RADAR KUDUS - Memilih jurusan kuliah sebaiknya tidak dilakukan secara asal-asalan. Harapannya, pilihan yang diambil tidak menimbulkan penyesalan di masa depan.
Ada banyak faktor yang bisa dipikirkan dalam menentukan program studi, salah satunya adalah peluang untuk mendapatkan penghasilan besar setelah lulus.
Menariknya, ada sejumlah jurusan yang justru kurang diminati oleh calon mahasiswa, padahal lulusan dari jurusan-jurusan tersebut berpotensi memperoleh gaji tinggi. Apa saja jurusan yang dimaksud?
Berikut daftarnya, dikutip dari berbagai sumber seperti CNN Indonesia, detikEdu, serta laman resmi UI, UGM, ITB, UB, dan Jobstreet.
1. Seni Rupa dan Desain
Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) tercatat sebagai jurusan dengan peminat paling sedikit di ITB dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2025, hanya mencatat 52 pendaftar.
Di Universitas Brawijaya (UB), jurusan Seni Rupa Murni juga menjadi yang paling sedikit peminatnya, yakni 40 orang.
Jurusan ini mempelajari berbagai aspek seni dan desain, dari seni murni seperti melukis, membuat patung, hingga seni keramik, serta bidang desain seperti komunikasi visual, produk, interior, dan kriya.
Mahasiswa akan dibekali dengan kemampuan artistik, analisis visual, serta pemahaman tentang media dan teknik seni yang beragam.
Tak hanya di ITB, jurusan serupa juga tersedia di kampus lain seperti UNS, ISBI Bandung, ISI Surakarta, dan ISI Denpasar. Lulusannya berpeluang menjadi ilustrator, desainer grafis, hingga art director, dengan kisaran gaji awal antara Rp 5 juta sampai Rp 11 juta per bulan.
2. Mikrobiologi
Program Studi Mikrobiologi Pertanian di UGM termasuk ke dalam jurusan dengan minat yang relatif rendah.
Pada tahun 2024, rasio peminat terhadap daya tampung adalah 1:10.
Prodi ini hanya menyediakan 35 kursi yang dibagi dalam jalur SNBP (11 kursi), SNBT (11 kursi), dan seleksi mandiri (13 kursi).
Jurusan ini mempelajari berbagai mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, dan protozoa, serta peranannya dalam kehidupan—terutama di bidang kesehatan, industri makanan, dan lingkungan.
Lulusan mikrobiologi bisa berkarier di industri farmasi, bioteknologi, riset lingkungan, dan pengembangan ilmu hayati.
Menurut data dari Jobstreet per 1 Juli 2025, gaji rata-rata di bidang mikrobiologi berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 6,7 juta per bulan.
3. Teknik Bioenergi dan Kemurgi
Bioenergi merujuk pada energi alternatif yang bersumber dari bahan organik seperti tanaman atau hewan.
Sementara itu, menurut KBBI, kemurgi adalah penerapan ilmu kimia dalam pengolahan hasil pertanian non-pangan, misalnya penggunaan kedelai sebagai bahan baku plastik.
Program studi ini hanya tersedia di ITB dan fokus pada pemanfaatan limbah biomassa serta tanaman untuk menghasilkan energi terbarukan dan produk kimia yang ramah lingkungan.
Lulusan dari jurusan ini dibutuhkan di berbagai industri seperti biofuel, energi terbarukan, dan pengembangan teknologi hijau.
Jobstreet mencatat profesi ini termasuk ke dalam kategori insinyur lingkungan dengan gaji bulanan mulai dari Rp 11 juta hingga Rp 14 juta.
4. Teknik/Teknologi Bioproses
Teknik bioproses adalah ilmu yang menggabungkan bioteknologi, rekayasa teknik, dan ilmu biologi untuk memproduksi berbagai barang, seperti makanan, obat-obatan, bahan bakar, produk kimia, dan pengolahan limbah organik.
Berdasarkan buku Dasar Bioproses karya Hadiyanto, bidang ini memegang peranan penting dalam pengembangan produk-produk yang digunakan sehari-hari.
Secara teknis, bioproses mencakup desain alat, pengaturan kondisi fermentasi, pengujian kualitas, dan proses produksi berbasis mikroorganisme seperti bakteri dan alga.
Jurusan ini merupakan cabang dari Teknik Kimia dan hanya tersedia di UI dan UB, yang keduanya mencatat jumlah peminat yang tidak terlalu tinggi pada SNBP 2025: 133 di UI dan 114 di UB.
Peluang kerja bagi lulusan teknik bioproses cukup beragamdari industri pangan, kosmetik, farmasi, hingga laboratorium kimia dengan kisaran gaji awal antara Rp 4 juta sampai Rp 10 juta per bulan.
5. Geofisika
Geofisika adalah salah satu jurusan yang peminatnya sedikit di Universitas Indonesia, dengan hanya 124 pendaftar pada SNBP 2025.
Ilmu ini merupakan bagian dari geoscience yang menelaah proses-proses fisika yang terjadi di dalam bumi, termasuk hubungan antara bumi dan benda-benda langit di sekitarnya.
Jurusan ini juga ditawarkan di STMKG (Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), yang berada di bawah naungan BMKG.
Menurut Jobstreet, rata-rata gaji geofisikawan di Indonesia berada di kisaran Rp 8,5 juta hingga Rp 11,5 juta per bulan. (Octa Afriana A)
Editor : Mahendra Aditya