JEPARA - Hingga saat ini sejumlah sekolah dasar (SD) di Kabupaten Jepara masih mendapatkan murid di bawah 10 orang.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara Ali Hidayat melalui kepala bidang sekolah dasar (SD) Edi Utoyo pada Rabu (3/7).
Utoyo mengaku telah berkoordinasi dengan satuan koordinasi pendidikan kecamatan (Satkor Dikcam) Jepara.
"Kalau hari ini (kemarin, Red) belum ada laporan secara detail, kalau secara keseluruhan baru diketahui setelah menginjak tahun ajaran baru usai Senin (22/7) nanti," ujarnya.
Menurut Utoyo, beberapa SD yang masih terdapat peserta sedikit seperti terjadi di SDN Tanggul Tlare, Kecamatan Kedung, dan SDN Damarwulan 3, Kecamatan Keling masih di bawah 10 siswa. Lalu SDN 3 Kedung baru mendapat enam siswa.
"Hal ini ditengarai karena kondisi lingkungan seperti diapit hutan maupun area persawahan. Selain itu permukimannya juga sedikit. Termasuk anak yang masuk usia sekolah juga sedikit," jelasnya.
Meskipun demikian, lanjut Utoyo, tidak ada sekolah yang sampai tidak ada siswa baru.
Proses pendaftaran peserta didik baru (PPDB) juga masih berlangsung. Hingga penutupan tanggal (22/7) mendatang.
"Kami pun luwes, tidak saklek ketika masa pendaftaran ditutup lalu kami juga menutup. Di Jepara kadang malah banyak yang baru mendaftarkan anak masuk di masa-masa penutupan pendaftaran tersebut," katanya.
Kesadaran masyarakat juga dibutuhkan untuk mendaftarkan putra-putrinya lebih awal.
Meskipun dalam praktiknya skema penerimaan di SD berbeda dengan SMP yang tidak hanya luring tapi juga sistem daring secara ketat.
"Yang penting kami bisa memberikan layanan pendidikan, menerima mereka, sesuai dengan aturan yang ada," ujarnya.
"Tapi berapapun maksimal usaha kami untuk menarik lebih banyak jumlah anak usia sekolah itu, kalau wilayahnya kecil dan anak usia sekolah sedikit ya begini keadaannya. Bukan berarti sekolah dasar negeri tidak laku," urainya.
Sejauh ini pihaknya menegaskan belum mengantongi data keseluruhan sekolah mana yang masih mendapati murid sedikit, karena belum memungkinkan untuk dibuat laporan dari tiap sekolah dan kecamatan.
"Kami terus koordinasi terkait kondisi di lapangan dengan Satkor Dikcam," sebutnya.
Sementara itu, Utoyo juga menilai terkait kondisi sosial masyarakat yang agamis turut membuat beberapa pihak memilih untuk mendaftarkan putra-putrinya ke madrasah.
"Bagaimana pun kami menjual mutu. Adapun terdapat SD yang dekat dengan madrasah ya memang persaingan cukup ketat," ujarnya.
"Namun seiring berjalannya waktu (hingga 22 Juli, Red) biasanya terpenuhi, dalam proses menuju ke situ satu dua pasti ada yang mendaftar. Kami telah disediakan tempat untuk penerimaan para peserta didik baru, bahkan hingga di rumah-rumah juga ada," tandasnya.
Salah satu orang tua asal Kecamatan Batealit Agus mengaku memilih menyekolahkan anaknya ke Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Pertimbangannya di madrasah anak-anak selain dibekali ilmu umum juga pendidikan ilmu agama.
Salah satu kepala sekolah di Kecamatan Batealit yang enggan disebutkan namanya mengaku agar sekolahnya mendapat siswa baru dia harus pandai-pandai membuat jam atau program tambahan.
Mulai dari program keagamaan dan ekstrakurikuler.
Sekolahnya berada tak jauh dari MI. Hanya berjarak sekitar seratusan meter.
”Kalau tidak demikian (membuat program tambahan, Red), kami akan kalah dengan madrasah atau sekolah lain,” ujarnya. (fik/zen)
Editor : Ali Mustofa