Dalam berinteraksi di masyarakat, seseorang perlu berkomunikasi dengan orang lain dengan memperhatikan aturan-aturan umum yang telah disepakati pada masyarakat. Sedangkan penerapannya, disesuaikan dengan kondisi yang berlaku. Hal ini perlu menerapkan tata krama pergaulan dapat berupa tata krama berkenalan, tata krama bertamu, dan tata krama berbicara dan lain-lain.
Manfaat penerapan tata krama di masyarakat, di antaranya menciptakan kehidupan yang damai, mempererat jalinan kerukunan yang telah terbentuk, memperkecil timbulnya konflik di masyarakat, dan mempermudah komunikasi atau pergaulan di masyarakat.
Tata krama menjadi pegangan bagi anak dalam kehidupan sehari-hari dalam berinteraksi dengan teman sebayanya, orang yang lebih muda, maupun yang lebih dewasa/lebih tua. Banyak tata krama yang perlu diajarkan orang tua kepada anak-anaknya, agar mereka menjadi pribadi yang beretika, memiliki sikap yang sederhana dalam kehidupan, serta disenangi orang lain di sekitarnya. Seorang anak yang mempunyai tata krama tentu membuat nyaman orang lain yang bersamanya, sehingga menimbulkan kesan baik terhadap sang anak.
Pandemi Covid-19 sudah berlangsung lebih dari 15 bulan. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga negara-negara yang lain mengalami hal yang sama. Seperti yang kita ketahui, pandemi tersebut kali pertama teridentifikasi di Kota Wuhan, Tiongkok, pada Desember 2019. Pandemi telah mengakibatkan gangguan global, sosial, ekonomi, dan tak luput pula pendidikan. Hal ini juga berdampak pada proses pembelajaran di bidang pendidikan.
Keadaan saat ini sangat berbeda dengan keadaan sebelum pandemi. Semua serba terbatas karena protokol kesehatan (prokes) harus dijaga dan diperhatikan. Semua warga sekolah pun wajib mematuhi protokol kesehatan dengan menerapkan tata krama di sekolah ketika pandemi tetap dilaksanakan walaupun belum maksimal.
Jika ada siswa yang belum menerapkan tata karma, guru akan langsung menegur atau mengingatkan walaupun hal iyu tidak dilakukan secara tatap muka. Namun dapat dilakukan ketika berkomunikasi lewat gawai. Semua itu dengan tujuan agar pandemi segera berakhir, sehingga dapat kembali normal.
Dari uraian di atas, mengajarkan tata krama sangat penting bagi anak usia sekolah. Setelah diterapkan tata krama di rumah, akan dikuatkan dan dilengkapi di sekolah. Dengan adanya pendidikan tata krama seperti bimbingan konseling, mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) dan budi pekerti, bahkan di setiap mata pelajaran juga diselipkan hal-hal yang berkaitan dengan tata karma, seperti tanggung jawab, disiplin, tidak mudah menyerah, dan religius, sehingga diharapkan mampu memperkuat tata krama pada anak.
Pendidikan tata krama pada masa pandemi sekarang ini, diharapkan mampu menjadi rem bagi anak-anak terhadap pengaruh westernisasi atau hal kebarat-baratan. Selain itu, diharapkan dengan ditanamkan tata krama pada anak-anak dapat mengurangi dampak negatif dari pesatnya perkembangan teknologi. Juga pengaruh berbagai budaya dari negara lain yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. (*) Editor : Ali Mustofa