Banyak lulusan kuliah di Indonesia tidak bekerja sesuai jurusan. Di era digital dan AI, apakah pendidikan tinggi masih relevan? Ini opini orang tua tentang masa depan anak di tengah perubahan zaman.
Saya menulis opini ini sebagai orang tua yang tengah gelisah. Anak saya baru saja naik kelas 12, dan seperti banyak keluarga lain, kami mulai memikirkan jalur pendidikan setelah SMA. Namun, pertanyaan terbesar saya bukan lagi "mau kuliah di mana?" tapi lebih mendasar: "Apakah kuliah masih relevan untuk masa depan?"
Bukan rahasia lagi: banyak lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang akhirnya bekerja di luar bidang studinya. Bahkan tak sedikit yang menganggur atau terjebak di pekerjaan yang tidak membutuhkan gelar sama sekali. Data BPS 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 60% sarjana Indonesia tidak bekerja sesuai jurusannya.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan, Apakah investasi waktu dan biaya kuliah setara dengan hasilnya? Apakah sistem pendidikan kita terlalu lambat merespons kebutuhan industri? Apakah anak-anak kita disiapkan untuk dunia kerja nyata, atau hanya untuk ujian dan IPK?
Skill dan Portofolio Kini Lebih Dicari daripada Ijazah
Perusahaan teknologi, startup, hingga industri kreatif kini lebih memprioritaskan kemampuan praktis dibanding gelar akademik. Seorang anak muda yang mahir coding, desain grafis, atau data analytics bisa langsung bekerja—bahkan dari rumah—untuk perusahaan luar negeri, tanpa ijazah universitas.
Saya melihat sendiri, beberapa teman anak saya yang memilih ikut bootcamp atau kursus daring, justru lebih cepat mendapatkan penghasilan dibanding yang kuliah formal.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Saya belajar bahwa peran orang tua kini bukan hanya menyekolahkan anak, tetapi membantu mereka membangun strategi hidup. Dunia kerja ke depan tidak linear. Maka, kita harus bantu anak:
- Menemukan passion yang bisa dimonetisasi
- Menguasai keterampilan digital dan komunikasi
- Siap bekerja lintas bidang dan lintas budaya
- Belajar sepanjang hayat, bukan hanya sampai lulus kuliah
Kuliah tetap bisa menjadi pilihan, asalkan tepat jurusan, tepat pendekatan, dan didukung skill yang relevan. Tapi kita juga harus terbuka dengan jalur lain: bootcamp, bisnis digital, freelance, atau bahkan membangun startup.
Masa Depan: Bersaing di Dunia Tanpa Batas
Perubahan teknologi dan globalisasi membuat anak-anak kita bersaing dengan talenta dari India, Nigeria, Vietnam, dan Filipina. Semua orang bisa bekerja dari mana saja. Maka fokusnya bukan hanya “kerja di mana”, tapi “apa yang bisa kamu kerjakan?”
Penutup: Kuliah Bukan Tujuan, tapi Salah Satu Jalan
Saya tidak menentang pendidikan tinggi. Tapi saya percaya, kuliah bukan satu-satunya kunci sukses di era digital ini. Jalan anak kita mungkin berbeda dari kita dulu. Dan itu tidak apa-apa.
Tugas kita sebagai orang tua adalah membuka mata, membuka wawasan, dan membuka jalan—bukan memaksakan peta lama untuk zaman yang sudah berubah.
Editor : Zainal Abidin RK