PATI – Waduk Seloromo di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, mengalami penyusutan debit air secara drastis akibat musim kemarau.
Volume air yang tersisa kini diperkirakan hanya 200.000 meter kubik dari kapasitas maksimal waduk yang mencapai 9,5 juta meter kubik. Jumlah tersebut kurang dari 3 persen dari kapasitas tampung normal.
Kondisi ini membuat pengelola terpaksa menghentikan penyaluran air untuk kebutuhan irigasi pertanian sejak 6 Oktober 2026.
Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga kondisi tanggul waduk agar tidak mengalami kerusakan akibat volume air yang terlalu rendah.
Berdasarkan pantauan di lokasi, permukaan air Waduk Seloromo telah menyusut hingga memperlihatkan bagian dasar waduk.
Area yang sebelumnya terendam air kini berubah menjadi hamparan tanah kering dan tandus, bahkan terlihat retakan di sejumlah bagian.
Operator Waduk Seloromo Gembong, Susanto, menjelaskan bahwa kondisi waduk saat ini cukup memprihatinkan.
Volume air yang tersisa hanya sekitar 200.000 meter kubik, jauh di bawah kapasitas maksimal yang mencapai 9.500.000 meter kubik.
Ia menyebutkan, penggelontoran air terakhir untuk kebutuhan pertanian dilakukan pada 6 Oktober 2026. Setelah itu, penyaluran air dihentikan karena persediaan air terus menyusut.
“Volume Waduk Gembong saat ini tinggal 200.000 meter kubik dari kapasitas 9.500.000 meter kubik. Penggelontoran terakhir dilakukan pada 6 Oktober kemarin,” jelas Susanto, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, penghentian penyaluran air menjadi langkah yang harus diambil untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap kondisi fisik waduk, terutama bagian tanggul.
Secara teknis, Waduk Seloromo perlu mempertahankan volume air minimal 500.000 meter kubik untuk membantu menjaga kelembapan tanggul. Namun, volume air saat ini telah turun jauh di bawah batas tersebut.
Susanto menerangkan, sebelumnya terdapat permintaan dari petani agar air waduk tetap dialirkan untuk membantu mengairi tanaman padi yang mendekati masa panen.
Permintaan tersebut muncul di tengah kondisi persediaan air yang semakin terbatas.
“Kemarin ada permintaan dari petani untuk mengairi padi supaya bisa dipanen,” ujarnya.
Meski kebutuhan air pertanian menjadi perhatian, pengelola harus mempertimbangkan keselamatan infrastruktur waduk.
Apabila volume air terus menurun, kondisi tanggul dikhawatirkan semakin rentan dan berpotensi mengalami kerusakan.
Penghentian penggelontoran air Waduk Seloromo berdampak pada wilayah pertanian di lima kecamatan yang selama ini mengandalkan pasokan air dari waduk tersebut.
Kelima kecamatan itu meliputi Gembong, Margorejo, Pati, Tlogowungu, dan Wedarijaksa.
Para petani di wilayah tersebut harus menghadapi keterbatasan pasokan air, terutama apabila curah hujan belum kembali meningkat.
Jika hujan tidak segera turun, volume air waduk diperkirakan masih akan terus menyusut.
Kondisi tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap kebutuhan irigasi, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketahanan struktur waduk selama musim kemarau.
Susanto mengatakan, penyusutan air hingga kondisi seperti sekarang bukan kali pertama dialami Waduk Seloromo.
Peristiwa serupa pernah terjadi sekitar 2002, bahkan kondisi yang lebih parah juga tercatat pada akhir 2012.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa musim kemarau berkepanjangan dapat memberikan tekanan besar terhadap ketersediaan air waduk dan kebutuhan pertanian di wilayah sekitarnya.
Dengan kondisi volume air yang tersisa saat ini, perkembangan cuaca dan turunnya hujan menjadi faktor penting untuk membantu memulihkan persediaan air.
Sementara itu, penghentian penggelontoran dilakukan agar kondisi Waduk Seloromo tetap terjaga di tengah ancaman kekeringan. (adr)
Editor : Ali Mustofa