Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kelebihan dan Kekurangan Sistem PJJ

Ali Mustofa • Kamis, 8 Juli 2021 | 13:10 WIB
Hermawan Arif Rohmanto, S.Pd.; Guru SD 3 Kalirejo, Undaan, Kudus. (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)
Hermawan Arif Rohmanto, S.Pd.; Guru SD 3 Kalirejo, Undaan, Kudus. (ISTIMEWA FOR RADAR KUDUS)
SUDAH lebih dari setahun pandemi Covid-19 melanda penduduk dunia. Untuk menahan laju penyebaran virus ini, pemerintah Indonesia telah menerapkan berbagai kebijakan. Salah satunya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang dilaksanakan di berbagai daerah. Akibat dari penerapan kebijakan ini, beberapa sektor terdampak. Tidak terkecuali sektor pendidikan.

Berbagai elemen pendidikan berusaha semaksimal mungkin ,agar pendidikan bisa berjalan dengan baik di masa pandemi. Salah satu kebijakan pemerintah untuk memaksimalkan kegiatan pembelajaran di masa pandemi Covid-19, dengan menerapkan pendidikan jarak jauh (PJJ) walaupun menggunakan sistem yang berbeda.

Berdasarkan Undang-Undang Perguruan Tinggi Nomor 12 Tahun 2012 Pasal 31 tentang PJJ menjelaskan, PJJ  merupakan proses belajar-mengajar yang dilakukan jarak jauh melalui penggunaan berbagai media komunikasi. PJJ diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

Menurut Dogmen, ciri-ciri PJJ adalah adanya organisasi yang mengatur cara belajar mandiri, materi pembelajaran disampaikan melalui media, dan tidak ada kontak langsung antara pengajar dengan pembelajar (Aristorahadi, 2008)Menurut mereka, karakteristik pembelajaran jarak jauh adalah pembelajar dan pengajar bekerja secara terpisah, dipersatukan melalui korespondensi, serta adanya interaksi antara pembelajar dan pengajar.

Pelaksanaan PJJ sendiri di pendidikan dasar sepertinya jarang dilakukan, karena masih menggunakan pembelajaran tatap muka atau siswa dan guru bertemu langsung. Dengan adanya pandemi, kegiatan pembelajaran secara langsung diganti dengan belajar dari rumah atau melakukan PJJ, agar penyebaran Covid-19 bisa dicegah.

Pemerintah berharap, penerapan PJJ menjadi solusi yang efektif pada masa pandemi. Apalagi melihat kasus Covid-19 di Indonesia masih tinggi, banyak institusi pendidikan yang menerapkan sistem ini. Namun dalam penerapannya selama setahun ini di sekolah kami, ternyata memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihannya antara lain, kegiatan pembelajaran bisa diakses dengan mudah, karena dilakukan daring menggunakan smartphone (gawai). Dengan begitu, siswa dapat mencari berbagai sumber dan materi pelajaran dengan mengunjungi website dan video di Youtube. Siswa juga bisa menggunakan gawai untuk melaksanakan pembelajaran daring cukup dari rumah.

Selain memiliki kelebihan, penerapan PJJ juga memiliki kekurangan. Meliputi, tidak semua siswa memiliki gawai yang membuat kegiatan PJJ tak maksimal. Siswa harus meminjam gawai entah milik orang tua atau teman untuk sekadar membuka materi dan tugas dari guru. Akibatnya, tidak semua materi pelajaran dari guru dapat terserap sepenuhnya. Ini bisa menyebabkan nilai prestasi siswa menurun.

Meski memiliki kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaan, tetapi pendidikan harus tetap dijalankan demi mencerdaskan generasi bangsa. Berbagai inovasi diharapkan bisa meminimalisasi kekurangan dari PJJ. Sebagai elemen masyarakat, kita juga sebaiknya tetap mendukung dan berharap pandemi segera berakhir, agar pendidikan dapat berlangsung secara normal lagi. (*) Editor : Ali Mustofa
#hermawan arif rohmanto #sistem ppj #pendidikan #pembelajaran