Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Hikmah di Balik Musibah

Ali Mustofa • Kamis, 14 Juli 2022 | 16:59 WIB
Nursid; Guru SD 2 Jepang Mejobo Kudus (Dok Pribadi)
Nursid; Guru SD 2 Jepang Mejobo Kudus (Dok Pribadi)
SEMUA orang pasti menginginkan badan sehat, kuat dan selamat dari segala musibah. Perasaan itu pasti berada di benak semua orang yang mempunyai jasmani dan rohani yang sehat. Itulah harapan semua manusia yang berfikir secara logis dan tidak berfikir panjang yang penting nafsu yang ada di dalam dirinya dapat terpenuhi.

Namun sebenarnya kalau kita mau berfikir panjang bahwa merasakan enak itu jika orang tersebut pernah mengalami yang tidak enak. Manusia merasa lega dan sangat bersyukur jika sembuh dari sakit atau terhindar dari musibah, karena berapa kali sakit dan penderitaannya ketika kita mendapat musibah.

Manusia akan merasa gembira jika dalam dirinya ada peningkatan baik kualitas atau kamampuan daya tahan tubuhnya. Tetapi jarang manusia yang berfikir seperti halnya ketika kita masih berada di bangkau sekolah, bahwa kita akan naik kelas jika kita lulus dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh guru.

Tidak ada yang naik kelas tanpa adanya tes atau ujian apalagi lulus dari suatu sekolah untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Semua pasti dengan ujian. Di sinilah jika manusia itu mau berfikir bahwa apabila kita ingin naik kelas kita harus menempuh ujian.

Ketika manusia menyadari hal ini pasti tidak berfikir bahwa penderitaan atau sakit yang diderita adalah merupakan azab, akan tetapi itulah ujian yang harus dijalani karena akan naik kelas. Jadi sakit yang dirasakan atau musibah yang diderita adalah merupakan ujian yang harus dijalani. Sehingga dengan ujian tersebut dia akan naik kelas atau naik tingkat.

Setiap mahluk hidup akan sangat dipengaruhi oleh lingkungannya hidupnya (Sudjoko 2008:15).

Allah memberikan ujian kepada manusia karena sayang dan akan dinaikkan derajatnya minimal kadar keimanannya. Di balik ujian yang diberikan oleh Allah pasti ada hikmah yang baik untuk kita, jika mau berfikir panjang dan jauh ke depan.

Apalagi di masa sekarang masa pandemi Covid-19 yang ditakuti semua orang. Ketika ada yang terpapar Covid orang di sekitar banyak yang tidak berani mendekat bahkan menghindar dari orang tersebut. Kekhawatiran itu bukan tidak beralasan akan tetapi mereka takut kalau tertular penyakit tersebut.

Membesarkan hati dan memeberikan penguatan kepada orang yang menderita sakit atau terkena musibah akan memperkuat daya tahan dan keimanan seseorang. Di sinilah fungsi lingkungan bagi orang yang terkena musibah atau orang yang diberi ujian sakit.

Pentingnya pemahaman terhadap semua yang dialami seseorang baik rasa sakit yang diderita atau musibah yang dialami akan meningkatkan rasa syukur kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Ketika manusia mampu bersyukur atas pemberian Allah maka Allah akan menambah nikmat orang tersebut.

Sebenarnya di balik penderitaan yang dialami seseorang ada nikmat atau manfaat yang terbaik. Setelah menerima ujian berupa sakit atau musibah dengan sabar dan tabah pasti Allah akan memberikan kebahagiaan kepada orang tersebut.

Bagi orang bisa mengambil hikmah dari itu, maka mereka merasa ada hikmah yang biak bagi dirinya. Seperti yang dialami oleh penulis beberapa waktu yang lalu masa pandemi. Ketika itu penulis terpapar atau positif terkena Covid-19, maka harus isolasi mandiri selama 10 hari. Ketika masa isolasi penulis tidak merasakan sakit apapun pada dirinya, makan merasa enak, tidur bisa nyenyak tetapi tidak boleh keluar rumah. (*) Editor : Ali Mustofa
#hikmah musibah #tingkatkan keimanan #nursid #penderitaan #pendidikan