Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kekurangan Siswa, Tiga Sekolah Dasar di Grobogan bakal Diregrouping, Mana Saja?

Intan Maylani Sabrina • Kamis, 25 Juli 2024 | 13:05 WIB

 

AKAN DI-REGRUPING: Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di salah satu sekolah yang kekurangan murid di ajaran tahun 2024/2025.
AKAN DI-REGRUPING: Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di salah satu sekolah yang kekurangan murid di ajaran tahun 2024/2025.

GROBOGAN - Minimnya jumlah siswa yang terjadi beberapa tahun terakhir, membuat sejumlah sekolah akan diusulkan digabung (regrouping).

Disdik rencananya akan me-regrouping ke tiga sekolah dalam waktu dekat.

Tiga sekolah yang digabung yakni, SDN 1 Sambongbangi di Kecamatan Kradenan, SDN 3 Pojok Kecamatan Pulokulon, dan SDN 4 Gundih Kecamatan Geyer.

Kepala SDN 2 Gundih yang sekaligus Plt Kepala SDN 4 Gundih Supri Arianti mengatakan kondisi tak memiliki murid baru sudah dirasakan sejak tiga tahun terakhir.

“Kebetulan SDN 2 dan SDN 4 Gundih ini berdampingan. Sehingga tidak merepotkan jika kebijakan regrouping diambil. Di SDN 4 saat ini juga tersisa satu guru seorang ASN,” jelasnya.

Diketahui, sampai saat ini SDN 4 Gundih hanya memiliki siswa kelas IV, V dan VI saja.

“Kami sudah usul regruping sejak tiga tahun lalu. Karena untuk total siswa ini hanya 20 anak. Kami harap Disdik segera mengabulkan permohonan regrouping ini,” pungkasnya.

Kabid Pembinaan Sekolah Dasar (SD) Disdik Grobogan M Irfan mengungkapkan SDN 1 Sambongbangi akan digabung dengan SDN 3 Sambongbangi.

Kemudian SDN 1 Pojok dan SDN 3 Pojok, serta SDN 2 Gundih dan SDN 4 Gundih.

“Rencananya akan dilakukan regrouping tahun ini. Ini masih proses kelengkapan administrasi data dukung,” imbuhnya.

Meski banyak sekolah di Kabupaten Grobogan yang mengalami kekurangan murid.

Menurutnya pengabungan sekolah tersebut tak dilakukan sembarangan.

Apalagi bagi SD di wilayah terpencil, kemudian sekolah tersebut menjadi satu-satunya SD di wilayah tersebut.

”Maka akan sulit dilakukan penggabungan. Ada yang memang minim mendapatkan murid, tak lebih dari sepuluh anak," ujarnya.

"Meski muridnya sedikit, tidak bisa langsung di-regrouping karena letaknya terpencil. Justru itu sebagai bentuk peningkatan aksestabilitas penyelenggaraan pendidikan,” ungkapnya.

Meski begitu, setelah dilakukan kajian. Ketiga sekolah tersebut telah memenuhi kriteria untuk di-regrouping.

Karena ketiganya sudah tak memiliki murid baru kurang lebih 3-4 tahun terakhir ini.

Serta berlokasi satu kompleks atau berdekatan dengan sekolah lain. Hal tersebut yang memicu untuk dilakukan penggabungan.

Irfan menyebut, penggabungan sekolah ini memiliki sisi positif bagi pemkab.

Antaranya menghemat anggaran pendapatan dan belajar daerah (APBD), mengatasi peningkatan mutu, kekurangan tenaga guru (ASN) hingga efisiensi biaya perawatan gedung. (int)

Editor : Ali Mustofa
#regrouping #grobogan #sekolah dasar #siswa