Kesulitan tersebut menulis huruf Jawa dan harus berbahasa dengan tingkatan krama inggil. Padahal siswa sekarang jarang sekali menggunakan bahasa krama inggil. Bahkan tidak pernah menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari khususnya di lingkungan keluarga. Sebagai bahasa ibu yang sebagian besar sudah tegeser dengan bahasa Indonesia siswa kesulitan membedakan bahasa krama lugu dengan krama alus atau krama inggil atau krama alus.
Siswa sekarang kesulitan menghafal dan mengenali kosa kata yang mana termasuk krama lugu atau krama alus. Karena sudah menjadi kebiasaan dalam sehari-hari berdialog dengan orang tua menggunakan bahasa ngoko. Hal ini sesuai dengan penelitian dari Santi Windiarti yang berjudul Kendala-kendala Menggunakan bahasa krama di SMP Negeri Malang.
Santi Windiarti (2013) menjelaskan bahwa; pertama, siswa kurang mampu dalam berbahasa Jawa utamanya bahasa krama inggil. Siswa sering merasa kesulitan pada saat menghafalkan kosa kata mana yang termasuk inggil dan mana yang termasuk krama lugu. Kedua, siswa kesulitan dalam membedakan penulisan sehingga mempengaruhi pelafalan dan berakibat salah arti. Ketiga, siswa kesulitan dalam membedakan dalam ucapan yang benar bacaannya. Misal..kondur dengan kondhur atau tindak tindhak.
Keadaan sekarang dengan adanya pandemi Covid-19 membuat belajar di sekolah dilakukan dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ). Semula guru mengajar dengan tatap muka dan langsung berhadapan dengan siswa. Sekarang orang tua harus lebih memperhatikan pendidikan anak-anaknya dan guru melaksanakan pembelajaran dalam jaringan (daring).
Hal tersebut menjadikan guru harus inovatif dalam mengajar siswa. Namun, siswa seolah kebanjiran tugas dari semua guru. Pembelajaran tersebut secara tidak langsung menambah beban guru dan siswa untuk mempelajari hal-hal yang dianggap sulit termasuk pembelajaran KD berbahasa krama. Untuk itulah diperlukan pembelajaran yang menyenangkan dan inovatif yang salah satunya dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran dialok dengan orang yang dianggap tua sehingga bisa menerapkan bahasa krama inggil dengan benar..
Motode dialok dapat dilakukan dengan orang tua bapak, ibu, atau orang yang dituakan. Sehingga dapat menerapkan kasa kata krama dan ngoko. Langkah langkahnya yaitu siswa ditugasi untuk membuat dialok dengan ibu, bapak, kemudian dikumpulkan lewat kumpulan tugas menggunakan aplikasi teams. Dikoreksi guru kemudian diberikan umpan balik. Ternyata banyak anak yang kemudian menanyakan apa bahasa yang benar. Tahap kedua adalah guru memberikan contoh kosa kata yang dianggap sulit. Kemudian guru memberikan tugas dan latihan lagi untuk menyusun pacelathon lagi dengan bantuan orang tua. Setiap siswa menuliskan minimal 10 percakapan yang tersusun dengan orang tua. Juga minimal 10 percakapan yang mengggunakan bahasa krama. Sehingga siswa dapat membedakan hasilnya.
Dengan demikian, siswa merasa bahwa belajar berbahasa Jawa krama inggil itu mudah. Selanjutnya siswa bisa mengembangkan bahasa di rumah dengan menggunakan kebiasaan berhahasa krama dengan orang tua di rumah. Karena bahasa jawa adalah bahasa ibu yang sejak kecil sudah dikenalkan dan kita harus bangga mempunyai bahasa yang banyak tingkatanya dengan tidak berasumsi bahasa yang rumit namun bahasa yang indah dan menyenangkan untuk membedakan jenjang lawan bicara. Sehingga bisa untuk dikembangkan dan diterapkan dilingkungan sekolah SMP Negeri 1 Kaliori. (*) Editor : Ali Mustofa