PATI - Keamanan kawasan relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Alun-Alun Kembangjoyo, Kabupaten Pati, kembali menjadi perhatian setelah terjadi pencurian pada Selasa (6/10) dini hari.
Para pedagang menilai sistem pengamanan di kawasan tersebut masih belum memadai.
Pencurian kali ini menimpa usaha penyewaan mainan anak milik Ketua Paguyuban PKL Alun-Alun Kembangjoyo, Thukul.
Dua mainan anak, masing-masing sebuah mobil aki mini dan motor trail mini, diketahui hilang dari lokasi penyimpanan.
Thukul menduga aksi pencurian terjadi menjelang subuh saat kawasan Kembangjoyo dalam kondisi sepi.
Keadaan diperparah dengan padamnya lampu akibat pemadaman listrik sehingga area tersebut menjadi gelap.
Ia baru menyadari barang-barang miliknya hilang pada Selasa sore ketika hendak kembali menjalankan aktivitas usaha.
Sesampainya di tempat penyimpanan, ia mendapati terpal yang sebelumnya digunakan untuk menutup mainan sudah dalam kondisi berantakan.
"Awalnya saya tahu sore hari kemarin pas saya mulai beraktivitas. Ternyata tempatnya sudah amburadul seperti ini," ujar Thukul.
Dua mainan yang dibawa pelaku masih tergolong baru. Keduanya bahkan belum genap empat bulan dibeli untuk menunjang usaha penyewaan mainan anak di kawasan Kembangjoyo.
Mobil aki mini berwarna biru muda dan motor trail mini berwarna hijau tersebut diperkirakan memiliki nilai total sekitar Rp8,9 juta.
Dari informasi yang diterimanya, Thukul menduga pelaku menggunakan kendaraan pikap untuk membawa kedua mainan tersebut keluar dari kawasan relokasi.
Sebuah kendaraan pikap disebut masuk ke kawasan Kembangjoyo sekitar pukul 04.00 WIB, ketika kondisi lingkungan masih gelap dan mendekati waktu subuh.
Seorang rekannya yang berada di sekitar lokasi bahkan mengaku sempat melihat kendaraan tersebut masuk saat kawasan masih minim penerangan.
"Pas Selasa fajar itu keadaan gelap karena ada pemadaman listrik. Rekan yang sempat tidur di sekitar sini bilang ada mobil pikap masuk sekitar mau Subuh. Aksi pencurian ini tidak mungkin kalau tidak pakai mobil, sebab ukuran barang yang dicuri besar dan berat," jelasnya.
Bagi Thukul, kejadian tersebut bukan pengalaman pertama kehilangan barang di kawasan Kembangjoyo.
Sekitar setahun sebelumnya, seperangkat mesin sound system miliknya juga pernah dicuri. Kerugian saat itu ditaksir mencapai Rp5 juta.
Jika sebelumnya memilih tidak melaporkan kejadian tersebut, kali ini Thukul mengambil langkah berbeda. Ia memutuskan membawa kasus pencurian dua mainan tersebut ke kepolisian.
"Kalau dulu saya diam, tidak lapor. Tapi kalau yang ini saya laporkan karena sudah keterlaluan. Saya sengaja membiarkan kondisi lokasi yang berantakan ini karena masih menunggu proses olah TKP dari Polsek Pati Kota," tegasnya.
Menurut Thukul, persoalan keamanan tidak hanya dialaminya. Sejumlah pedagang lain di kawasan relokasi tersebut juga disebut pernah mengalami pembobolan.
Barang yang menjadi sasaran pencurian beragam, mulai dari pakaian, aksesori, jam tangan hingga perlengkapan usaha milik pedagang.
Kondisi itu membuat para PKL semakin khawatir, terutama ketika kawasan ditinggalkan pada malam hingga dini hari.
Kekhawatiran tersebut muncul di tengah kondisi aktivitas perdagangan di Kembangjoyo yang menurut pedagang belum seramai yang diharapkan.
Usaha penyewaan mobil aki dan motor trail mini milik Thukul, misalnya, memasang tarif Rp10.000 untuk durasi tujuh menit.
Namun, jumlah penyewa disebut semakin berkurang sehingga kondisi usaha masih belum sepenuhnya pulih.
Thukul mempertanyakan komitmen Pemerintah Kabupaten Pati dalam memberikan fasilitas keamanan di lokasi relokasi PKL Kembangjoyo.
Menurutnya, para pedagang telah berupaya mengikuti kebijakan pemerintah dengan bersedia dipindahkan dari kawasan sebelumnya ke lokasi relokasi tersebut.
Karena itu, ia berharap fasilitas pendukung yang dijanjikan, termasuk aspek keamanan, benar-benar diwujudkan.
"Kami ini PKL yang taat aturan, mau direlokasi. Tapi janji fasilitas dan keamanan dari pemerintah daerah mana? Kalau malam sampai fajar tidak ada yang menjaga kawasan ini," ungkapnya.
Ia meminta Pemkab Pati segera mengambil langkah nyata untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
Salah satu usulan yang disampaikan adalah menempatkan personel Satpol PP secara bergiliran untuk menjaga kawasan Kembangjoyo pada malam hingga dini hari.
Selain penjagaan langsung, pemerintah juga dinilai dapat memberikan dukungan anggaran atau subsidi honor bagi petugas keamanan khusus yang bertugas di kawasan tersebut.
Thukul berharap persoalan keamanan dan penataan kawasan relokasi tidak kembali diabaikan.
Menurutnya, keberadaan sistem keamanan yang memadai penting untuk memberikan rasa aman kepada pedagang sekaligus menjaga keberlangsungan usaha mereka.
Ia bahkan menyebut para pedagang dapat mempertimbangkan kembali berjualan di kawasan Alun-Alun Simpang Lima Pati apabila persoalan keamanan dan penataan di Kembangjoyo tidak segera mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
"Kalau persoalan keamanan dan penataan ini tidak segera direspons, kami bisa saja mempertimbangkan untuk kembali berjualan di Alun-Alun Simpang Lima," pungkasnya. (adr)
Editor : Ali Mustofa