KEBERAGAMAN menjadi kekuatan utama bangsa Indonesia. Semboyan Bhineka Tunggal Ika mencerminkan betapa bangsa ini berdiri tegak di atas perbedaan.
Konsep pluralitas, sebagaimana dijelaskan Robert E. Goodin dalam Handbook Ekonomi Politik, adalah keberagaman dalam agama, budaya, etnis, bahasa, hingga pandangan politik.
Nilai ini ternyata telah mengakar kuat sejak masa lampau, termasuk dalam karya seni peninggalan sejarah yang ada di Jepara, Jawa Tengah.
Salah satu bukti kuatnya adalah relief Masjid Mantingan, peninggalan era Ratu Kalinyamat, penguasa Jepara antara tahun 1549 hingga 1579.
Ratu yang dikenal juga sebagai Retna Kencana ini tak hanya dikenal karena keberaniannya melawan penjajahan Portugis di Selat Malaka—yang mengantarkannya pada gelar pahlawan nasional tahun 2023—tetapi juga karena warisan budayanya yang luar biasa.
Masjid dan Relief yang Penuh Makna
Masjid Mantingan dibangun pada tahun 1559 dan hingga kini tetap berdiri kokoh meski telah mengalami beberapa kali renovasi.
Keunikan masjid ini terletak pada relief-relief yang menghiasi dindingnya—total terdapat 114 relief, meskipun hanya 51 di antaranya yang dipajang secara terbuka. Sisanya disimpan untuk pelestarian.
Relief tersebut bukan sekadar ornamen. Ia memuat pesan moral dan spiritual yang mendalam. Seperti dijelaskan dalam pandangan Clifford Geertz dalam The Interpretation of Cultures (1973), budaya adalah mekanisme kontrol—sebuah cetak biru untuk perilaku manusia.
Maka, relief-relief itu bisa dibaca sebagai ajakan untuk menuju kehidupan yang lebih baik, sebuah pesan yang disampaikan secara simbolis melalui seni ukir batu.
Perpaduan Budaya dalam Satu Karya
Yang membuat relief Mantingan begitu istimewa adalah gaya visualnya. Terdapat pengaruh Hindu-Buddha, Islam, Jawa, bahkan Tiongkok.
Sentuhan lintas budaya ini merupakan buah kolaborasi antara Ratu Kalinyamat sebagai penggagas dan Patih Sungging Badar Duwung (Tjie Wie Gwan) sebagai pemahat.
Pada masa itu, masyarakat Jepara belum homogen secara agama. Ada yang menganut Hindu-Buddha, Katolik, hingga kepercayaan lokal, di samping Islam yang sedang berkembang.
Oleh karenanya, visual relief dengan pendekatan multikultural ini dianggap sebagai cara halus untuk mengundang masyarakat mendekat ke masjid dan belajar mengenai Islam tanpa memaksa.
Simbol Toleransi dan Keberagaman
Dari perspektif antropologi, relief tersebut menjadi artefak yang mencerminkan kehidupan masyarakat pesisir utara Jawa yang terbuka, seperti dikemukakan Mudjahirin Thohir dalam bukunya Masyarakat dan Budaya Jawa Pesisir Utara (2022).
Jepara kala itu menjadi pelabuhan penting, tempat berinteraksinya berbagai etnis dan budaya.
Relief Mantingan pun menjadi simbol pluralitas yang nyata. Ia membuktikan bahwa masyarakat bisa hidup berdampingan tanpa konflik, saling belajar dan membangun bersama, sekaligus menjadi alat dakwah yang penuh kearifan.
Lebih dari sekadar seni, relief tersebut adalah perwujudan sense of belonging atau rasa memiliki terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan.
Nilai pluralitas bukan hanya ditampilkan secara visual, namun juga dijalankan dalam kehidupan sosial. Dan dari situlah Jepara tumbuh sebagai wilayah yang inklusif dan harmonis.
(Oleh: Fahmi Gaka, Seniman dan Pengamat Budaya)
Editor : Mahendra Aditya