Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pj Bupati Kudus Hasan Chabibie Berencana Masukkan Caping Kalo Jadi Pelajaran Muatan Lokal, Ini Tujuannya

Indah Susanti • Senin, 29 April 2024 | 22:41 WIB
HAMPIR PUNAH: Pengrajin caping kalo saat menunjukkan keahliannya membuat caping di Pendopo Kabupaten Kudus kemarin.
HAMPIR PUNAH: Pengrajin caping kalo saat menunjukkan keahliannya membuat caping di Pendopo Kabupaten Kudus kemarin.

KUDUS — Perajin caping kalo satu-satunya yang masih bertahan dan merupakan generasi ke tiga dan empat bernama Mbah Rudipah dan Kamto, dari Desa Gulang, Kecamatan Mejobo.

Mereka masih gesit membuat caping kalo yang membutuhkan proses njelimet.

Mulai dari mengayam dengan motif yang kecil-kecil dari suwiran bambu.

Masih membuat bagan untuk capingnya dan lainnya. Semua tersebut dipraktikkan langsung di Pendapa Kabupaten Kudus disaksikan langsung PJ Bupati Kudus M. Hasan Chabibie.

Kamto, sembari membuat caping kalo bercerita kalau ia generasi keempat dan kemungkinan setelahnya nanti tidak ada penerusnya.

”Saya pernah memberikan pelatihan kepada karangtaruna desa saya (Desa Gulang, Red) namun hingga saat ini belum ada kelanjutannya,” ujarnya.

“Sering saya diundang memberikan pelatihan sebagai upaya uri-uri caping kalo. Ya, ada yang bisa tapi untuk anyamannya masih kurang, memang butuh proses dengan waktu yang tidak singkat. Saya saja belajar sejak kecil,” ungkapnya.

Pj Bupati Kudus Hasan pun terkesima melihat hasil yang dibuat Mbah Rudipah dan Kamto.

Ia sempat memegang hasil anyaman dari Mbah Rudipah, sangat halus dan rapi.

Menurut Kamto, caping kalo pada zaman dulu dipakai pergi kondangan.

”Caping kalo zaman mbah saya dulu digunakan pergi kondangan. Selain dipakai pergi ke pasar. Memang caping kalo identik dengan bakul atau pedagang. Khususnya penjual ikan lele pasti memakai caping kalo," ujarnya.

"Sekarang ini menjadi barang berharga, karena saya membuatnya juga tidak setiap hari dan harganya juga lumayan mahal kisaran Rp 300 ribu per caping kalo,” lanjutnya.

Melihat pembuatan caping kalo yang butuh kesabaran namun ini harus bisa bertahan.

Pj Bupati Hasan mempunya rencana di masukkan muatan lokal di dunia pendidikan dengan mengundang sang maestronya langsung.

”Ya saya jadi berpikir, Kurikulum Merdeka ini kan fleksibel, siapa tahu bisa dimasukkan muatan lokal, diberikan pelajaran seni pada siswa dan menghadirkan langsung perajinnya," katanya.

"Mungkin ada siswa yang tertarik belajar, kemudian caping kalo ini bisa masuk daftar warisan benda, ini nanti saya bahas bersama Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus,” ungkapnya. (san)

 

Editor : Ali Mustofa
#pj bupati #Hasan Chabibie #caping kalo #muatan lokal #Kudus #pendidikan