Ketiganya sepakat ada beberapa hal seperti mindset, dan cara mendidik yang diberikan sehingga mereka bisa ada di titik seperti saat ini.
1. Pendidikan adalah tiket untuk naik kelas Biadonut, kakak kedua Xaviera mengaku orangtuanya terus menanamkan mindset bahwa pendidikan adalah salah satu tiket untuk naik kelas kepada keadaan yang lebih baik.
2. Don’t Stay in Your Bubble Baik Sabrina, Biadonut dan Xaviera, ketiganya sejak kecil memiliki berbagai pengalaman di luar bidang non-matematika.
Orangtua ketiganya meyakini bahwa untuk bisa terus mengeksplor potensi, maka ketiga anaknya harus berani keluar dari zona aman dan nyaman.
Tidak boleh terlalu lama di lingkungan (bubble) yang sama sejak kecil.
3. Anggaran khusus untuk Les Xaviera dan dua saudaranya bercerita, bahwa orangtuanya terus menabung dan mengeluarkan uang untuk les ketiga anaknya. Anak-anak diajak belajar menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri, tak hanya eksak namun juga bidang seni.
Selain itu, dari les, ketiga anaknya juga bisa belajar tentang beragamnya dunia.
“Kita bisa terekspos dengan pengalaman baru yang bikin kita penasaran, kita jadi sadar dengan omongan Papa bahwa dunia itu luas. Bukan soal tempat aja, tapi banyak sekali pengalaman atau hal-hal yang kita nggak pernah ngebayangin hal itu ada dan bisa membawa potensi kitalebih jauh. Saat aku look back itu jadi memori yang indah sih,” ujar salah satu dari ketiga saudara tersebut.
4. Les jadi kesempatan bonding keluarga Selain untuk memperkaya pengalaman, menurut Xaviera, les juga bisa membuat ketiga saudaranya terus bonding dengan orangtua.
“Aku dulu les ditungguin, jauh kemana, dianterin ditunguin, sekeluarga jadi bonding. Aku inget dulu sebelum les makan bakso dulu.
Gak cuma les, dari situ kita jadi tumbuh dan berproses bersama,” ungkap Xaviera.
5. Belajar tentang Ketangguhan dari Les dan Tugas Menurut Sabrina, dengan les, ketiganya belajar untuk bisa menyelesaikan sesuatu. Dari banyaknya tugas les dan pelajaran di sekolah, ketiganya bisa belajar mengenai daya juang dan ketangguhan (resilience).
“Memaksa kita dari rasa malas, dan akhirnya kita juga nyampe nih di akhir,” kata Sabrina. Dari hal-hal itu ketiganya sadar untuk mau mencari sendiri beasiswa di luar negeri. Kita kan sadar ya itu dananya besar, padahal ekonomi kita nggak wow,” tambah Sabrina.
6. Orangtua terlibat tapi tidak berlebihan Baik Xaviera, Sabrina, dan Biodonut mengaku orangtua mereka terlibat dalam upaya mereka mengejar prestasi, namun tidak secara berlebihan.
Kunci meraih beasiswa dan prestasi itu ada pada anak masing-masing, dan orangtua hanya membantu secukupnya.
“Mereka suportif tapi gak memaksa. Jadi kita merasa gak terkekang juga,” ujar Xaviera.
7. Membangun Kepercayaan sejak anak masih kecil Xaviera menanggapi pertanyaan dari netizen bagaimana orangtua ketiganya sudah bisa melepas ketiga anak perempuan untuk sekolah di Luar Negeri.
Ternyata, sejak kecil orangtuanya terus melatih kepercayaan dari hal hal kecil.
“Gimana mereka kasih kepercayaan untuk pergi les kita commute KRL setiap hari, missal ketemu temen terus dikasih kepercayaan, cukup ditanya pulang jam berapa,” ujar Xaviera.
8. Sebelum ke Korea, Orangtua Ikut Cek Background Sekolah dan Lingkungan Xaviera menceritakan bagaimana orangtuanya selalu cek lingkungan dan latar program beasiswa atau perlombaan yang mereka ikuti.
Sebelum berangkat ke Korea, orangtua Xaviera sudah mencari tahu bentuk lingkungan, model sekolah dengan cara mengobrol dengan banyak guru disana lewat email.
“Mama juga sampai nonton drakor untuk tahu lingkungan seperti apa anaknya. Jadi nggak asal melepas kita ke luar negeri. Banyak cari tahu dulu. Mama juga kenal dengan temen-temen aku di Korea, diajak ngobrol gimana kita disana,” jelasnya.
9. Mindset Laki-laki atau Perempuan, Semua Punya Kesempatan Xaviera dan saudaranya merasa dididik dengan mindset baik laki-laki atau perempuan semua berhak punya kesempatan yang sama.
Sehingga meskipun perempuan, mereka bisa meraih apa saja yang mereka ingin tekuni.
“Aku gak merasa dibedain by gender sih. Perempuan atau laki-laki semuanya punya kesempatan yang sama. Nilai-nilai yang ditanam itu, dan kita bisa lebih berani untuk pursue bidang yang mayoritas laki-laki (bidang Sains, Teknik, Engineering, Mathematic). Dan yaudah kita jalanin aja,” ungkapnya.
10. Orangtua Bantu saat Anaknya Tidak Punya Motivasi Sabrina Anggraini bercerita bagaimana orangtuanya ikut memotivasi anaknya untuk terus berjuang dengan apa yang ia inginkan.
Sabrina bercerita ia pernah mau menyerah untuk mengurus berkas seleksi lomba di Jakarta. Saat itu, dirinya kuliah di Jogjakarta sehingga sempat kesulitan dan tidak punya motivasi.
Orangtuanya pun mendorong ia untuk terus mendaftar dan seleksi.
“Masih bisa daftar kok, dan akhirnya aku daftar. Beruntungnya aku jadi daftar karena ternyata setelah itu program itu gak ada lagi di tahun depan,” jelas Sabrina.