangkau,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) yang tergabung dalam PLK memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menulis curahan hati mereka secara anonim di kertas, kemudian dimasukkan ke kotak curhat yang telah disediakan.
Antusiasme pengunjung taman cukup tinggi. Banyak warga yang memanfaatkan kesempatan itu untuk menuliskan keluh kesah seputar masalah pribadi, keluarga, maupun tekanan hidup yang sedang dirasakan.
Selain menerima curhatan, PLK juga membuka layanan lanjutan bagi masyarakat yang ingin mendapatkan pendampingan psikologis secara langsung di kampus.
Baca Juga: Harga Emas Antam Terjun Bebas, Sentuh Level Rp 2,26 Juta per Gram
Layanan tersebut mencakup konseling individual, kelompok, karier, traumatik, akademik, hingga pernikahan, baik secara tatap muka di Laboratorium Integrasi Lantai 3 UIN Sunan Kudus maupun daring melalui Google Meet dan layanan chat.
Anam berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan secara berkala agar masyarakat semakin terbuka untuk berbagi cerita dan mencari bantuan profesional.
“Kami ingin menunjukkan bahwa konseling bukan hal yang menakutkan, tetapi ruang aman untuk bercerita dan menemukan solusi bersama,” pungkasnya.(fad)
Editor : Ali Mustofa