Hasil Sampel Susu MBG Belum di Pati, Tim Masih Selidiki Produk

Faidhil Falah • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 17:20 WIB
DITUNJUKKAN: Ibu-ibu menggunting kemasan susu dari MBG di SDN Maitan 1 Tambakromo pada Kamis (17/9). (TANGKAPAN LAYAR MEDSOS)
DITUNJUKKAN: Ibu-ibu menggunting kemasan susu dari MBG di SDN Maitan 1 Tambakromo pada Kamis (17/9). (TANGKAPAN LAYAR MEDSOS)

 PATI — Pemerintah Kabupaten Pati masih mendalami keluhan kesehatan yang dialami oleh sejumlah siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Maitan 01, Tambakromo.

Sebanyak 17 murid dilaporkan mengalami mual-mual setelah mengonsumsi susu yang berasal dari paket program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati langsung menerjunkan tim tenaga kesehatan dari Puskesmas Tambakromo ke lapangan. 

Langkah taktis ini diambil guna melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) mendalam untuk mengetahui akar permasalahan secara akurat. 

Tim surveilan bahkan mendatangi langsung kediaman masing-masing siswa yang terdampak.

Ini guna memantau perkembangan kondisi fisik mereka pasca-kejadian.

Kepala Dinkes Pati, Luky Pratugas Narimo, menjelaskan bahwa proses penyelidikan di lapangan masih berjalan dan dilakukan secara hati-hati sesuai dengan kaidah kesehatan yang berlaku.

Petugas juga telah mengambil sampel produk dari bank sampel untuk dianalisis lebih lanjut.

Durasi penyelidikan ini bersifat fleksibel dan akan terus berlangsung sampai seluruh data serta informasi yang dibutuhkan benar-benar valid dan mencukupi.

 

“PE masih berlangsung oleh tim surveilan. Jadi belum bisa kami update,” terangnya. 

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, turut membenarkan adanya laporan terkait belasan anak yang mengeluh mual usai menyantap menu MBG dari pasokan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Keben. 

Pemerintah daerah langsung berkoordinasi dengan instansi terkait agar penanganan medis dapat berjalan optimal tanpa ada pihak yang dirugikan.

Sebagai langkah awal investigasi penyebab, Pemkab Pati telah memeriksa fisik kemasan produk susu yang dibagikan kepada para siswa.

Berdasarkan keterangan pada label kemasan, produk tersebut tercatat memiliki masa kedaluwarsa yang masih sangat panjang, yakni hingga Juni 2027. 

Meskipun demikian, pemerintah tidak mau berspekulasi dan tetap membuka peluang adanya faktor eksternal lain.

Salah satu dugaan yang turut didalami adalah potensi kerusakan atau keretakan mikro pada kemasan selama proses pengiriman yang dikhawatirkan dapat memengaruhi kualitas mutu isi susu di dalamnya.

Hingga saat ini, Pemkab Pati memilih untuk bersikap hati-hati dan menunggu hasil resmi dari Penyelidikan Epidemiologi komprehensif yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan. 

Hasil investigasi tersebut nantinya akan menjadi acuan utama bagi pemerintah daerah untuk mengambil langkah-langkah strategis serta evaluasi menyeluruh terhadap skema distribusi program Makan Bergizi Gratis di masa mendatang. (adr)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Ali Mustofa
Mbg pati