Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Etnomatematika Berbasis Budaya Lokal

Ali Mustofa • Rabu, 3 Agustus 2022 | 22:26 WIB
Mutiara Ambarwati, S.Pd.; Guru Matematika SMP NU Al Ma’ruf (Dok Pribadi)
Mutiara Ambarwati, S.Pd.; Guru Matematika SMP NU Al Ma’ruf (Dok Pribadi)
KEMAMPUAN matematika siswa dalam menyelesaikan soal penalaran dan pemecahan masalah masih rendah (hasil studi TIMMS dan PISA, 2012). Hal ini karena pembelajaran yang berlangsung kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk berpikir lebih lanjut. Akibatnya, kekhawatiran akan kurang mampunya siswa dalam menerapkan matematika untuk menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari.

Padahal menurut Vygotsky, kemampuan individu untuk dapat berpikir dan bertindak tergantung pada kemampuan dalam berinteraksi/berkomunikasi dengan kondisi sosial kulturalnya.

Pembelajaran dewasa ini, terasa kurang konstektual dan bersifat semu. Pembelajaran kurang bervariasi, sehingga memengaruhi orang untuk belajar matematika. Terlebih pembelajaran matematika di lembaga pendidikan formal cenderung kaku, formal, dan hanya berbicara mengenai angka. Pembelajaran ini, menjauhkan ilmu pengetahuan, matematika dari realitis, bahkan tercabut dari basis sosial budayanya.

Hal ini terlihat apa yang dipelajari peserta didik di lingkungan pendidikan tidak bisa menemukan relevansi dan konstektualnya ketika dihadapkan pada persoalan sosial, keagamaan, dan kemanusiaan. Untuk itu, pembelajaran matematika di lembaga pendidikan formal sangat perlu menjembatani antara matematika dengan realitas kehidupan sehari-hari yang berbasis kearifan/budaya lokal.

Menurut D’Ambrosio dalam Rachmawati, (2014: 4), secara bahasa ”eth lno” diartikan sebagai sesuatu yang sangat luas yang mengacu pada konteks sosial, budaya, termasuk bahasa, jargon, kode perilaku mitos, dan simbol.

Pembelajaran berbasis etnomatematika atau pembelajaran berbasis budaya sangat tepat untuk diterapkan pada pembelajaran matematika di Indonesia. Mengingat Indonesia merupakan negara yang multikultural. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, yang terdiri atas 17.504 pulau dengan 1.340 suku bangsa dan lebih dari 300 kelompok etnik.

Pembelajaran berbasis etnomatematika merupakan pembelajaran yang bermakna dengan mengimplementasikan serta mengaitkan dengan kebudayaan di Indonesia, sehingga siswa tidak hanya cerdas dalam aspek matematika, tetapi membantu untuk mengenalkan siswa tentang kebudayaan di Indonesia. Juga pentingnya melestarikan budaya, baik budaya bangsa dan budaya lokal yang merupakan warisan bangsa Indonesia. Dengan pembelajaran berbasis etnomatematika, pembelajaran matematika akan lebih konstektual dan dekat dengan kehidupan siswa.

Matematika dan budaya adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari, karena budaya merupakan kesatuan yang utuh dan menyeluruh beraku dalam masyarakat. Sedangkan matematika merupakan pengetahuan yang digunakan manusia dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Namun, terkadang matematika dan budaya dianggap sebagai sesuatu yang terpisah dan tidak berkaitan.

Salah satu yang bisa menjembatani antara budaya dan pendidikan matematika adalah etnomatematika. Secara singkat, etnomatika terdiri dari dua kata, etnis/budaya dan matematika. Pembelajaran matematika dengan etnomatika adalah mengintegrasikan pembelajaran matematika dengan budaya masyarakat. Segala aktivitas matematika mulai dari aktivitas menghitung, menemukan, menggambar, mengukur, merancang, bermain dikembangkan selama proses pembelajaran dengan unsur-unsur budaya yang diarahkan pada penguatan multikulturalisme.

Dengan etnomatematika akan memberikan makna kontekstual yang diperlukan dari sekian banyaknya konsep matematika abstrak. Bentuk aktivitas masyarakat yang bernuansa matematis operasional hitung yang dipraktikkan dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat, seperti cara-cara menjumlah; mengurang; membilang; mengukur; menentukan lokasi; merancang bangunan seperti masjid, rumah, menara, dan berbagai jenis permainan tradisional yang dipraktikan masyarakat secara umum, bahasa yang diucapkan, simbol-simbol tertulis, gambar-gambar, serta benda-benda fisik yang merupakan gagasan matematika mempunyai nilai matematis yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran di lembaga pendidikan formal. (*) Editor : Ali Mustofa
#etnomatematika #budaya lokal #Mutiara Ambarwati #pendidikan