Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Giat Literasi Siswa melalui Perpustakaan Sekolah

Ali Mustofa • Sabtu, 30 Juli 2022 | 02:18 WIB
Eny Setyorini, S.Pd.; Guru SMPN 2 Gebog (Dok Pribadi)
Eny Setyorini, S.Pd.; Guru SMPN 2 Gebog (Dok Pribadi)
MEMBACA merupakan sebuah aktivitas menerima, menganalisis, dan menafsirkan sesuatu. Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Sedangkan keberaksaraan (literasi) adalah kemampuan membaca dan menulis. Mampu membaca artinya mampu memahami bacaan. Sedangkan mampu menulis artinya mampu menghasilkan tulisan.

Kemampuan membaca dan menangkap makna dari lingkungan akan berkait erat dengan nalar sosial yang dipunyai. Ketika masyarakat tak sekadar mengenal, tapi juga memahami kondisi lingkungan alamnya, maka hal tersebut dapat menjadi bekal bagi pembacaan dan/atau pemahaman berkehidupan. Hal ini yang kemudian membangun fondasi budaya literasi. Celakanya, kini budaya literasi makin tergerus oleh dominasi citra dan visual yang menjelma kebudayaan lain.

Keterampilan membaca dalam dunia pendidikan, sangat besar pengaruhnya untuk keterampilan lain. Anak yang gemar membaca, memiliki lebih banyak perbendaharaan kata daripada yang minim baca. Membaca dan menulis memiliki kaitan yang erat. Tak jarang, anak yang kurang lancar membaca, maka kualitas tulisannya pun rendah. Indonesia sebagai negara berkembang, termasuk negara dengan tingkat kesadaran membaca yang rendah. Kemauan untuk belajar berliterasi tumbuh dari dalam diri sendiri. Kemauan menjadikan membaca, menulis, dan memahami informasi sebagai sebuah kebutuhan. Kemauan untuk merdeka berliterasi juga harus didukung oleh fasilitas.

Pada lingkup sekolah, telah disediakan fasilitas yaitu perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah adalah tempat, gedung, serta ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku. Merujuk hal tersebut, perpustakaan bisa menjadi fasilitator. Artinya wadah yang menyediakan segala kebutuhan, terkhusus siswa untuk mencari sumber atau referensi yang tidak didapatkan di kelas.

Siswa yang gemar membaca buku, akan begitu senang ketika mengunjungi perpustakaan. Pada dasarnya, seseorang merasa nyaman, apabila berada di tempat yang membuatnya senang, karena akan mendapat banyak manfaat.

Berdasar pengamatan, rata-rata jumlah kunjungan siswa ke perpustakaan hanya dilakukan ketika hendak meminjam dan mengembalikan buku. Sedangkan persentase peminjam buku untuk kebutuhan membaca hanya sedikit sekali.

Menyoal hal tersebut, budaya literasi yang sangat minim, perlu dikembangkan giat literasi aktif di sekolah melalui perpustakaan sekolah. Minat siswa di sekolah harus didukung pula oleh ketersediaan buku bacaan yang sesuai level, terdapat sudut baca, dan fasilitas lingkungan sekolah. Dalam hal ini yaitu perpustakaan sekolah.

Saat ini, sekolah mengambil kebijakan untuk menggalakkan kegiatan literasi secara rutin. Baik literasi 15 menit sebelum pelajaran dimulai atau dengan menjadwalkan secara terstruktur waktu kunjungan siswa untuk melakukan literasi di perpustakaan.

Guru mapel tertentu juga bisa membantu menggiatkan tingkat literasi siswa dengan cara memberi ruang, agar dapat mencari sumber atau referensi di perpustakaan, diarahkan untuk mencari bahan kliping dan lain-lain. Siswa juga bisa diinstruksikan untuk membuat kelompok baca, agar kegiatan membaca tidak terkesan monoton.

Siswa juga bisa bertukar buku bacaan kepada teman satu kelompoknya. Tiap selesai membaca, siswa meringkas dan menceritakan hasil bacaan menggunakan bahasanya sendiri. Jadi, selain meningkatkan minat baca, bertumbuh juga aspek kebahasaan dan menulis siswa.

Faktor pendukung lain, pengelolaan tata ruang perpustakaan agar didesain dengan pilihan warna yang menarik, terdapat penunjuk arah letak buku, kelengkapan sarana dan prasarana, serta kenyamanan dan keramahan para pustakawan. Sehingga dalam benak siswa, perpustakaan bukan lagi menjadi tempat pelarian, tapi dijadikan sebagai tujuan utama. (*) Editor : Ali Mustofa
#perpustakaan sekolah #literasi siswa #keterampilan membaca #pendidikan #eny setyorini