Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Permainan Tradisional Engklek Menyenangkan Dan Mendidik

Ali Mustofa • Selasa, 10 Agustus 2021 | 18:36 WIB
Marijan, S.Pd.SD,; Guru SDN 4 Sambongrejo, Kec. Sambong, Blora. (Istimewa For Radar Kudus)
Marijan, S.Pd.SD,; Guru SDN 4 Sambongrejo, Kec. Sambong, Blora. (Istimewa For Radar Kudus)
SEBAGIAN masyarakat mengenal berbagai macam jenis permainan tradisional. Permainan itu diwariskan secara turun temurun kepada anak cucu. Permainan-permainan tradisional itu antara lain gobag sodor, egrang, congklak, ongklak angklik, petak umpet, dan engklek.

Dari permainan-permainan tersebut ada yang menarik penulis untuk mengupasnya yaitu permainan engklek. Kata engklek (bahasa Jawa) berarti melompat-lompat menggunakan satu kaki. Permainan engklek ini bisa dimainkan dua orang atau lebih. Kalau pemainnya lebih dari dua orang maka harus mencari pasangan dulu kemudian tiap pasangan tersebut melakukan suit untuk menentukan kelompok. Sebelum memulai bermain engklek harus membuat tempat bermain berupa kotak-kotak di halaman. Dan jenis kotaknya adalah berbentuk persegi panjang sejumlah sepuluh kotak dengan posisi berhimpitan kiri dan kanan masing-masing lima. Kemudian alatnya yaitu gacu yang terbuat dari batu pipih, pecahan genting atau pecahan keramik.

Cara bermainnya yaitu semua gacu pemain ditaruh di kotak pertama. Permainan dimulai dari kelompok yang menang suit terlebih dahulu. Secara bergantian pemain mulai engklek mulai kotak pertama kemudian mendorong gacunya masing masing menggunakan ujung kaki menuju ke kotak dua, tiga, empat, dan lima.  Dari kotak lima dibelokkan menuju kotak enam. Sampai di  kotak enam pemain tidak boleh engklek lagi tapi justru harus Byok (mendaratkan kedua kakinya di tanah). Kalau dikotak enam masih engklek maka dianggap mati.  Dari kotak enam gacunya diambil menggunakan tangan, kemudian dilempar ke kotak tujuh untuk didorong (saruk) menggunakan ujung kaki menuju kotak tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, dan akhirnya didorong keluar kotak. Pemain yang mampu mendorong gacunya dengan kaki dari kotak satu sampai kotak sepuluh dan kaki tidak menyentuh garis serta gacunya tidak bersinggungan dengan garis maka tahapan itu selesai. Kemudian lanjut ke tahap berikutnya yaitu melempar gacu ke kotak dua dan mendorongnya sampai keluar dari kotak sepuluh. Begitu seterusnya melempar ke kotak tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, dan sepuluh. Permainan dinyatakan mati jika pemain menginjak garis, gacunya keluar dari kotak, atau gacu berhenti di garis. Jika semua anggota sudah mati maka permainan berganti ke lawan.

Tahapan terakhir membuat sawah. Yaitu melempar gacu dengan posisi membelakangi kotak, dengan terlebih dahulu  melakukan engklek melewati semua kotak sambil menaruh gacu di atas punggung telapak tangan. Saat gacu dilempar tidak menyentuh garis dan berada dalam kotak maka sawahnya berhasil. Khusus kotak nomor enam adalah kotak terakhir yang boleh dijadikan sawah. Dan regu yang bisa membuat sawah di kotak nomor enam adalah pemenang permainan.

Permainan engklek sangat menyenangkan sekaligus menjadi media untuk mendidik anak-anak. Adapun manfaat dari permainan engklek bagi anak antara lain pertama, anak akan terbiasa jujur dan menaati peraturan seperti yang telah dilakukan saat bermain engklek bersama teman-temannya. Kedua, anak akan terlatih untuk bersosialisasi dan menjalin kerja sama dengan orang lain. Ketiga, kecerdasan logika anak akan terbentuk karena saat anak bermain harus mempunyai perhitungan yang matang saat mendorong gacu pada setiap kotaknya sampai keluar dari kotak nomor sepuluh. Keempat, fisik anak menjadi kuat karena sudah terlatih saat engklek selama memainkan permainan tersebut. Editor : Ali Mustofa
#permainan tradisional #marijan #pendidikan